Diantara manusia ada orang-orang yang apabila datang kepada mereka kenikmatan, mereka akan merasa amat bahagia. Akan tetapi, jika kenikmatan itu berubah menjadi musibah, kegembiraan itu berubah menjadi rasa marah, sedih dan kecewa yang bercampur dalam satu perasaan, hingga mereka berkata: “Allah tidak adil.”

Sungguh seseorang yang benar-benar memahami bahwa kehidupan dunia ini merupakan tempat ujian, ia tak akan teramat sedih, marah dan kecewa pada Rabbnya akan musibah yang menimpanya hingga berkata dengan perkataan kufur seperti itu. Justru musibah itulah yang membuat ia semakin dekat pada Rabbnya.

Ia mengetahui bahwa Allah itu Maha Adil, keburukan tak pernah dinisbatkan pada-Nya. Karena itu seorang yang arif dan bijak mengetahui bahwa musibah itu adalah kebaikan baginya, akhirnya ia tak akan merasa teramat sedih hingga mencela Rabbnya.

Inilah Ibnu al-Qayyim rahimahullah, seorang ulama karismatik yang melegenda, ia patut untuk menjadi panutan. Ia pernah berkata:

ولهذا وضع الله المصائب والبلايا والمحن رحمة بين عباده يكفر بها من خطاياهم فهي من أعظم نعمه عليهم وإن كرهتها أنفسهم، ولا يدري العبد أي نعمتين عليه أعظم : نعمة عليه فيما يكره أو نعمة عليه فيما يحبه؟ وما يصيب المؤمن من هم ولا وصب ولا أذى حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه، وإذا كان للذنوب عقوبات -ولا بد- فكل ما عوقب به العبد من ذلك قبل الموت خير له مما بعده وأيسر وأسهل بكثير

“Oleh karena itu, Allah menjadikan musibah dan cobaan sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya. Dengan musibah dan cobaan itu, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, hal ini merupakan diantara nikmat yang paling besar terhadap diri mereka, walau jiwa mereka tidak menyukainya.

Namun hamba itu tidak mengetahui, nikmat manakah baginya yang lebih besar, nikmat yang ia benci atau nikmat yang ia suka.

Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim, baik itu rasa sedih, rasa sakit, gangguan, bahkan duri yang menusuk kakinya, kecuali dengannya Allah akan menghapuskan kesalahannya.

Dan jika saja dosa-dosa itu memiliki hukuman-hukuman -dan itu suatu keharusan-, maka setiap hukuman yang ia dapatkan karenanya sebelum meninggal dunia akan menjadikan urusannya terasa mudah setelahnya (pada hari kiamat) bahkan dengan amat sangat-sangat lebih mudah. (Miftaah Dari as-Sa’adah: 395)

Ya, inilah bentuk keadilan yang amat luar biasa. Kadang orang terlalu membenci musibah yang menimpa dirinya, seolah tak ada kebaikan padanya. Padahal melalui musibah itu, Allah menghapuskan dosa-dosanya, yang dengannya urusan-urusannya di hari yang amat menegangkan itu akan menjadi sangat mudah.

Ya, pada hari ketika seseorang tidak memperdulikan lagi ibu bapaknya, kakak adiknya bahkan anak-anaknya, semua akan mementingkan dirinya sendiri. Namun, dengan musibah di dunia ini, Allah membukakan jalan yang akan memudahkan urusannya baginya pada hari itu. Nikmat mana lagi yang lebih besar dari ini?

Bersabarlah

الصبر مثل اسمه مر مذاقه لكن عواقبه أحلى من العسل

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya
Namun balasannya ia mengalahkan manisnya madu.

Tersenyumlah…

Oleh Ustadz Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Artikulli paraprakIni Fakta Yang Mengherankan DR. Zakir Naik Di Indonesia
Artikulli tjetërSMS “Sekolah Menggapai Sakinah” ( bekal para jomblo, dan panduan bagi keluarga)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini