III. HISTORIS AQIDAH ISLAMIYAH


    Aqidah tauhid merupakan agama fitrah yang telah ditanamkan oleh Allah dalam benak setiap manusia sejak lahir. Setiap bayi yang lahir dalam dirinya telah ada potensi fitrah yang lurus yang mengakui keesaan Allah, maka seandainya bayi tersebut dibiarkan dalam fitrahnya, maka dia akan senantiasa berada dalam potensi tersebut. Karena ketauhidan ini telah tertanam dalam fitrah manusia maka tidak ada orang yang berpaling dari padanya kecuali setelah ada pengaruh ekstern dalam pergaulannya sebab seandainya orang tersebut terhindar dari pengaruh-pengaruh tersebut niscaya dia akan tetap meyakini keesaan Allah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون. الروم : 30

Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عن أبى هريرة- قال : قال رسول الله- : ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء ؟ ثم يقول أبو هريرة : واقرؤوا (فطرة الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ) (أخرجه البخاري رقم : 1358 (3/219 مع الفتح) ومسلم (4/2047)

Artinya: Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu beliau berkata bahwa; Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Tidaklah seseorang itu dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah menyebabkan dia menjadi yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor o­nta itu melahirkan anak yang sempurna, apakah kamu mendapati ada di antaranya yang telah dicucuk hidungnya ?, lalu Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu berkata: Dan bacalah firman Allah:

فطرة الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم

Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan dalam agama Allah, itulah agama yang lurus. (HR-Bukhari no.1358 (3/219)

عن عياض بن حمار المجاشعي أن رسول الله- قال ذات يوم في خطبته ” ألا إن ربي أمرني أن أعلمكم ما جهلتم مما علمني يومي هذا. كل مال نحلته عبدا حلال وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا (رواه مسلم رقم: 7136 (17/194)

Artinya: Dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasy’iy Radiyallahu ‘Anhu beliau berkata bahwa; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda pada suatu hari dalam khotbahnya: Sesungguhnya Tuhanku telah menyuruh aku untuk mengajarkan kepada kalian apa-apa yang kalian tidak ketahui diantara apa yang diajarkan kepadaku hari ini; semua harta yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal dan Sungguh Aku telah menciptakan hamba-hambaKu semuanya dalam keadaan hanif lalu syaithan mendatangi dan memalingkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka dan mengajak mereka untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak pernah Aku turunkan hujjah yang berhubungan dengannya. (HR-Muslim no.7136 (17/194)


    Demikianlah kondisi awal manusia atau keturunan Adam ‘Alaihis Salam sebelum timbulnya penyimpangan aqidah mereka berada diatas tauhid dan islam, karena manusia yang ada sejak Nabi Adam ‘Alaihis Salam sampai dibangkitkan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang interval waktunya berlangsung sepuluh abad, semuanya diatas syari’at kebenaran dan hidayah tauhid yang satu. Lalu setelah itu mulailah terjadi perselisihan dan perbedaan serta penyimpangan dalam agama maka Allah Subhanahu Wata’ala mengutus Nabi Nuh ‘Alaihis Salam sebagai Nabi dan Rasul yang pertama yang kemudian disusul dengan pengutusan para nabi dan rasul yang lain sesudahnya.


    Prof. DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql berkata bahwa: Aqidah tauhid dan kebaikan serta keshalehan adalah prinsip yang diperpegangi oleh Adam ‘Alaihis Salam dan generasi awal sesudahnya, mereka semua berada di atas tauhid yang murni. Adapun kesyirikan dan kesesatan maka itu adalah sesuatu yang muncul belakangan secara bertahap, yang tidak muncul kecuali jauh sepeninggal Adam ‘Alaihis Salam dan beberapa generasi sesudahnya.

Dan telah datang riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhu bahwa beliau berkata; Antara Nuh dan Adam ada sepuluh abad (sepuluh generasi) semuanya di atas syariat yang benar, lalu mereka berselisih maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan hal inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala :

كان الناس أمة واحدة فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين . البقرة:213

Artinya: Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.) Al-Baqarah;213)

Maksudnya bahwa mereka pada awalnya adalah umat yang satu, berada di atas kebenaran dan petunjuk serta agama yang satu lalu setelah itu mereka berpecah dan berselisih.

    Dengan demikian jelaslah bahwa aqidah yang lurus dan tauhid yang murni itulah merupakan prinsip yang pertama dikenal dalam sejarah kemanusiaan dan bahwa kesesatan dan kesyirikan termasuk hal yang timbul belakangan setelah berlalu bererapa generasi sepeninggal Adam Alais-Salam.

Artikulli paraprakPENJELASAN HADITS 2 ARBAIN NAWAWI (1)
Artikulli tjetërHukum Meminta Lamaran Pernikahan Bagi Wanita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini