Hidup dan Mati di Atas Sunnah
(Khutbah Seragam Iedul Fitri 1429 H dikeluarkan Dewan Syariah WI)

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ

أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

 

وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

﴿ يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ا مَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا

رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴾

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ﴾ أَمَّا بَعْدُ …

 فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ

الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Manusia-manusia beriman adalah makhluk yang paling bahagia di dunia ini, karena kebahagian dan kegembiraannya adalah hakiki dan sejati. Kegembiraan dan kebahagiaan itu terbit dari pusat kesadaran manusiawi kehambaannya, menyinari segenap hatinya, menajamkan pandangan dan kepekaannya. Betapa tidak, kegembiraan itu adalah titah Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pengasih Allah Tabaraka Wata’ala :

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".(QS.Yunus:58)

Maka di hari yang mulia ini, setelah Allah dengan rahmatNya memberi hidayah dan ‘inayah kepada manusia-manusia pilihanNya selama sebulan mengasah diri dengan ibadah tak kenal lelah -shiyam, qiyam, shadaqah, dan lain sebagainya- sampailah mereka pada  hari yang berbahagia ini, hari yang memang telah ditetapkan oleh Allah untuk bergembira, dengan kegembiraan imani yang mengantar kepada kesadaran kehambaan sejati sehingga lisan berucap dan bibir bergetar dalam lantunan takbir yang paling indah, walaupun api rindu pada bulan Ramadhan yang penuh berkah masih tetap menyala dan membara, seperti menyala dan membaranya iman itu sendiri.

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

……dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(QS.Al Baqarah: 185)

Semoga Allah Azza Wajalla berkenan menerima segala ketaatan dan ibadah kita semua, dan semoga kita masih diberi kesempatan menikmati ibadah dan ketaatan dalam Ramadhan yang mulia di tahun-tahun mendatang. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Takbir berkumandang dari lapangan indah tertata rapi hingga yang becek berlumpur, takbir berkumandang di masjid-masjid megah hingga surau-surau kecil di pegunungan nun jauh di sana, takbir berkumandang di antara reruntuhan masjid di negeri Irak -semoga Allah membebaskan kaum muslimin di sana dari segala ujian-.

Takbir juga berkumandang di antara bukit-bukit terjal dan goa-goa sempit tempat persembunyian, disertai desingan peluru dan letupan mortir dan bom, di samping mayat-mayat bergelimpangan saudara-saudara kita di Afganistan -semoga Allah menolong mereka-. Takbir  pun tetap  berkumandang di penjara-penjara yang gelap, sempit dan pengap di negara Yahudi, Israel di mana kaum muslimin Palestina banyak yang meringkuk di dalamnya.

Namun karena iman semua masih bertakbir, semua masih bisa bergembira, ya … takbir ini menabur harapan, menyemaikan cita-cita.
 
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum Muslimin a’azzakumullah ! Semoga Allah memuliakan anda sekalian
Di tengah kebahagiaan dan kegembiraan Idul Fitri ini ternyata kondisi kita masih terbalut dengan berbagai masalah dan problema yang mendera, baik dalam tataran nasional maupun global. Kezaliman tiada tara masih saja dipertontonkan sekumpulan musuh-musuh Allah di berbagai belahan negeri kaum muslimin, sementara sebagian kaum muslimin lainnya masih terlalu sibuk dengan “dunia” mereka, bahkan tidak sedikit yang “sibuk” dengan kemaksiatannya.
   
Sementara di negeri ini, kenaikan harga kebutuhan pokok yang sangat drastis dan menggila yang tidak diiringi kenaikan pendapatan dan penghasilan, menambah panjang daftar warga miskin di bumi Allah yang bernama Indonesia ini.    Sungguh miris hati ini menyaksikan sebagian saudara kita yang karena desakan kebutuhan hidup sampai rela berebutan pembagian bantuan sejumlah Rp.30.000 untuk setiap orangnya, hingga harus ada yang menjadi korban nyawa demi hal itu -sebagaimana yang terjadi di bulan Ramadhan lalu-. Sungguh  mereka tidak akan rela berdesakan dan berebut seperti itu jika kebutuhan pokok mereka terpenuhi.

Subhanallah, inilah potret masyarakat kita, potret kita sendiri !
Hal ini mungkin tidak terlalu terasa dampaknya bagi kaum elite dan orang-orang kaya, karena pendapatan mereka yang sangat tinggi membuat mereka tetap tenang-tenang saja. Kesenjangan sosialpun semakin lebar merekah.
   
Kenyataan pahit ini ternyata bukan hanya ada di negeri kita, tapi juga hampir merata di berbagai belahan negeri kaum muslimin yang lain, Wallahul Musta’an wa Alaihit Tuklaan, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepadaNya kita bertawakkal.

Kaum Muslimin, Allafallahu Qulubakum bittaqwa!
Semoga Allah menyatukan hati-hati  ini dengan taqwa
Sejak beberapa waktu yang lalu, seiring dengan dilaksanakannya pemilihan langsung kepala daerah, maka suhu perpolitikanpun semakin menghangat bahkan di beberapa tempat sempat memanas dan menjadi pemicu konflik horisontal antara pendukung para kandidat. Sistem yang  awalnya diharapkan menampung aspirasi rakyat secara maksimal, justru pada sisi lain membutuhkan cost (harga) yang sangat mahal, sehingga jika dihitung-hitung berapa dana yang harus dikeluarkan negara untuk pelaksanaan Pilkada ini, maka kita akan tercengang dan terperangah. Pada tahun 2005 saja, kendati pemilihan kepala daerah (pilkada) hanya diselenggarakan di 11 provinsi dan 215 kabupaten/kota, namun anggaran totalnya tidak kurang dari Rp 2,28 triliun, itupun ternyata belum cukup.  Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan setiap kandidat untuk kampanye yang jumlahnya mungkin lebih dari jumlah di atas. Subhanallah….

Terbayang dalam benak kita sebagai warga negara yang berpikiran sederhana, seandainya semua biaya itu diperuntukkan buat sekian juta rakyat yang papa, seandainya sebagian biaya itu dipakai untuk kampanye dakwah, seandainya sebagian dana itu diperuntukkan untuk menutupi anggaran pendidikan, seandainya sebagian dana itu digunakan untuk membantu pengobatan warga tidak mampu, dan sederet ”andai” yang hanya tinggal ”andai” semata.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum Muslimin tsabbatakumullah
Semoga Allah meneguhkan kita semua dalam dienNya yang mulia ini.
Diantara semua problema dan permasalahan yang dihadapi umat dewasa ini, yang paling berbahaya adalah yang mengancam aqidah dan keyakinannya. Berjalan seiring dengan peperangan fisik yang dilancarkan musuh-musuh agama Allah, merekapun merancang dan menyerang dengan perang pemikiran, yang ditujukan untuk melucuti kaum muslimin dari aqidahnya yang suci. Kedua hal ini berjalan bersama secara simultan sepanjang sejarah. Kenyataan ini menjadi dalil historis empiris akan firman Allah Ta’ala:

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS. Al Baqarah: 217)

Berbagai isu dan syubhat dilontarkan secara bertubi-tubi kepada umat Islam, mulai masalah muamalah seperti upaya penghalalan riba, masalah ibadah dengan  munculnya pemikiran untuk reformasi imamah dalam shalat berjamaah hingga wanita pun boleh menjadi imam bagi kaum lelaki, dan hingga saat ini yang hendak digerogoti sudah sampai pada masalah aqidah, bahkan ada yang mulai meragukan keotentikan al-Qur’an, muncul nabi-nabi palsu, meragukan hari akhirat atau minimal menganggap iman kepadanya tidak penting, dan yang paling anyar adalah isu pendekatan antara agama yang sebenarnya hanya kamuflase untuk merontokkan aqidah al-wala’ dan al-Bara’, sehingga keyakinan bahwa hanya Islam yang diterima oleh Allah Azza Wajalla  sebagaimana firmanNya :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ….

 “ Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS.Ali Imran:19)

hendak dilunturkan dengan jargon “semua agama sama ……
Naudzubillah min dzalik

Kenyataan ini menjadi semakin parah dengan semakin maraknya propaganda Syi’ah Rafidhah yang membungkus aqidah sesat mereka dengan militansi palsu yang membuat terperangkap banyak dari kalangan umat Islam dengan propaganda busuk itu.

Mereka menampakkan diri seakan membela umat, padahal sebenarnya merekalah yang bersekongkol dengan musuh umat Islam itu sendiri bagaikan serigala berbulu domba.

Mereka menabur benih kebencian terhadap Sahabat Nabi  yang merupakan manusia-manusia terbaik umat Muhammad  seperti pengkafiran mereka terhadap Abu Bakar, Umar hingga Aisyah istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Wallahul Musta’an   

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu
   
Ummatal Islam Hafidzakumullah
Semoga Allah selalu menjaga kita semua dari semua keburukan
   
Dengan kenyataan dan fenomena ini apakah kita boleh menyerah atau bahkan berkecil hati ?!
JAWABANNYA JELAS; TIDAK !!!
Allah berfirman menegaskan hal ini :

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS.Ali Imran:139)

Agama ini, dienullah ini, al-Islam ini adalah ajaran yang diturunkan Allah, dan Dia sendiri yang telah berjanji menjaganya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. al-Hijr : 9)

Kenyataan sejarah sekali lagi menjadi bukti yang tidak terbantahkan tentang hal ini, betapa sejak awal-awal Islam ini kaum kuffar telah berupaya sekuat tenaga untuk memutar balikkan ajarannya, atau bahkan membuat ayat-ayat tandingan dari al-Qur’an, namun semua itu tidak dapat meruntuhkan benteng ajaran Islam yang kokoh dan tegar ini. Telah banyak manusia-manusia jahat yang berusaha untuk menghancurkan ajaran Islam dan kaum muslimin, namun selalu saja pada akhirnya mereka gagal dan terkalahkan walau mungkin pada awalnya mereka tampak seperti pemenang, namun pada hakekatnya mereka adalah pecundang.

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. dan Itulah tempat yang seburuk-buruknya".(Q.S Ali Imran:12)

Mengapa? Karena tujuan utamanya untuk menghilangkan dan menghancurkan agama dan dien yang mulia ini, tidak menjadi kenyataan, dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Benar …, bahwa dalam mempertahankan kebenaran selalu ada di antara pengusung kebenaran itu yang menjadi korban, sampai mengorbankan nyawa sekalipun, namun itulah hakekat kemenangan.

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,
(Qs.Ali Imram 140)
     
Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bersabda dengan penuh keyakinan :

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ هَذَا الدِّينَ، يُعِزُّ عَزِيزًا وَيُذِلُّ ذَلِيلًا، عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْر (رواه الإمام أحمد)

        
"Sungguh perkara ini akan sampai, seperti sampainya siang dan malam, dan Allah tidak akan melewatkan sebuah rumah di desa ataupun di kota melainkan Ia akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan kemuliaan seorang yang mulia, ataupun dengan kerendahan seorang yang rendah. Kemuliaan yang Allah muliakan dengannya Islam ini, dan kehinaan yang Allah hinakan dengannya kekufuran. (HR. Imam Ahmad)    

Dan yang harus menjadi pedoman setiap muslim dalam kondisi seperti ini -tentunya dalam setiap kondisi- adalah cahaya kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم.

Dalam sebuah pertemuan dengan sahabatnya di penghujung umur beliau yang mulia -yang penuh dengan perjuangan menegakkan ajaran Ilahi- Beliau bersabda :

فإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“… Maka barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ ar-Rasyidin setelahku, gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. (HR.Abu Daud)
   
Sunnah bukan hanya bermakna fiqh seperti yang selama ini dipahami sebagian kita, yaitu suatu amalan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa, namun makna Sunnah yang lebih luas adalah menapaktilasi perjuangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم secara utuh dalam segala sisi kehidupan, dan ini sekaligus pembuktian cinta pada Allah سبحانه وتعلى, bukankah Allah سبحانه وتعلى berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيم

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Ali Imran:31)

as-Sunnah inilah menjadi furqan (pembeda) antara mukmin sejati dan yang sekedar pengakuan di bibir semata. Berpegang teguh pada Sunnah berarti kembali kepada jati diri umat ini, kembali pada teladan sejati tanpa perlu merasa bangga dengan yang lainnya.

Kembali kepada Sunnah berarti meneguhkan kembali aqidah dan pokok-pokok agama ini. Membersihkan landasan utama keberagamaan kita, tanpa perlu membelenggu diri dengan bentuk-bentuk kesyirikan dan khurafat serta keyakinan jahiliyah tradisional maupun jahiliyah modern. Berkata Abdullah bin Umar bin al-Khattab رضي الله عنه:

"مَا فَرِحْتُ بِشَيْئٍ مِنَ الإِسْلام أَشَدُّ فَرْحًا بِأَنَّ قَلْبِيْ لَمْ يَدْخُلْهُ شَيْئٌ مِنْ الأَهْوَاءِ "

“Tidak ada yang membuat aku lebih gembira dalam Islam ini kecuali bahwa tidak masuk dalam hatiku sediktpun dari al-Ahwa’ (penyimpangan)”

Kembali kepada Sunnah berarti kita harus bersabar dalam menjalani ketaatan pada Allah dan RasulNya, karena kesabaran itulah yang akan menjadikan perjalanan di atas Sunnah ini menjadi nikmat, walau penuh dengan cobaan dan rintangan.

Kembali kepada Sunnah berarti mengembalikan manusia pada fitrah kehambaannya, membebaskan mereka dari penghambaan kepada makhluk, siapa dan apapun dia,  kepada penghambaan sejati hanya kepada Allah Tabaraka Wata’ala.

Kembali kepada Sunnah juga berarti mengembalikan tatanan kehidupan masyarakat yang telah tercemari nilai-nilai jahiliyah kepada nilai Tauhid, sehingga mereka dalam hubungan kemasyarakatan dan hukum mereka hanya rela diatur oleh aturan dan syariat Allah Subhanahu Wata’ala,sebagaimana firmanNya:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

  
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an:Nisa’:65)

Kembali sepada Sunnah berarti berusaha memahami dan mengamalkan Islam  dengan benar, sesuai dengan laku dan pelaksanaan generasi terdahulu umat ini karena merekalah generasi yang telah mendapat pengakuan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ , ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ ….

"Sebaik-baik manusia adalah yang ada di zamanku, kemudian yang datang setelahnya, kemudian yang datang setelahnya… (HR.Muslim)

Kembali kepada Sunnah adalah berarti mewujudkan pribadi, keluarga dan masyarakat yang bertaqwa kepada Allah, yang membebaskan diri mereka dari penjajahan hawa nafsu, agar hawa nafsu itu tunduk dengan tali kekang ketaatan dan khasyah, takut pada Allah Azza Wajalla.

Inilah solusi sesungguhnya dari semua permasalahan yang dihadapi umat ini, kekuatan kita untuk menyelesaikannya adalah jika kita kembali pada ajaran, wahyu dan syariat Sang Maha Kuat Allah Azza Wajalla karena itulah jalan yang lurus :

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus" (QS. az-Zukhruf:43)

Dan jangan sekali-kali kondisi separah apapun membuat kita menyerah atau kehilangan kendali diri hingga melenceng dan keluar dari jalan lurus ini :

وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيراً

Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.(QS.al-Isra’:74-75)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Ummatal Islam Rahimakumullah
Semoga Allah senantiasa mengasihi dan menyayangi kita semua !

Melalui kesempatan ini pula kami menyerukan para pemimpin dan calon pemimpin untuk senantiasa meminta dan memohon petunjuk Allah dalam menjalani kepemimpinannya, dan agar Allah memberi taufiq untuk menjalankan Syari’atNya, karena itulah jalan keselamatan dunia dan akhirat.
Khusus kepada para bunda dan ukhti, saudari kami seiman dan seaqidah, jadikanlah hijab menjadi pakaianmu, taqwa adalah bekalmu dan iffah menjadi perhiasanmu. Jagalah lisan, tangan dan seluruh dirimu dari kemurkaan Allah Azza wajalla.

Wahai setiap ibu !
Andalah penebar kasih pada buah hati anda, sirami mereka dengan iman, buat mereka cinta al-Qur’an, as-Sunnah dan orang sholih, kuatkan mereka dengan tekad dan himmah dan jadikan mereka mujahid dan pejuang agama Allah yang pantang menyerah.

Wahai setiap istri !  Kekasih sang suami.
Anda adalah pelabuhan hatinya, biarkan ia bersandar dengan tenang di tengah hiruk-pikuknya dunia, berikan senyum yang paling tulus padanya, Allah telah memilihkan dia untuk anda, taatilah dia dalam ketaatan pada Allah, jangan khianati dia, jaga diri anda untuknya. Semoga Allah mempertemukan anda berdua di JannahNya kelak dalam rumah kesetiaan sebagaimana anda menjaganya di dunia ini.

Untuk anda wahai para pemuda harapan umat, di pundak anda terpikul amanah perjuangan, jangan biarkan diri terlena di masa muda dalam kemaksiatan dan dosa, biarkan ketaatan pada Allah menjadi pakaian masa muda, yang akan menjadi penyejuk mata di kala tua, menjadi bekal setelah mati. Sadarlah bahwa anda selalu menjadi sasaran musuh-musuh Allah, jangan lengah ! jangan sampai mereka menang ! tapi jadikan diri anda sebagai pemenang ! dan biarkan mereka menjadi pecundang.

Wahai para da’i, guru dan penuntun umat !
Jadilah teladan yang mengesankan, ikhlaskan niat, padukan tekad, Allah telah memilih anda. Jangan sia-siakan karunia ini, ikuti jejak panglima kita Rasulullah صلى الله عليه وسلم, agar kelak kita berkumpul dengan beliau صلى الله عليه وسلم

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Akhirnya marilah kita semua, saat ini, ketika kaki  berpijak di atas bumi Allah, bernaung di bawah langit ciptaan Allah yang tanpa tiang ini, di hari yang mulia ini, kita menundukkan jiwa dan raga, memohon pada Allah yang Maha Mulia agar melapangkan hati kita sepenuhnya untuk Islam dan Sunnah .
Allahumma Rabbana, sungguh kami tak sanggup menghitung karuniaMu pada kami, dan sunguh kami pun tak sanggup menghitung dosa-dosa kami padaMu,

Ampunilah kami wahai Sang Maha Pengampun. Hanya ampunanMu yang kami damba, rahmatilah kami, kaerena rahmatMu yang kami rindu.

Ya Allah, Ya Sittiir tak ada yang sanggup menutupi aib ini dariMu, semua cela dan dosa kami jelas bagiMu. Tutupilah aib dan cela kami wahai Sang Maha Penutup aib dan Cela.

Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap padaMu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunanMu meliputi segala sesuatu. Karena itu Yaa Allah, ampunilah segala dosa kami, hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlaq dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan di antara kami.

Ya Qawiy ya Aziz ! wahai Rabb kami yang Maha Perkasa.
Berikan pertolonganMu pada setiap saudara kami seiman yang tertindas di manapun mereka berada Yaa Allah. Kuatkan hati mereka, satukan langkah mereka, tepatkan bidikan mereka pada sasarannya Yaa Allah.

Yaa Allah yang Maha Kuasa bebaskan setiap jengkal tanah Palestina dan negeri Islam dari penjajahan musuh-musuhMu. Hancurkan mereka Yaa Allah, jangan biarkan mereka berlaku ponggah dan sombong di atas bumiMu. Yaa Allah ampuni kami, jangan tunda pertolonganMu pada mereka karena dosa-doasa kami.

Laa ilaha illa anta subhanaka inna kunna minadl Dlalimin.
Wahai sang maha Penyayang, sayangilah kami dan para kedua orang tua kami, dalam hidup dan matinya Yaa Allah. Allahum Rabbana, berikanlah cahayaMu pada setiap hati mereka yang kelam dengan kemaksiatan, berilah petunjukMu pada setiap langkah mereka yang tersesat, sesungguhNya Engkau mencintai hamba-hambaMu yang kembali bertaubat padaMu.Jika Engkau biarkan kami mendapati penghujung hidup mereka, jadikanlah mereka pintu sorga kami, buat kami berpeluh nikmat berkhidmat dan berbakti pada mereka. Namun jika Engkau telah takdirkan mereka dahului diri ini menghadap padaMu, maka ampunilah semua kesalahan kami pada mereka Yaa Allah, jangan catatkan setiap bentakan dan suara keras kami pada mereka, dalam catatan amal buruk kami. Ampuni mereka Yaa Allah, dan ampuni kami semua, pertemukan kami dalam pandangan rahmatMu di sorgaMu yang kekal abadi.

Ya Allah berkahilah para ulama, ustadz dan guru-guru kami, yang jasanya tidak dapat kami balas kecuali dengan limpahan rahmatMu pada kami semua, jagalah mereka dalam ketaatan padaMu,

Ya Allah jadikanlah kami penolong AgamaMu dan Sunnah NabiMu .

Ya Allah hidup dan matikanlah kami di atas Islam dan Sunnah.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

 

Artikulli paraprakKeluarga Besar WI Shalat Ied di Lapangan Eks Terminal Toddoppuli
Artikulli tjetërMAKSIMALISASI AMAL SHALEH Sebuah Refleksi Nilai Takwa Pasca Ramadhan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini