Hikmah Penyebutan Indra Pendengaran Didahulukan dari Indra Penglihatan

(Tadabbur Surat An-Nahl ayat 78)

Oleh Ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA. (Ketua DPP Wahdah Islamiyah)

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”

Perhatikan ayat di atas, ketika disebut indra pendengaran (as-sam’u) dan indra penglihatan (al-basharu), Allah mendahulukan penyebutan indra pendengaran mendahului penyebutan indra penglihatan.

Hal yang sama dapat ditemukan di ayat-ayat lainnya, seperti: QS. 2: 7, 20, 6: 46, 10: 31, 11: 20, 16: 108, 17: 36, 18: 38, 23: 78, 32: 9, 41: 20 dan 22, 45: 23 dan 67: 23. Jadi seluruhnya ada 15 ayat.

Allah yang memiliki sifat Al-‘Aliem (Maha Mengetahui-Maha BerIlmu) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana) tidaklah mungkin meletakkan kata-kata dalam ayat-ayatNya secara “sembarangan”.

Syekh Jabir Abubakar Al-Jazaairy-hafizhahullah dalam Kitabnya Aysarut Tafaasiir Li Kalaamil ‘Aly al-Kabiir menjelaskan bahwa didahulukannya penyebutan indra pendengaran dari indra penglihatan dalam beberapa ayat Al-Qur’an mengandung hikmah bahwa indra pendengaran lebih banyak manfaatnya (dan lebih utama) dari pada indra penglihatan, sedangkan akal jauh lebih utama dan bermanfaat dari kedua indra tersebut (lihat di Jilid I halaman 23).

Berikut ini beberapa manfaat dan keutamaan Indra pendengaran:
1. Indra yang pertama kali berfungsi ketika manusia lahir adalah pendengaran, sedangkan indra penglihatan akan berfungsi ketika anak berumur 40 hari. Indra pendengaran juga merupakan indra terakhir yang berfungsi ketika manusia sakarat, itulah sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mentalqinkan orang yang sakarat dengan kalimat Tauhid, sebab pada saat itu indra pendengarannya masih berfungsi.
2. Indra manusia yang tidak pernah beristirahat adalah indra pendengaran, berbeda dengan penglihatan. Seorang tidak dikatakan tidur ketika matanya masih terbuka.
– Inilah hikmah mengapa ada manusia yang bisa tidur 309 tahun (pemuda Ashabul Kahfi), karena pendengaran mereka ditutup oleh Allah:
فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا
“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu” (QS. Al-Kahfi/18: 11)
– Strategi seetan dalam menggagalkan manusia agar tidak bangun dari tidurnya untuk menunaikan shalat tahajjud dan shalat subuh adalah “mengencingi” telinganya. Setan tidak memilih matanya untuk ditutup terus. Sebab setan tahu bahwa menutup pendengaran manusia dengan mengencinginya itulah strategi yang jitu.
3. Indra pendengaran dalam menjalankan fungsinya tidak membutuhkan “alat bantu” cahaya. Berbeda dengan penglihatan yang tidak akan berfungsi tanpa alat bantu cahaya.
4. Indra pendengaran merupakan alat yang paling efektif dalam menyerap ilmu dibanding penglihatan. Itulah sebabnya hampir tidak ditemukan orang berilmu karena tuli, tetapi yang banyak ditemukan adalah orang berilmu sekalipun penglihatannya tidak berfungsi. Inilah hikmah sekaligus menjadi jawaban mengapa tidak ada Nabi dan Rasul yang tuli. Bahkan menjadi salah satu syarat seseorang diangkat menjadi Nabi dan Rasul adalah tidak tuli.

Semoga kita menjadi orang yang pandai mensyukuri berbagai nikmat Allah, terutama panca indra. Dan lebih utama adalah ni’mat pendengaran.

Syukuri nikmat pendengaran dengan banyak mendengarkan ayat-ayat Allah, mendengarkan nasihat dan taushiyah, mendengarkan panggilan dan seruan orangtua, menuntut ilmu syar’i dan lain-lain. Jauhi mendengar musik, ghibah, gosip, bisikan-bisikan jahat dan lain-lain, karena hal itu adalah bagian dari kufur nikmat.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here