Kaum Ektsrimis dan Perang Pemikiran
(Al Fikrah No.06 Tahun VIII/4 Rabi’ul Awal 1428 H)

Kaum Zionis Internasional telah menyalakan perang tanpa kasih sayang untuk memerangi para pemilik jalan yang lurus, jalan para ulama, para juru dakwah dan para penuntut ilmu. Dengan senjata tertenteng, mereka memberi cap; "Kaum ekstrimis!"

Sungguh, kaum ekstrimis sudah banyak kita temukan dan berkeliaran di lapangan. Tetapi bukan seperti yang diinginkan Israel dan antek-anteknya, dan bukan pula seperti penyebaran yang mereka inginkan.
   
Sesungguhnya, semenjak pertama kali Islam datang, kaum ekstrimis ini sudah ditemukan, yaitu ketika kaum Khawarij berdiri menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini adalah ekstrimisme. Tetapi kalau kebangkitan Islam dan kembali kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dijadikan dan dikatakan sebagai ekstrim, maka ini sangat tidak benar.
   
Coba kita tanyakan kepada musuh-musuh Islam itu, apakah yang dimaksud dengan ekstrim itu? Memelihara shalat secara  berjamaah dikatakan ekstrim? Membaca dan menghapal Al Qur’an dikatakan ekstrim? Menghindari musik dan nyanyian murahan dikatakan ekstrim? Berdakwah, memahamkan, dan mengajari manusia adalah ekstrim? Membiarkan jenggot tumbuh, pakaian di atas mata kaki adalah ekstrim? Memakai busana muslimah yang sesuai tuntutan syar’i adalah ekstrim? Demi Allah, sama sekali tidak ekstrim. Akan tetapi ini adalah perbuatan musuh-musuh Islam yang senantiasa mengintai kita dari berbagai celah. Mereka hendak memalingkan kita dari agama kita.
   
Ini adalah cara-cara yang ditempuh musuh-musuh Islam dan sekutu-sekutu mereka dalam mengelompokkan manusia. Ada yang menjadi pemuka agama, dan ada juga yang menjadi pemuka dunia. Hal ini adalah pembagian yang sangat bertentangan dengan Islam. Ketika kaum gereja menjadikan pemuka agama hanya untuk mengurusi gereja saja, mereka tidak keluar dari gereja dan mereka senantiasa menetap di dalamnya. Akhirnya, gereja menjadi kehilangan kendali.
   
Dalam Islam, tidak terdapat pembagian seperti ini (pemuka agama dan pemuka dunia). Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, 
"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al An’âm: 162).
Hidup, mati, siang, dan malam kita hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.
Seharusnya, kita di negeri ini dan negara-negara kaum Muslimin lainnya sadar, bahwa masing-masing kita mengemban "Lâ ilâha illallâh". Seorang presiden, petinggi negara, anggota dewan, hakim, dan setiap individu kita mengemban kalimat "Lâ ilâha illallâh". Kita semua tidak terlepas dari tanggung jawab. Meskipun sistem, sarana dan cara kita berbeda-beda, tetapi payung kita hanya satu, yaitu "Lâ ilâha illallâh".
   
Siapakah yang mendatangkan Bilâl bin Rabâh Radhiyallahu ‘Anhu, seorang budak hitam dari Habasyah dan mendudukkannya dengan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, seorang bangsawan Quraisy? Siapakah yang menjadikan Shuhaib Ar-Rûmî Radhiyallahu ‘Anhu (dari bangsa Romawi) datang memeluk Umar bin Khaththâb Radhiyallahu ‘Anhu dari Bani Tamîm? Siapakah yang mendatangkan Salmân Al Fârisî Radhiyallahu ‘Anhu (dari negeri Persia) sehingga dia menjadi saudara Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘Anhu dari bangsa Quraisy? Islamlah yang mempersaudarakan mereka. Kalau tidak, coba kita lihat sebelum Islam datang. Abû Thâlib, Abû Lâhab, Abû Jahal melihat Bilâl Radhiyallahu ‘Anhu hanyalah seorang hamba sahaya yang diperjualbelikan, seperti halnya seekor binatang. Akan tetapi, ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang, beliau memproklamirkan hak-hak asasi manusia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala  berfirman(artinya), Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurât : 13)
   
Dalam salah satu kesempatan pada saat haji wada’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tampil berkhutbah menerangkan persoalan ini,

íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÃóáóÇ Åöäøó ÑóÈøóßõãú æóÇÍöÏñ æóÅöäøó ÃóÈóÇßõãú æóÇÍöÏñ ÃóáóÇ áóÇ ÝóÖúáó áöÚóÑóÈöíøò Úóáóì ÃóÚúÌóãöíøò æóáóÇ áöÚóÌóãöíøò Úóáóì ÚóÑóÈöíøò æóáóÇ áöÃóÍúãóÑó Úóáóì ÃóÓúæóÏó æóáóÇ ÃóÓúæóÏó Úóáóì ÃóÍúãóÑó ÅöáøóÇ ÈöÇáÊøóÞúæóì… 

   
“Wahai sekalian manusia, ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian satu, bapak kalian juga satu, ketahuilah tidak ada keutamaan orang Arab dibandingkan orang Ajam (non Arab) dan tidak pula sebaliknya, tidak ada keutamaan orang yang berkulit merah dibandingkan orang yang berkulit hitam dan tidak pula sebaliknya kecuali karena ketakwaannya…” ( HR. Ahmad )
    
Sungguh sangat berdusta orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya, bahwa mereka memelihara hak-hak asasi manusia. Sama sekali tidak… Mereka tidak memelihara hak-hak asasi manusia, justru merekalah pemerkosa hak-hak asasi manusia. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja yang berhasil memelihara hak-hak asasi manusia. Ini adalah sebuah fakta dan realitas yang tidak diragukan lagi.
   
Salah seorang warga Amerika mati di sebuah hutan belantara di bagian Afrika. Mereka menuntut kematiannya. Mereka membangunkan dan mendudukkan semua penduduk dunia ini dan membuat mereka semua heboh. Bahkan Dewan Keamanan berkumpul, Perserikatan Bangsa-Bangsa ikut campur. Sementara rakyat Palestina, Afganistan, Irak, Chechnya, Kashmir, Moro, dan lain-lain dibantai, dimusnahkan dan dibumihanguskan, tak satu pun yang menuntut; tidak ada yang berkumpul dan tidak ada yang peduli. Wailallohil Musytakâ

PERANG PEMIKIRAN

Betapa sering kita terpenjara oleh kata-kata yang tidak bertanggung jawab, misalnya: primitif, keterbelakangan, negara-negara berkembang, dunia ketiga, dan lain-lain. Semua kata ini adalah racun-racun yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita melihat mereka itu (bangsa barat) sebagai masyarakat yang berperadaban; negara maju dan berkembang.
   
Dalam buku yang berjudul "Manusia Tidak Dapat Berdiri Sendiri", seorang warga Amerika, Cruise Mayerson mengatakan, "Wahai kaum Muslimin! Kami telah mempersembahkan kapal terbang, kulkas, AC, penghangat, dan pendingin ruangan, tetapi kalian, dengan Islam kalian, belum mempersembahkan sesuatu apapun untuk kami."
Sesungguhnya, mereka sangat membutuhkan Islam. Sesungguhnya, mereka hidup dalam kegelapan yang sangat pekat. Lembaran-lembaran sistem mereka telah dilemparkan dan dibakar di lapangan. Mereka mencoba sistem kapitalis, tetapi tidak memberi sesuatu apa pun. Mereka mencoba sistem komunis, sosialis; mereka telah mencoba semua sistem buatan manusia, tetapi mereka tidak mendapatkan kebaikan sedikit pun. Sehingga banyak dari pemikir, ilmuwan dan para cendekiawan mereka yang memeluk agama Islam. Namun pada kesempatan yang sama, orang-orang bodoh dan jahil dari kita memproklamirkan keunggulan dan kecanggihan mereka itu. Apakah kesembuhan diminta dari orang yang sakit? Apakah makanan diminta dari seorang yang lapar? Apakah air diminta dari seorang yang kehausan?
   
Sesungguhnya kerugian yang sangat parah dan dahsyat akan menimpa kita, manakala kita menghinakan sesuatu yang kita miliki. Sesungguhnya kita adalah umat yang berjalan di atas pondasi-pondasi yang kokoh, orang yang orisinil dan sangat dalam, dari barat sampai timur. Kita semua dikumpulkan oleh Kitabullah, Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kiblat kita satu, dan kita shalat dalam waktu-waktu yang teratur rapih. Orang miskin dan kaya di antara kita memiliki derajat yang sama. Kita tidak membeda-bedakan warna kulit dan tidak ada perbedaan kesukuan dan ras dalam Islam. Tidak seperti mereka yang berpegangan kepada unsur ras dan kesukuan (tingkat kasta). Wallohu A’lam.

 

 

Artikulli paraprakNasihat Untuk Pemimpin
Artikulli tjetërTarbiyah Gabungan Takwiniyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini