Sejak lulus dari jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2011, rangkaian pengalaman mengajar dan mendidik telah penulis lewati. Diantaranya guru SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) tahun 2011-2012 di Biak Numfor Papua, guru pemantapan kemampuan mengajar di SMA Negeri 1 Sungguminasa tahun 2013, guru comonity learning center SMP terbuka Indonesia Sabah-Malasysia tahun 2014-2017, serta guru SMP-SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Makassar.

Rangkaian pengalaman di atas telah memberi pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi kehidupan baru. Seperti  halnya ketika menjadi pendidik di daerah 3T, baik di Papua maupun di Sabah-Malasysia, berbagai situasi tidak nyaman menjadi sahabat setia. Mulai kondisi jauh dari keluarga, mengajar multi mata pelajaran, tidak ada listrik, jauh dari pusat kota, tinggal di rumah sederhana yang serba terbatas, bertetangga dengan masyarakat yang memiliki hewan peliharaan (Anjing dan Babi) yang berseliweran dengan aroma khas yang menyengat hidung. Itulah sekelumit kehangatan baru sebelum virus Corona hadir di permukaan bumi ini.

Kini dalam masa pandemi, kembali satuan pendidikan baik negeri maupun swasta diperhadapkan dengan pola baru dalam memberi layanan pendidikan ke peserta didik. Hal ini tidak terlepas dari dampak pandemi corona yang diprediksi masih akan berlangsung lama. Bahkan sejumlah pakar menduga virus Covid 19 (SARS-Cov-2 ) akan terus ada di tengah-tengah kita.

Maka sudah menjadi keharusan bagi peserta didik, pendidik, tenaga pendidikan untuk mengutaman kesehatan dan keselamatan sebagai prioritas utama di setiap satuan pendidikan. Tahun ajaran baru 2020/2021 yang telah dimulai di bulan Juli 2020 telah memaksa semua satuan pendidikan untuk membuat pola dan metode Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berbeda dengan tahun sebelumnya demi untuk mencegah penyebaran virus Corona.

MPLS yang merupakan kegiatan pertama masuk sekolah untuk pengenalan program, sarana prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri dan pembinaan awal kultur sekolah. MPLS tahun ini dilaksanakan tanpa mengumpulkan siswa secara fisik. Semua agenda MPLS dilakukan secara virtual. Namun walau dilakukan secara virtual kegiatan MPLS harus menjadi sarana penguatan pendidikan karakter yang edukatif, kreatif, dan menyenangkan.

Untuk meendukung penguatan karakter yang edukatif, keratif dan menyenangkan dalam kegiatan MPLS virtual di tengah pandemi, maka perlu ada sinergitas orang tua peserta didik. Orang tua hendaknya memberikan fasilitas yang mudah dan nyaman bagi anak dalam mengikuti MPLS jarak jauh, seperti mengalokasikan keuangan untuk kouta internet.

MPLS virtual akan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik baru, seperti penerimaan materi yang fokus pada kecakapan hidup dan penguatan karakter. Oleh karena itu dalam MPLS virtual satuan pendidikan perlu terus mengedepankan pola interaksi dan komonikasi yang positif antara guru dan orang tua/wali siswa.

Bentuk sinergitas lain dari orang tua dalam pembelajaran di tengah pandemi saat ini adalah mengawasi dan mengingatkan setiap anak di rumah secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk pembentukan kebiasaan baru, manjaga imun dengan komsumsi makanan bergizi dan berolahraga secara teratur. Yang  terpenting menjaga iman di setiap keadaan sebagai bahagian dari pendidikan ruhiyah (rohani).

Pendidikan ruhiyah pada MPLS virtual menjadi hal terpenting pada sinergitas sekolah dan orang tua di rumah untuk membangun karakter keperibadian peserta didik di rumah dalam menggapai prestasi di sekolah. Sinergitas sekolah dan orang tua di rumah juga akan melahirkan keterpercayaan, perhatian dan ketanggapan dari setiap proses MPLS dan pembelajaran virtual yang akan dilalui bersama selama pandemic covid 19. []

Penulis: Muh.Ilyas (Guru SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here