Idulfitri, Wadah Kebersamaan Umat Islam
Oleh: Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin
(Fajar,Minggu 28 September 2008  Hal.2)

UMAT Islam, insya Allah 1 Oktober 2008 atau 1 syawal 1429 H mendatang akan merayakan Idulfitri. Hari raya ini adalah sebuah momen yang sering disebut sebagai puncak kemenangan bagi umat Islam karena berhasil melewati bulan suci Ramadan.Bulan penuh rahmat dan pengampunan. Bulan dimana umat Islam melaksanakan ibadah puasa selama 30 hari. Paripurna tidaknya puasa seseorang akan terlihat pada hari-hari terakhir di bulan puasa.

Bukannya, pada saat mendekati lebaran (Idulfitri) justru ibadah di bulan Ramadan ditiadakan. Hari pertama hingga hari kesepuluh puasa, masjid-masjid dipenuhi jemaah untuk salat tarawih, namun di atas hari kesepuluh, umat Islam mulai sibuk dengan urusan lain-lain, seperti sibuk ke mal, belanja dan lain sebagainya.

Bagaimana menyiasati agar di akhir bulan Ramadan umat Islam semakin rajin beribadah? Apa sebenarnya esensi Idulfitri bagi umat yang beriman? Apa yang harus dilakukan umat Islam mendekati Idulfitri? Bagaimana dengan perbedaan hisab dan rukyat bagi ormas Islam,

Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)? Berikut bincang-bincang wartawan Harian Fajar dengan Ketua Wahdah Islamiyah Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin.

1 Oktober mendatang, umat Islam akan merayakan Idulfitri 1429 H. Menurut Anda, keberadaan Idulfitri itu sebenarnya bagaimana?

Idulfitri itu adalah hari dimana umat Islam merayakan kemenangan setelah melakukan ibadah puasa dan ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Idulfitri adalah wadah dimana umat Islam memiliki kebersamaan di dalamnya. Hadist menyebutkan bahwa beridulfitrilah kamu secara bersama-sama. Tidak ada itu Idulfitri orang per orang atau per kelompok.

Bagaimana dengan fenomena di Indonesia yang menganut hisab dan rukyat dalam menentukan hari H Idulfitri atau hari H puasa, yang berbuntut pada perbedaan hari H?

Semuanya benar, baik hisab maupun rukyat. (Koreksi:Kami tidak pernah mengucapkan redaksi tersebut di atas, walau kami mengungkapkan bahwa perbedaan itu ada namun tidak bearti kami mengatakan semuanya benar. Dan perlu disampaikan di sini bahwa walaupun kami tetap menganggap bahwa metode yang tepat itu adalah Rukyah, namun kami juga tetap mengedepankan kebersamaan sebagaimana arahan Nabi  Shallallahu alaihi wasallam bahwa berpuasa dan berlebaran adalah bersama mayoritas kaum muslimin, yang pengejawantahannya adalah dengan penetapan pemerintah yang diikuti oleh kaum muslimin).Yang jadi persoalan di sini adalah, umat Islam di Indonesia seharusnya bersatu dalam merayakan Idulfitri. Walau ada perbedaan antara hisab dan rukyat, tetap Idulfitri dilaksanakan secara bersamaan atau secara bersama-sama.

Bahwa kemudian ada perbedaan, agama sudah mengaturnya dengan menyerahkan kepada instruksi mayoritas, dalam hal ini pemerintah. Umarah itu yang didengar.

Seandainya, hisab dan rukyat mengalami perbedaan, dan pemerintah memilih salah satunya, apakah itu tidak menimbulkan perselisihan?

Saya gambarkan, di Arab Saudi, Malaysia, Turki, Mesir dan negara Timur Tengah lainnya itu memiliki komitmen kebersamaan dalam menunaikan ibadah puasa dan Idulfitri. Karena mereka semuanya tunduk pada hadist nabi yang menyebutkan bahwa beridulfitrilah kalian secara bersama-sama, bukan per kelompok-kelompok.

Caranya, warga negara di Turki, malaysia, Arab Saudi dan lain sebagainya semuanya tunduk pada aturan pemerintah. Pemerintah memutuskan tanggal sekian lebaran, maka itulah yang diikuti. Bukannya membuat atau merayakan Idulfitri secara terpisah.

Anda mau katakan bahwa perbedaan itu hanya terjadi di Indonesia?

Tepat, perbedaan itu antara NU dan Muhammadiyah memang hanya terjadi di Indonesia.(Koreksi:Kami  juga tidak pernah mengatakan bahwa hanya di Indonesia saja terjadi perbedaan tersebut. Tapi kami  mengambil contoh beberapa Negara Islam yang rakyatnya selalu bersatu di awal puasa dan Idul fitri sekalipun terjadi perbedaan metode penentuan yang mereka anut . Misalnya: Saudi, Turki dan Malaysia) saya sudah katakan tadi, di beberapa negara Islam, perbedaan hisab dan rukyat itu tidak ada. Karena mereka sadar bahwa Idulfitri itu adalah wadah kebersamaan, bukan ajang untuk menonjolkan egoisme.

Bukan ajang untuk memperlihatkan siapa benar siapa yang salah, Idulfitri itu adalah ajang dimana kita saling membantu, saling mengerti, saling menghormati, intinya memperdalam ukhuwah islamiyah.

Apakah ada upaya dari Wahdah Islamiyah untuk mempersatukan hal ini?

Upaya itu tetap ada, termasuk bagaimana Wahdah Islamiyah terus melakukan dakwah dan syiar Islam. Satu yang harus saya katakan disini bahwa Idulfitri itu adalah ajang dimana umat Islam mengedepankan sikap persaudaraan.

Banyak kalangan berpendapat bahwa perbedaan hisab dan rukyat itu terjadi dalam siklus empat atau lima tahun sekali. Pendapat Anda?

Ada memang berpendapat demikian. Tapi saya mau katakan di sini, seberapa kuat perbedaan itu terjadi, idealnya melaksanakan ibadah Idulfitri tetap harus bersamaan. Siklus empat atau lima tahunan itu biarlah terjadi.

Toh yang menentukan itu adalah pemerintah. Dan itu kuat hadistnya, karena Idulfitri itu kebersamaan. Satu hal lagi, buat apa kita ke mal dan menghabiskan uang untuk anak dan istri kita jika ada tetangga kita kelaparan.

Maksud Anda?

Ya, Idulfitri itu adalah hari dimana umat Islam yang memiliki iman berbagi dengan sesama umat manusia. Saling berbagi apa yang dimiliki di hari raya tersebut. Termasuk memberikan zakat fitrah, zakat mal, dan zakat lainnya. Karena esensinya ada pada saat kita menjalankan ibadah puasa.

Di bulan Ramadan kita melakukan puasa, agar kita bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat miskin, seperti lapar, haus dan lain sebagainya. Beda jika memang ada umat Islam yang tidak menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan ini.

Selain itu, puasa tidak saja bagaimana kita menahan lapar dan dahaga, tapi puasa itu dimana kita harus menjaga seluruh anggota badan atau tubuh kita dari tindakan-tindakan yang tak terpuji.

Perilaku ini, idealnya tidak saja dilaksanakan pada bulan Ramadan, tapi harus diimplementasikan di seluruh bulan yang ada. Karena momen bulan puasa ini adalah esensinya harus kita jadikan barometer untuk bulan-bulan di luar Ramadan.

Fenomena sekarang ini banyak umat Islam yang hanya rajin beribadah pada awal-awal bulan Ramadan. Rata-rata di hari ke-15, kebanyakan sibuk dengan keperluan rumahtangga menyambut Idulfitri. Pendapat Anda?

Jelas itu salah. Karena bagi umat Islam yang memiliki iman yang dalam, mereka akan sangat menyesal jika bulan Ramadan itu meninggalkannya. Makanya, semakin lama Ramadan, maka mereka akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menggenapkan puasa mereka di bulan Ramadan, banyak mengaji, salat sunnah dan lain sebagainya.

Jika hanya sibuk untuk mengurus berbagai keperluan yang tidak-tidak, maka itu adalah hal yang salah. Buat apa kita sibuk berbelanja dan lain sebagainya, jika ibadah kita kepada Allah masih kurang. Ingat bulan Ramadan yang suci ini belum tentu kita masih bisa dapat pada tahun-tahun berikutnya.

Bisa disebutkan orang-orang beruntung di bulan Ramadan ini?

Orang yang beruntung itu adalah orang yang melaksanakan seluruh perintah agama, memperbanyak berbagai ibadah yang telah dianjurkan agama, baik dalam Alquran maupun dalam Hadits Nabi Muhammad SAW.

Mengerjakan perintah Allah itu, antara lain; melaksanakan salat tarawih berjamaah, berpuasa sebulan penuh, menjaga perilaku baik pandangan, pendengaran, menjaga akhlak yang baik, saling menolong sesama.

Memang tak bisa dipungkiri, ada segelintir umat Islam yang hanya melaksanakan puasa dengan berlapar dan berhaus-haus saja. Mereka, tidak mampu menjaga pendengaran, penglihatan dan tindak tanduk yang dapat merusak puasanya.

Jelang Idulfitri umat Islam diwajibkan bayar zakat. Bisa dijelaskan urgensi zakat bagi umat Islam?

Zakat begitu agung dan kapasitasnya sebagai salah satu rukun Islam yang lima, yang bangunannya hanya bisa tegak di atasnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Artinya : Islam itu dibangun di atas lima perkara, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah SWT dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.

Kewajiban zakat atas umat Islam merupakan salah satu prestasi Islam yang sangat menonjol dan perhatiannya terhadap berbagai urusan para pemeluknya, karena banyak manfaatnya dan kaum fakir miskin membutuhkanya.

Apa manfaat zakat itu?

Pertama, menguatkan ikatan kasih sayang di antara orang yang kaya dan orang yang miskin, karena jiwa itu ditakdirkan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Kedua, membersihkan dan menyucikan jiwa serta menjauhkannya dari sifat kikir, sebagaimana Alquran mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya.

Ketiga, membiasakan seorang muslim memiliki sifat dermawan dan lemah lembut kepada orang yang membutuhkan. Keempat, mendatangkan keberkahan, tambahan dan pengganti. Firman Allah; artinya; Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. Dan masih banyak manfaat lainnya yang diperoleh dari zakat ini.

Apa sanksi yang didapat bagi umat Islam yang tidak merealisasikan zakat?

Ada ancaman yang sangat keras terhadap orang yang bakhil dengan hartanya, atau lalai mengeluarkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

Setiap harta yang tidak ditunaikan zakatnya adalah simpanan, yang karenanya pemiliknya akan diazab atau disiksa pada hari kiamat. Firman Allah; menyebutkan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka,

(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.

Pemerintah telah membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang zakat. Pendapat Anda?

Sebenarnya, zakat itu sudah wajib hukumnya. Tak perlu lagi ada perda yang mengatur.(Koreksi:Pertanyaan ini tidak pernah diajukan pada kami oleh saudara wartawan Fajar, apalagi jawaban seperti tertera di atas) sekali lagi zakat itu penting untuk menjalin ukhuwah islamiyah.

Kita tidak akan lagi membiarkan tetangga kita atau saudara kita kelaparan dan lain sebagainya hanya karena berbalut kemiskinan dan ketidakmampuan. Marilah kita menunaikan zakat sebagaimana firman Allah mewajibkan hambanya untuk berzakat. Sumber:fajar.co.id

Artikulli paraprakYayasan Al Eid Qatar Santuni 100 Dai Wahdah
Artikulli tjetërWI Tetap Berpatokan pada Rukyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini