5477-pemandangan-sunset

Kaidah Quraniyyah : “Pilihlah Kata-kata Terbaik Dalam Bertutur “

Allah ta’ala berfirman :

وقل لعبادي يقولوا التي هي أحسن

Artinya : “Dan Katakanlah pada hamba-hamba-Ku : agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik”.(QS Al-Isra’ : 53).

Ayat ini, merupakan satu perintah jelas dan wajib diterapkan dalam berinteraksi dengan sesama manusia, dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilanggar walaupun dengan selain umat islam kecuali dalam perkara debat dengan orang-orang zalim sebagaimana firman Allah ta’ala :

{وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ} [العنكبوت: 46]

“Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang baik ,kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka” (Al-‘Ankabut : 46)

Makna “ucapan yang baik-baik” :

Para ulama menyatakan bahwa ucapan yang baik-baik mencakup ; baik dari segi lafaz / pembawaannya, dan juga dari segi maknanya. Dari segi lafaz dan pembawaannya hendaknya ucapan itu lemah lembut, tidak keras dan kasar. Adapun dari segi maknanya ; hendaknya bermakna kebaikan.1

Sungguh, kita sangat perlu mempraktekkan kaidah ini dalam keseharian kita dengan berbagai jenis manusia, baik dengan seorang muslim atau kafir, seorang shalih atau fajir/fasik, orang tua atau anak-anak, bahkan kita sangat membutuhkannya dalam interaksi dengan orang-orang dekat kita ; kedua orang tua, suami atau istri, saudara-saudara dan anak-anak kita ataupun para pembantu.

Contoh Penerapan Kaidah Ini :

Dalam Al-Quran Allah telah memberikan contoh penerapan kaidah ini, diantaranya ;

1.Penerapannya terhadap kedua orang tua ;

{فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا} [الإسراء: 23]

“Maka sekali-kali janganlah engkau mengucapkan pada keduanya perkataan : ah, dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik ” (Al-Isra’ ; 23)

Ayat ini merupakan larangan untuk tidak membentak mereka berdua, dan secara langsung, juga merupakan perintah untuk berkata-kata baik terhadap keduanya.

2.Penerapannya terhadap para pengemis. Ini terdapat dalam ayat :

{وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ} [الضحى: 10]

“Dan terhadap yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya ” (Adh-Dhuha ; 10)

Tentang makna ayat ini, sebagian ulama berkata : janganlah engkau menghardiknya, akan tetapi muliakanlah ia dengan memberikan sesuatu, serta sertakanlah hal tersebut dengan ucapan yang baik”.2

3.Penerapannya terhadap orang-orang jahil. Ini ada dalam ayat :

{وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا } [الفرقان: 63]

“Adapun hamba-hamba Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih) itu, adalah orang yang berjalan dibumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil /bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina) ,mereka hanya mengucapkan “salam” ” (Al-Furqan : 63)

Tentang makna ayat ini, Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata : Jika mereka (para hamba Ar-Rahman) dikata-katai oleh orang-orang jahil terhadap Allah dengan perkataan yang tidak disukainya, maka mereka hanya membalas ucapan buruk tersebut dengan ucapan yang baik, dan sopan.3

Namun sangat disayangkan, kaidah agung ini seakan sirna dari fakta dan keadaan umat Al-Quran zaman ini, hal ini sangat nampak dalam kehidupan mereka. Padahal dalam ayat 53 Surat Al-Isra’ Allah memperingatkan bahaya dari melalaikan kaidah ini yaitu akan menyebabkan adanya perselisihan dan permusuhan diantara sesama mereka ;

{وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ} [الإسراء: 53]

Artina : “Katakanlah (Wahai Muhammad) pada hamba-hamba-Ku : agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik . Sungguh ,setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan diantara mereka “

Sebab itu ,bagi seorang hamba yang diberi ujian mendengar atau mendapatkan komentar-komentar buruk, hendaknya ia berusaha menahan rasa sakit dari hal tersebut, dan tidak mengucapkan kecuali yang baik-baik, serta membalas ucapan buruk tersebut dengan ucapan baik.

Oleh Maulana La Eda
(Mahasiswa Pascasarjana (s-2) Jurusan Ilmu Hadis Universitas Islam Madina)



1
 .Lihat : Tafsir Al-‘Utsaimin : 3/197

2 .Tafsir Al-Alusi : 15/23

3 .Tafsir Ath-Thabari : 19/295

Artikulli paraprakPenjelasan Wahdah Islamiyah Mengenai ISIS
Artikulli tjetër10 Kewajiban Seorang Muslimah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini