Ini Amalan Ringan, Namun Berat di Timbangan

Date:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ”. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada 2 perkataan yang ringan diucapkan oleh lidah, berat di timbangan, dicintai oleh ar Rahman; subhãnallôhi wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian bagi-Nya) subhãnallõhil’adzhim (Maha Suci Allah lagi Maha Agung”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Faedah Hadis:

1. Derajat hadits ini shahih, hadits muttafaqun ‘alaihi artinya telah disepakati keshahihannya, diriwayatkan oleh
– Al Imam Al Bukhari pada kitab da’awat bab fadhl at tasbiih no. 6406, kitab al aimaan wan nudzur bab idzaa qoola walloohi laa atakallamul yaum no. 6682, kitab at tauhid bab qoulillaahi ta’aalaa wanadho’ul mawaaziinal qistho nomor 7563. Imam Bukhari menutup kitab shahihnya dengan hadits ini.
– Al Imam Muslim pada kitab adz dzikr waddu’aa wattaubah walistighfaar bab fadhluttahliil watasbiih waddu’aa no. 2694.
– Dan imam-imam lainnya.

2. Dalam bahasa arab dikenal yang namanya mubtada dan khabar. Hukum asalnya mubtada di awal dan khabar di akhir, tapi dalam hadits ini khabarnya yaitu kalimataani dan seterusnya berada di awal, dan mubtadanya yaitu subhanallahi wabihamdihi dan seterusnya berada di akhir. Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathil Bari menyebutkan, “Dalam pendahuluan khabar dapat membuat rasa penasaran bagi para pendengar untuk mengetahui apa mubtadanya, dan semakin panjang khabarnya, semakin baik untuk didahulukan agar lebih membuat penasaran bagi para pendengar”.

3. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ada 2 perkataan yang ringan diucapkan oleh lidah” menunjukkan bahwa amalan ini sangat ringan, tidak ada beban sedikitpun dalam mengerjakannya, dan tidak pula kesusahan dalam mengucapkannya.

4. Kalimat yang disebutkan jumlahnya dengan 2 angka tidaklah membatasi hanya 2 kalimat itu saja untuk mendapat keutamaan yang disebutkan, karena semua dzikir yang shahih dicintai oleh Allah, ringan diucapkan, dan menjadi pemberat timbangan. Hanya saja sebagai pengingat bagi kita semua untuk senantiasa mengucapkan 2 kalimat tersebut.

5. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berat di timbangan” menunjukkan bahwa tidaklah seseorang yang membiasakan dzikir-dzikir tersebut kecuali Allah Ta’ala akan memberikan timbangan amalannya di akhirat dengan timbangan yang berat dan menjadi orang beruntung.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِینُهُۥ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Mukminun:102)

6. Beriman akan adanya timbangan di akhirat, dan timbangan itu adalah timbangan yang hak, tidak ada kecurangan di dalamnya sedikitpun, tidak ada yang dirugikan sedikitpun, semua amalan ditimbang dengan seadil-adilnya terutama dzikir-dzikir yang kita ucapkan ringan di lisan namun akan menjadi pemberat timbangan di akhirat, Allah Ta’ala berfirman,

وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ

Artinya: “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (Qs. Al Anbiya: 47)

7. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Dicintai oleh ar Rahman” menunjukkan bahwa dikhususkannya kata “Ar Rahman” salah satu nama-nama Allah Ta’ala yang indah artinya Maha Pemberi Rahmat untuk mengisyaratkan luasnya rahmat Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya, di mana Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang sangat banyak dan besar terhadap amalan yang sedikit lagi ringan.

8. Kemudian penyebutan sifat cinta bagi Allah Ta’ala, kita menetapkan sifat tersebut sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapkan dalam hadits tersebut. Dalam penetapan tidak menyamakan cinta Allah Ta’ala sebagaimana cinta makhluq, dan bagaimananya Allah Ta’ala mencintai makhluk-Nya kita tidak tahu, kita hanya menetapkan sesuai kemuliaan dan kebesaranNya.

9. Jika Allah Ta’ala mencintai suatu amalan, juga mencintai hamba yang mengamalkan amalan tersebut, dan dua perkataan itu kita mengucapkannya menjadi sebab Allah Ta’ala mencintai kita. Pastinya kita semua mengharapkan cinta dari Allah Ta’ala, sebagaimana kita mencintai Allah Ta’ala.

10. Dzikir

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Maha Suci Allah serta segala pujian bagiNya dan Maha Suci Allah lagi Maha Agung”
Dengan dzikir ini, kita menetapkan kemahasempurnaan dan kemahasucian bagi Allah Ta’ala dari segala ‘aib dan kekurangan, juga kita menetapkan segala puji bagi-Nya yang Maha terpuji dan menetapkan keagungan bagiNya yang Maha agung.

11. Dari hadits, terdapat pelajaran paling berharga bahwa jangan kita menganggap remeh suatu amalan, meskipun itu sangat sedikit, ringan, secara nampak remeh, sangat mudah, karena betapa banyak amalan yang seperti demikian itu memberikan pengaruh sangat besar terhadap ganjaran yang kita dapatkan.

12. Ada amalan yang ringan tapi pahalanya sangat besar, seperti hadits di atas. Ada juga amalan berat, susah, dan besar tapi yang didapatkan dari pahala sangat kecil, atau tidak ada sama sekali, dan bahkan hanya dosa. Apakah sebab niat yang bermasalah, atau amalan yang tidak sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!

13. Hadits ini satu di antara hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan berdzikir kepada Allah Ta’ala, dan keistimewaan orang yang selalu mengingat Allah. Selain dari keutamaan-keutamaan itu, keutamaan lainnya adalah hati kita akan terus tenang, sebagai benteng penjagaan terhadap diri, menambah keimanan seorang hamba, dan seterusnya dari keutamaannya yang sangat banyak.

14. Di samping kita mengucapkan kalimat di atas, sebaiknya juga kita mensharenya ke orang lain, baik media sosial maupun dengan menyampaikan langsung, karena orang menunjukan suatu kebaikan akan mendapatkan copy paste pahala dari orang yang mengerjakan amalan disebabkan kita memberitahukan kepadanya.

Wallahu a’lam…

___

 

Oleh: Ust. Sayyid Syadly, S.H., Lc.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

Subscribe

spot_img

Popular

More like this
Related

Sudah 7 Bulan Lebih Digempur Oleh Roket Israel, Jangan Biarkan Gaza Sendiri!

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Waktu tujuh bulan lebih, bukanlah waktu...

Suarakan Bela Palestina, Ketua STIBA Orasi Menggunakan Tiga Bahasa

MAKASSAR, wahdah.or.id -- Wahdah Islamiyah sukses menggelar aksi bela...

Bela Palestina, Wahdah Islamiyah Se Indonesia Serukan Hentikan Genosida Di Palestina

MAKASSAR, wahdah.or.id – Ormas Islam Wahdah Islamiyah menggelar aksi...

Peduli Terhadap Gaza dan Palestina, Bukti Sejati Persaudaraan Seorang Muslim

Khutbah Pertama: إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله...