Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagaimana hukumnya mengaqiqahkan anak setelah umurnya 3 tahun? Saya pernah baca hadis sahih nya waktu pelaksanaan aqiqah anak itu di hari ke 7/14/21 hari. Sementara si orang tua belum ada rejeki yang cukup untuk membeli hewan qurban tersebut. Ketika anaknya umur 3 tahun ada rejeki dan niat untuk mengaqiqahkan anak tersebut. Bagaimana hukumnya secara syar’i.? Terimakasih.
Nama Ullyatha
Kota kabupaten Cikarang Bekasi

Jawaban:
✍️ Oleh: Ust. Fadhlan Akbar, Lc., M.H.I.
(Ketua Komisi Usrah dan Ukhuwah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Untuk saudari Ullyatha semoga Allah merahmati anti sekeluarga dan kita semua.
Hukum aqiqah menurut pendapat mayoritas ulama, adalah sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat ditekankan anjuran pelaksanaanya).

Pendapat ini diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah -radhiyallahu ‘anha- serta beberapa sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seperti :

Ibnu Abbas dan Ibnu Umar – Radhiyallahu ‘anhum-, juga pendapat yang dianut oleh mayoritas Mazhab Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabilah.

Dalil yang menjadi pegangan Jumhur Ulama, adalah Hadits Rasulullah shalallahu’alahi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab beliau Al Muwattha’ (no. 1441):
مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسَكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ
Artinya :
Barang siapa yg dikaruniakan kelahiran seorang anak, lalu ia suka untuk memotongkannya sembelihan (domba/ kambing ), maka hendaklah ia melakukannya.

Waktu pelaksanaan aqiqah setelah kelahiran bayi adalah pada hari ketujuh kelahirannya, ini adalah waktu yang paling ideal dan sangat dianjurkan, sebab sesuai dengan waktu yang disebutkan dalam hadits Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق ويسمّى
“Setiap bayi lelaki tergadaikan oleh aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh lalu dicukur dan diberi nama.” (H.R. Abu Daud no. 2837, Tirmidzi no. 1522, Nasai no. 4220 dan Ibnu Majah no. 3165)

Namun jika pada hari tersebut ayah bunda bayi itu belum memiliki kemampuan biaya untuk melaksanakan aqiqah, maka ia boleh menunda pelaksanaanya pada hari ke 14 atau hari ke 21 bahkan pada hari- hari selanjutnya dimana ia memperoleh kelapangan materi.
Imam Ibnu Qudamah berkata :
فإن فات الذبح في السابع، ففي أربع عشرة، فإن فات، ففي إحدى وعشرين، وهذا قول إسحاق؛ لأنه روي عن عائشة -رضي الله عنها- والظاهر أنها لا تقوله إلا توقيفاً. فإن ذبح قبل ذلك، أو بعده، أجزأ؛ لحصول المقصود بذلك. فإن تجاوز إحدى وعشرين، احتمل أن يستحب في كل سابع، فيجعله في ثمان وعشرين، فإن لم يكن، ففي خمس وثلاثين، وعلى هذا قياساً على ما قبله، واحتمل أن يجوز في كل وقت؛ لأن هذا قضاء فائت، فلم يتوقف، كقضاء الأضحية.
“Jika penyembelihan aqiqah tidak dapat dilaksanakan pada hari ke- 7, maka di hari ke- 14, jika luput, maka di hari ke- 21. Ini merupakan pendapat Ishaq, sebab telah diriwayatkan hal senada dari Aisyah -radhiyallahu anha- dan tentu saja Aisyah tidak berpendapat seperti itu kecuali sesuatu yang bersifaf Tauqifiyah ( sampai kepada Rasulullah ). Dan jika ia menyembelih aqiqah sebelum hari itu ( hari ke-7) atau setelahnya, maka hal itu sudah memadai, karena dengan sembelihan itu tujuan dari syariat ini telah terpenuhi. Namun jika telah melampaui hari ke- 21, maka ada kemungkinan aqiqah dianjurkan untuk ditunaikan pada setiap kelipatan 7 hari setelahnya. Itu artinya ia melaksanakan di hari ke 28, dan jika belum juga mampu, maka di hari ke 35 dan seterusnya seperti itu dilakukan pada hari- hari selanjutnya yakni diqiyaskan dengan hari sebelumnya ( menggunakan kelipatan 7 hari ). Dan tidak menutup kemungkinan aqiqah bisa dilaksanakan di hari apa saja ( setelah lewat dari hari ke-21), sebab ini termasuk pelaksanaan qadha suatu ibadah yang terluput pelaksanaanya, sehingga tidak terputus/ terhenti waktunya, seperti halnya mengqadha pelaksanaan sembelihan qurban.” (Al-Mughni: 9/461)

Berdasarkan dari pernyataan di atas maka dapat difahami bahwa boleh bagi seseorang untuk melaksanakan aqiqah bayinya kapan saja ia mampu, meskipun telah lewat waktu penetapannya ( hari ke 7, 14 dan 21 ) beberapa tahun setelahnya.
Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here