Malaikat Jibril merupakan pemuka para malaikat. Ia bertugas menyampaikan wahyu dari Allah kepada para nabi Allah, termasuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah berfirman:

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَۙ

“Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 193-194).

Malaikat Jibril tidak hanya bertugas menyampaikan wahyu dari Allah. Ia juga memiliki beberapa tugas lainnya sebagaimana tercantum dalam nash-nash shahih. Setiap malam bulan Ramadhan, Jibril datang mengajari Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia juga pernah menjadi imam shalat bagi Rasulullah. tujuannya untuk mengajarkan tata cara shalat sesuai yang dikehendaki Allah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jibril turun lalu mengimamiku shalat. Aku pun shalat bersamanya, lalu aku shalat lagi bersamanya, kemudian aku shalat lagi bersamanya, kemudian aku shalat lagi bersamanya, kemudian aku shalat lagi bersamanya. Beliau menghitung dengan jari-jarinya sebanyak lima kali.”

Dalam Musnad Ahmad disebutkan sebuah riwayat dari Zaid bin Haritsah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Jibril mendatangiku pada pertama kali wahyu diturunkan kepadaku, lalu ia mengajariku tata cara wudhu dan shalat…” Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa Jibril meruqyah Nabi.

Akan tetapi tidak semua senang kepada Malaikat Jibril. Orang-orang Yahudi sangat membencinya dan menganggapnya sebagai musuh karena ia turun membawa adzab dan malapetaka. Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhu, ia mengisahkan:

“Segolongan Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka berkata, ‘Wahai Abul Qasim, ceritakanlah kepada kami beberapa perkara yang akan kami tanyakan kepadamu. Perkara-perkara tersebut tiada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi.”

Maka Rasulullah menjawab, “Bertanyalah tentang semua yang kalian sukai, tetapi berjanjilah kepadaku sebagaimana apa yang diambil oleh Ya’qub dari anak-anaknya, sebagai jaminan untukku. Jika aku benar-benar menceritakan kepada kalian tentang suatu hal, lalu kalian mengetahuinya, maka kalian benar-benar mau mengikutiku dan masuk Islam?” Mereka menjawab, “Baiklah, kami ikuti kemauanmu.” Rasulullah bersabda, “Bertanyalah tentang apa yang kalian sukai.”

Mereka bertanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang empat perkara yang akan kami tanyakan kepadamu. Ceritakanlah kepada kami, makanan apakah yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) terhadap dirinya sebelum Kitab Taurat diturunkan? Sebutkanlah kepada kami bagaimana rupa air mani laki-laki dan air mani perempuan, dan bagaimana bisa terjadi darinya anak laki-laki dan anak perempuan. Dan ceritakanlah kepada kami tentang nabi yang ummi dalam Taurat, serta siapakah yang menjadi kekasihnya dari kalangan malaikat?”

Nabi bersabda, “Berjanjilah kalian atas nama Allah, jika aku dapat menceritakannya kepada kalian, maka kalian benar-benar akan mengikutiku.” Maka mereka membenarkan kepada Rasulullah ikrar dan janjinya.

Jawaban Rasulullah

Rasulullah menjawab tiga pertanyaan mereka dan mereka membenarkannya. Pertama, tentang makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) atas dirinya sendiri sebelum diturunkannya Taurat. Yaitu daging unta dan air susu unta. Kedua, Rasulullah menjawab bahwa apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani perempuan, maka anaknya adalah laki-laki dengan izin Allah. Dan apabila air mani perempuan dapat mengalahkan air mani laki-laki maka kelak anaknya adalah perempuan dengan izin Allah.

Yang ketiga, Rasulullah menjawab bahwa nabi yang ummi ini kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur. Mereka membenarkan semua jawaban Rasulullah. Namun ketika Rasulullah menjawab pertanyaan mereka yang keempat, yakni siapakah kekasihnya dari kalangan malaikat, Rasulullah menjawab Jibril. Maka mereka mendustakan beliau.

Mereka berkata, “Jibril adalah malaikat yang selalu turun dengan membawa peperangan, pembunuhan, dan adzab. Dia adalah musuh kami. Seandainya engkau katakan Mikail yang biasa menurunkan rahmat, hujan, dan tumbuh-tumbuhan, niscaya kami akan mengikutimu.” Atas tuduhan mereka itu, maka Allah menurunkan firman-Nya, ”Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alqur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah…” (QS. Al-Baqarah: 97).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here