Ilmu Ladunni
(Al Fikrah No.06 Tahun VII 1427 H)

Manusia  dilahirkan  di  bumi  ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti  apa-apa.  Lalu   Allah  mengajarkan   kepadanya  berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh  kesadaran dan pengertian. 

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:   "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."  (QS. An-Nahl: 78).
   
Pada hakekatnya, semua ilmu  makhluk adalah "ilmu laduni", artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Para malaikat-Nya pun berkata,
"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (QS. Al-Baqarah: 32).

 Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).

Bagian Pertama
Yaitu yang didapat tanpa belajar, terbagi menjadi  dua macam:

1. Ilmu syariat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul  melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik  yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam ‘alaihissalâm hingga nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni, termasuk yang diterima oleh Nabi Musa  dari Nabi Khidhir. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman tentang Khidhir ‘alaihissalâm,
 "Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi: 65).
 
Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir ‘alaihissalâm berkata kepada Nabi Musa ‘alaihissalâm,
 "Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku pun tidak mengetahuinya."

Ilmu syariat ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (orang yang telah baligh) sampai datang ajal kematiannya.

2. Ilmu ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang gaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir gaib) atau ru’yah (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan shaleh. Ilmu  kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syariat yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Yang dimaksud dengan menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau pun mengurangi.

Bagian Kedua:
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berpikir dan lain sebagainya.

Dari ketiga ilmu ini (syariat, ma’rifat dan kasb) yang  paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syariat, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syariat.  Inilah hakekat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.

KHURAFAT SUFI
Istilah "ilmu laduni" secara khusus tadi telah terkontaminasi (tercemari) oleh virus khurafat sufiyyah. Sekelompok Sufi mengatakan bahwa “Ilmu laduni" atau kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah kepada para wali Sufi.  Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits (sunnah), tidak bisa mendapatkannya.  "Ilmu laduni" atau ilmu hakikat lebih utama daripada  ilmu wahyu (syariat). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir ‘alaihissalâm, dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa ‘alaihissalâm adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir ‘alaihissalâm adalah ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yâzid Al-Busthâmi (261 H.) mengatakan, "Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka  tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany."

Ilmu syariat (Al-Qur’an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.  Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu  lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf, didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti ‘Abdul Karîm Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insânul Kâmil fî Ma’rifatil Awâkhir wal  Awâil. Dan Ibnu ‘Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futûhâtul Makkiyyah.

Untuk menafsirkan ayat atau untuk mengatakan derajat hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka, "Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku." Atau, "Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apa pun."  Sehingga akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli kasyf  (tasawwuf).

TANGGAPAN SINGKAT
Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shaleh berpotensi untuk  dimuliakan oleh Allah dengan ilham. Abu Bakar  radhiyallâhu ‘anhu diilhami oleh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ  bahwa anak yang sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi kenyataan.

Ibnu Abdus Salâm mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk sebagian balasan amal  shaleh yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu,   bahkan dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam,     "Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka  Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia  ketahui." (Al-Iraqy berkata, "HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiyallâhu ‘anhu, hadits dhaif.").

Yang benar menurut Ahlusunnah wal Jama’ah adalah  Nabi Khidhir ”alaihissalam  memiliki syariat tersendiri sebagaimana Nabi Musa ‘alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau Nabi Musa  ”alaihissalâm lebih utama daripada Nabi Khidhir ‘alaihissalâm, karena Nabi Musa ‘alaihissalam termasuk Ulul ‘Azmi (lima Nabi yang memiliki keteguhan hati  dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam).                           

Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang nyata  karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam hanya mewariskan ilmu syariat (ilmu Wahyu), Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi  mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam yang mengambil ilmu langsung dari Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah.          

Anggapan bahwa ilmu syariat itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya setan untuk merusak Islam. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya  Islam.

Anggapan bahwa dengan "ilmu laduni" sudah cukup adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qâdir Al-Jailânî mengatakan, "Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syariat adalah zindiq (sesat)."

Inilah penyebab lain bagi kekeliruan tasawwuf. Banyak sekali kesyirikan dan kebid’ahan dalam tasawwuf yang didasarkan kepada hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah. Mereka menggunakan metode tafsir batin dan metode kasyf dalam menilai hadits, dua metode bid’ah yang menyesatkan. Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,
"Wahai manusia belajarlah, sesung-guhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difahamkan terhadap agama ini." (HR. Ibnu Abî ‘Âshim, Thabrânî, Al-Bazzâr dan Abû Nu’aim, hadits hasan).
Wallahu A’lam

 

Artikulli paraprakTasawuf Ibnu Taimiyah
Artikulli tjetërTim Ruqyah Wahdah Atasi Kesurupan di SMA 16

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini