Karena Ananda Sesungguhnya Tidak Mati…
Teruntuk anandaku: Ahmad ibn Muhammad Yusran –rahimahullah-

Mereka mengatakan engkau telah tiada, Ananda
Karena mereka telah membersihkan jasadmu
Membungkusnya lembut-lembut dalam kafan itu
Lalu menurunkannya penuh kasih ke dalam liang sederhana itu,
Sebab itu,
Mereka katakan engkau telah tiada…

Tapi bukankah engkau sedang tersenyum menatap kami
        di sana?
Duhai, usai sudah kepenatanmu pada dunia ini
Dan kau tinggalkan kami berkelindan dalam dosa
Duhai, betapa beruntungnya dikau, Anandaku
Dalam kesucianmu kau sambut Dia yang memanggilmu
Cinta-Nya padamu memilih dirimu untuk purna dari dunia
        secepat dan sepagi ini, Ananda

Tidak ada yang salah, Ananda
Lima puluh ribu tahun sebelum alam semesta tercipta
Ahad kemarin itu telah terpatri dalam catatan takdirmu
Di titik itulah
        engkau istirah dari dunia yang busuk dan keji ini.
Di titik itulah
        engkau meniti kehidupanmu yang hakiki dan abadi.
Sungguh, beruntungnya dikau. Engkau putih. Engkau bening.
Engkau pualam. Engkau jernih. Engkau kosong. Engkau bersih.
Engkau bahkan tak sempat mengecap apa itu arti dosa…
Dan kini, engkau pergi dengan segala kejernihanmu.

Tinggallah kami termangu di sisi dunia ini
Kami diam menunggu dalam ketidaktahuan; apakah kelak
       ketika saat akhir itupun datang pada kami…
       kami menyambutnya persis seperti engkau menyambutnya?
       mungkinkah cinta-Nya hadir untuk kami seperti Ia hadir untukmu, Ananda?
Entahlah. Tapi engkau tersenyum di sana menatap kami di sini.
Dan engkau sama sekali tidak mati, Ananda
Meski mereka mengatakan engkau telah tiada…
       engkau tetap hidup di sisi-Nya.

(Teruntuk Ustadzku, Muhammad Yusran, yang masih terbaring: semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu. Meski kami sungguh mencintaimu, tapi pilihan-Nya untukmu tetaplah yang terbaik.
Teruntuk Ummu ‘Abdillah, di titik inilah segala dalil tentang kesabaran meminta kita untuk membuktikan keyakinan kita padanya, pada janji Allah. Semoga kesabaran itu tak akan pernah ada habis-habisnya di hati Ummu, dan di hati kita semua)

Cipinang Muara, 11 Desember 2006
Muhammad Ihsan Zainuddin    
Artikulli paraprakUstadz Yusran Yang Saya Kenal
Artikulli tjetërSyekh Al-Mubarakfury, Penulis Sirah Nabawiyah Meninggal Dunia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini