Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Pada dasarnya manusia itu memiliki hati nurani, sehingga apabila ia melakukan kesalahan maka hati tersebut akan mengatakan hal yang sebaiknya dilakukan kepadanya. Maka tak heran bahwa manusia yang kerap melakukan maksiat dan banyak perbuatan tercela, atas hidayah dari Allah suatu hari bisa saja dia menjadi orang yang bahkan lebih baik dari diri kita.

Dalam hal ini apabila ia telah bertaubat dan berusaha berubah sekuat tenaga, tidak sewajarnyalah kita mengungkit-ungkit masa lalunya. ‘Ulama’ pernah mengharamkan hukumnya mengatakan “engkau bersumpah atas nama Allah bahwa engkau tidak pernah berzina !”

Tentu saja hal ini dapat menyakiti hati orang tersebut yang telah bersusah payah untuk menjadi pribadi yang baik, ta’at kepada Allah Subhanahuwata’ala. Bahkan dalam sebuah hadi Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam bersabda,

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)

Tentunya kita ingin Allah Ta’ala menutup aib-aib kita di akhirat kelak sebab terlalu banyak dosa-dosa dan perbuatan memalukan yang telah kita lakukan. Dalam hadis lain juga disebutkan,

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (Shahih Muslim)

Seyogyanya kita mendukung saudara-saudara kita yang tengah berproses untuk berubah, menghargai pilihan mereka, dan menjaga aib-aibnya. Karena kita tidak mengetahui seberapa keras jalan yang pernah ia lalui di masa lalu dan bagaimana perjuangannya untuk dapat merubah hidupnya menjadi orang yang lebih baik. Maka jangan sampai kita menanya-nanya lagi apa yang pernah ia lakukan di masa lalu apa lagi samapai menceritakan aibnya kepada orang lain, karena hal ini termasuk perbuatan ghibah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. (Al Hujurat :12)

Begitupula sebagaimana dikatakan oleh ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, “Dari Qais, dia berkata: ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anh melewati bangkai seekor bighol (hewan hasil persilangan kuda dengan keledai), lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”.

Dalam sebuah hadist disebutkan, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya”. (HR. Muslim)

Menerima saudara kita yang telah berubah tanpa mengungkit-ungkit masa lalunya dapat menjadi penyemangat bagi dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya dan istiqomah di jalan Allah Subhanahuwata’ala. Apabila ia mengalami kegagalan dalam masa perubahan disitulah kita bertugas untuk mengingatkannya kembali, memberikan semangat pantang menyerah, dan percaya bahwa ia bisa melewati masa-masa  sulit dikala tengah menempuh jalan hijrah.

Mengingat firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (An-Nisaa 4 : 100)

Bahwa saudar-saudara kita yang sedang memperbaiki diri sejatinya sedang menempuh jalan Allah untuk mendapatkan Ridha-Nya dan rezeki yang banyak. Sekelam apapun masa lalu seseorang, Allah pasti akan membukakan pintu maaf seluas-luasnya dan memberikan taufiq kepada orang tersebut.

Maka sejatinya kita harus menjadi teman dan sahabat yang baik, menjadi contoh bagi saudara-saudara kita yang tengah melangkah hijrah, tentunya mereka akan mencari kelompok orang-orang sholeh sebagai teman agar mereka dapat meniru dan belajar bersama kiat-kiat mengamalkan amal sholeh.

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shaleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa)

Semoga kita semua dapat saling bahu membahu dalam membantu saudara-saudara kita untuk berubah atau menjemput hidayah-Nya kemudian ia menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang dan melanjutkan estafet syiar-syiar kebaikan Islam, bukan menjadi orang-orang yang membongkar aib-aib masa lalu saudara-saudara kita.

Ahmad Daud

Berita sebelumyaKader Wahdah Islamiyah Raih Gelar Magister dengan Predikat Cumlaude di Saudi Arabia
Berita berikutnyaSaya Belum Ikhlas Ibu Saya Menikah Lagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here