Istiqamah

Para ulama salaf sangat khawatir terhadap saat-saat terakhir kehidupan manusia menjelang sakratul maut. Pernah Sufyan menangis dan berkata aku takut tercatat di lauh mahfudz sebagai orang celaka. Ia menangis lagi seraya berkata :aku khawatir jika imanku tercabut saat kematian”.

Juga Malik bin Dinar pernah beribadah yang lama di malam hari dan berkata “wahai Rabbku, Engkau telah mengetahui penghuni surga di antara penghuni neraka. Manakah di antara kedua tempat itu yang menjadi tempatnya Malik?”.

Karena selama di dunia syethan terus saja mengintai, kalaupun syetan belum berhasil sepenuhnya menggoda manusia yang shaleh dalam kehidupannya maka, ia akan berusaha bersungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menggodanya di saat terakhir dari kehidupannya. Syethan tahu betul makna hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi innamal a’malu bilkhawatiim “Sesungguhnya amal-amal ibadah itu ditentukan oleh penghabisannya”

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata : “Aku hadir di saat bapakku Ahmad akan wafat dan di tanganku telah tersedia kain untuk mengikat rahangnya. Di saat itu ia kadang-kadang pingsan dan kadang-kadang sadar. Ia selalu berkata dengan kedua tangannya : “belum, belum” ini dilakukannya berkali-kali lalu aku berkata kepadanya : “wahai bapakku apakah yang nampak padamu?”. Ia berkata : “sesungguhnya syethan berdiri di arah kakiku sambil menggigit jari-jemarinya dan berkata : “ya Ahmad kau telah luput dariku”. Maka aku menjawab : “belum, belum sehingga aku mati”. (Diriwayatkan dari Abu Jabar Ahmad Al Qurtuby, bahwa di saat ia ingat hal itu disebut kepadanya, lalu ia menjawab : “ada dua syethan di kanan dan kiri saya”. Berkatalah salah seorang di antaranya “jadilah seorang yahudi. Ialah sebaik-baik agama”. Yang lain berkata “jadilah nashrani, dialah sebaik-baik agama”. Maka ia berkata : “tidak, tidak kamu berdua tidak mengatakan yang demikian itu kepadaku?”.

Hal di atas mengingatkan agar kita selalu mengulang-ulang membaca do’a yang dicontohkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi : “ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinika”, artinya : ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. (HR. Tirmidzi)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah ta’ala menjelaskan maksud istiqamah, ”mereka istiqamah, komitmen dan mahabbah dalam ubudiyah kepada-Nya , maka mereka tidak berpaling ke kanan dan ke kiri, maksudnya ialah bahwa penyimpangan itu akan terjadi di saat kecintaan kepda selain Allah semakin dominan dalm hati. Kalau ia sebanding dengan cinta kepada Allah, maka orang itu akan menyimpang, sadar lagi kemudian menyimpang lagi dan seterusnya. Kalau kecintaan kepada selain Allah sudah dominan dalam hati, maka kecintaan kepada Allah akan semakin redup dan mati sama sekali. Di saat istiqamahnya akan lemah dan hilang sama sekali.

Di dalam surah fushshilat ayat 30-32, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut beberapa janji-janji kegembiraan bagi orang-orang yang istiqamah dan yang disampaikan kepada para malaikat utusan Allah di saat manusia menghadapi sakratul maut, di dalam kubur, saat kebangkitan dan lain-lainnya.
Janji-janji tersebut ialah :

  • Jangan takut terhadap masa depan di alam kubur dan alam akhirat.
  • Jangan berduka cita terhadap apa yang ditinggalkan berupa anak, isteri, keluarga dan handai taulan.
  • Akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan
  • Selalu disertai oleh para malaikat, mengawal mulai saat akan meninggal sampai masuk surga

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita agar selalu dapat istiqamah dalam kehidupan yang penuh godaan ini. Amin… 

Penulis adalah Staf Pengajar di Universitas Muslim Indonesia,
Nara sumber pada acara Permai Baru Radio Telstar Makassar,
Penulis tetap pada rubrik Refleksi MDK al-Firdaus

Artikulli paraprakKewajiban Pertama Seorang Da’i
Artikulli tjetërWahdah Islamiyah Silaturrahmi dengan Kapolda Sulsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini