Renungan
Hati

Sahabat…
Pernahkah engkau melihat rembulan, ia selalu tampak cantik dan indah. Orang-orang senantiasa memujnya, apalagi saat ia mencapai purnama, cahayanya terang dan sangat indah, hingga kadang kala orang-orang mempermisalkannya untuk menyanjung kecantikan istrinya. Ia memang cantik…

Tapi bulan, tetaplah ia bulan, yang tak bergeming dengan pujian. Ia akan tetap merendah dengan sinarnya hingga ia takkan pernah menyengatmu, sianrnya selalu sejuk untumu. Dan ia takkan pernah sombong dengan keindahannya hingga enggan tuk menyinarimu dalam kegelapan. Ia akan selalu terjaga dengan ketawadhuannya, karena ia tak memiliki hati seperti kita.

Sahabat…
Kita tak seperti rembulan, kita memiliki hati, yang amat peka dan senantiasa terbolak-balik. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bagaikan bulu pada sauatu tanah yang lapang, yang selalu terbolak-balik diterbangkan angin. (HR. Ibnu Majah)

Hati kita bagai bulu yang tipis, ringan, dan gampang patah, karena itu ia mudah terombang ambing oleh pujian dan syubhat. Tapi ternyata, walau demikian ia halnya, ia justru menjadi benteng setiap jiwa manusia. Banyangkanlah, bagaimana benteng pertahananmu kini.

Imam Ibnu Quddamah rahimahullah berkata:

واعلم : أن مثل القلب كمثل حصن، والشيطان عدو يريد أن يدخل الحصن، ويملكه ويستولى عليه، ولا يمكن حفظ الحصن إلا بحراسة أبوابه، ولا يقدر على حراسة أبوابه من لا يعرفها، ولا يتوصل إلى دفع الشيطان إلا بمعرفة مداخله

Ketahuilah, perumpamaan hati itu seperti benteng, dan syaithan adalah musuh yang berupaya memasuki benteng itu, lalu menaklukkan dan menguasainya. Seseorang takkan mungkin baginya menjaga benteng tersebut kecuali dengan menjaga pintu-pintunya, ia juga takkan mampu menjaga pintu-pintu itu jika tak mengetahui dimana pintu-pintu berada, dan ia pun tak akan mampu menolak syaithan itu kecuali dengan mengetahui jalan masuknya. (Muktashar Minhaj al-Qashidin: 114)

Sahabat…
Hatimu adalah benteng, maka jangan mengharapkan pujian manusia akan kebaikan pada dirimu, karena itu bisa membuat hatimu keras dan sakit, lalu engkau akan hidup dalam kelalaian, kefuturan, kecemasan, lalu kau takkan tenang, hingga akhirnya engkau binasa karena itu. Sebab sikap mencari pujian adalah senjata syaithan yang ampuh untuk menguasai hatimu, itulah riya dan sum’ah.

Sahabat…
Jika engkau ingin hidup tenang tapa rasa gundah gulana, maka jagalah hatimu dengan menjauhkan dirimu dari segala dosa besar maupun kecil, karena itulah ketakwaan. Sebab satu dosa engkau lakukan, maka setitik noda hitam juga egkau titihkan dalam hatimu. Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata, sungguh benar ungkapan seseorang:

خل الذنوب صغيرها وكبيرها فهو التقى
كن مثل ماش فوق أرض الشوك يحذر ما يرى
لا تحقرن صغيرة إن الجبال من الحصى

Tinggalkanlah dosa-dosa yang kecil maupun yang besar,itulah hakikat ketakwaan
Jadilah engkau ibarat seorang yang berjalan di atas tanah yang berduri, yang berhati-hati setiap melintasinya
Janganlah pernah menganggap remeh satu dosa kecil, sesungguhnya gunung tinggi itu tersusun dari kerikil-kerikil kecil. (at-Tabshirah: 1/299)

Sahabat…
Hatim Ibn al-Asham rahimahullah berkata:

من خلا قلبه من ذكر أخطار أربعة فهو مغتر فلا يأمن الشقاء الأول خطر يوم الميثاق حين قال الله تعالى هؤلاء في الجنة ولا أبالي وهؤلاء في النار ولا أبالي ولا يعلم في أي الفريقين كان والثاني حين خلق في ظلمات ثلاث فنودي الملك بالشقاء والسعادة ولا يدري أمن الأشقياء هم أم من السعداء والثالث ذكر هول المطلع ولا يدري أيبشر برضا الله تعالى أو بسخطه والرابع يوم يصدر الناس أشتاتا ولا يدري أي الطريقين يسلك

Siapa yang hatinya lalai dari memikirkan empat perkara yang mendebarkan, niscaya ia akan tertipu dan tak akan aman dari kesengsaraan.

Pertama: Saat hari pengambilan janji, ketika Allah berkata kepada dua kelompok, “Mereka berada di surga dan Aku tidak menghiraukannya dan mereka berada di neraka, Aku juga tidak menghiraukannya. Sementara ia tidak mengetahui dimanakah ia dari dua kelompok itu.

Kedua: Saat diciptakan dalam 3 kegelapan, lalu Malaikat diserukan untuk menulis tentang perkara kebahagian dan kesengsaraan, sedang ia tidak mengetahui, apakah ia diantara golongan yang bahagia atau golongan yang sengsara.

Ketiga: Saat diperlihatkannya amalan, sedang ia tidak mengetahui apakah ia akan diberi kabar gembira berupa keridhaan Allah ataukah justru kemurkaann-Nya.

Keempat: Hari ketika manusia akan dibangkitkan berkelompok-kelompok, sedang ia tidak mengetahui pada jalan manakah dari dua jalan yang ia akan lalui. (Jami’ al-Ulum Wa al-Hikam: 84)

Sahabat…
Ketahuilah sesungguhnya hati itu adalah sesuatu yang paling mulia pada diri seseorang, ialah yang mengetahui tentang Allah, yang mendorong jiwa untuk beramal untuk-Nya, yang mendekatkan diri dan menyingkap apa yang ada di sisi-Nya. Sedangkan anggota tubuh hanyalah pembantunya, sebagaimana seorang raja mempelakukan budaknya. Siapa yang mengenal hatinya niscaya ia akan mengenal Rabnya. (Ibnu Quddamah, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin: 114).

Yaa Muqallibal qulub tsabbit qulubuna ‘ala diinika…

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here