Hadits Kedua Arbain (Bag.3)

Penjelasan Lanjutan hadits kedua Arba’in :

áÇó íõÑóì Úóáóíúåö ÃóËóÑõ ÇáÓøóÝóÑö …  ”

"… Kami tidak melihat tanda-tanda perjalanan pada dirinya…"

Para sahabat yakin bahwa orang tersebut adalah orang asing yang datang dari tempat yang jauh, sebab para sahabat tidak ada yang mengenalinya padahal  ukhuwah diantara mereka sangat erat. Namun yang membuat mereka heran karena para sahabat tidak melihat tanda-tanda perjalanan padanya sebagaimana lazimnya orang yang mengadakan perjalanan/safar (tidak kusut, tidak berkeringat dan pakaiannya bersih)

…  æóáÇó íóÚúÑöÝõåõ ãöäøóÇ ÃóÍóÏñ ÍóÊøóì ÌóáóÓó Åöáì ÇáäøóÈöíø 

 “…tidak ada seorangpun  di antara kami yang mengenalnya sampai ia duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. . .”

Sahabat bertambah kaget ketika orang tersebut langsung mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklahlah dikenali dengan mahkotanya atau pakaian dan singgasananya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin yang sangat tawadhu dan bersahaja. Bahkan Umar radhiyallahu’anhu pernah menangis karena melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sosok pemimpin ummat tidur di atas  tikar kasar yang membekas pada tubuh beliau sedangkan Kaisar Romawi begitu mewahnya kehidupannya padahal ia hanya memimpin satu negara.(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena tidak jelas yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang seseorang harus bertanya yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah majelis yang dihadiri Rasulullah. Tetapi dalam hadits ini orang tersebut  tidak bertanya melainkan langsung duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda dengan orang asing lainnya seperti Badui yang harus bertanya terlebih dahulu .[1]

ÝóÃóÓúäóÏó ÑõßúÈóÊóíúåö Åöáì ÑõßúÈóÊóíúåö æóæóÖóÚó ßóÝøóíúåö Úóáóì ÝóÎöÐóíúåö

lalu Jibril merapatkankan lututnya ke lutut Rasulullah dan (Jibril) meletakkan telapak tangannya di atas pahanya…”
Úóáóì ÝóÎöÐóíúåö  diiktilafkan karena lafazh Muslim tersebut bersifat muhtamal[2].
Sebagian mengatakan bahwa Jibril meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri.
Dan ini pendapat yang dipilih oleh Imam Nawawi   ÑÍãå Çááå[3] dan Syaikh Utsaimin  ÑÍãå Çááå [4] dengan alasan cara duduk seperti ini menunjukkan adab seorang murid kepada gurunya
 Ibnu Daqiq Al ‘Ied[5] ÑÍãå Çááå dan Ibnu Hajar Al-Asqalani ÑÍãå Çááå [6] berpendapat bahwa Jibril meletakkan tangannya di atas paha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Dan pendapat yang rajih-Insya Allah-adalah yang kedua. Kita merajihkan hal ini karena disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i (4991)  yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ;

ÍóÊøóì æóÖóÚó íóÏóåõ Úóáóì ÑõßúÈóÊóíú ÑóÓõæáö Çááøóå ö

"… hingga Jibril meletakkan tangannya di atas kedua lutut  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beberapa pelajaran yang kita ambil dari potongan hadits ini:
1. Keutamaan mencari langsung ilmu kepada ulama yang dipercayai dengan memperhatikan    adab seorang penuntut ilmu terhadap gurunya sebagaimana Jibril ‘alaihissalam mencari ilmu  langsung kehadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dengan melekatkan lututnya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
2. Sekali lagi ini menunjukkan bagaimana seharusnya adab seorang penuntut ilmu bila berada dalam majelis ilmu terutama kalau ingin bertanya atau meminta fatwa.
3. Isyarat untuk bermajelis dekat dengan seorang guru, dan hal ini juga ditunjukkan dalam hadits yang lain :

Úóäú ÃóÈöí æóÇÞöÏò ÇááøóíúËöíøö Ãóäøó ÑóÓõæáó Çááøóåö   ÈóíúäóãóÇ åõæó ÌóÇáöÓñ Ýöí ÇáúãóÓúÌöÏö æóÇáäøóÇÓõ ãóÚóåõ ÅöÐú ÃóÞúÈóáó ËóáóÇËóÉõ äóÝóÑò ÝóÃóÞúÈóáó ÇËúäóÇäö Åöáóì ÑóÓõæáö Çááøóåö  æóÐóåóÈó æóÇÍöÏñ ÞóÇáó ÝóæóÞóÝóÇ Úóáóì ÑóÓõæáö Çááøóåö  ÝóÃóãøóÇ ÃóÍóÏõåõãóÇ ÝóÑóÃóì ÝõÑúÌóÉð Ýöí ÇáúÍóáúÞóÉö ÝóÌóáóÓó ÝöíåóÇ æóÃóãøóÇ ÇáúÂÎóÑõ ÝóÌóáóÓó ÎóáúÝóåõãú æóÃóãøóÇ ÇáËøóÇáöËõ ÝóÃóÏúÈóÑó ÐóÇåöÈðÇ ÝóáóãøóÇ ÝóÑóÛó ÑóÓõæáõ Çááøóåö  ÞóÇáó ÃóáóÇ ÃõÎúÈöÑõßõãú Úóäú ÇáäøóÝóÑö ÇáËøóáóÇËóÉö ÃóãøóÇ ÃóÍóÏõåõãú ÝóÃóæóì Åöáóì Çááøóåö ÝóÂæóÇåõ Çááøóåõ æóÃóãøóÇ ÇáúÂÎóÑõ ÝóÇÓúÊóÍúíóÇ ÝóÇÓúÊóÍúíóÇ Çááøóåõ ãöäúåõ æóÃóãøóÇ ÇáúÂÎóÑõ ÝóÃóÚúÑóÖó ÝóÃóÚúÑóÖó Çááøóåõ Úóäúåõ ãÊÝÞ Úáíå

Dari Abu Waqid Al Laytsi radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara duduk di mesjid bersama para sahabat lalu ada tiga orang berjalan menuju mereka; dua orang diantara mereka menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang ketiga lewat begitu saja. Maka dua orang tadi berhenti di majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salah seorang diantara keduanya melihat ada tempat lowong di halaqah maka ia duduk di tempat tersebut sedang orang yang kedua duduk di belakang mereka (agak menjauh dari majelis) adapun orang yang ketiga pergi berlalu begitu saja. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari majelisnya, beliau bersabda : "Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang tiga orang tersebut? Adapun orang yang pertama maka ia berlindung kepada Allah maka Allah melindunginya, adapun orang yang kedua; dia malu maka Allah pun malu kepadanya dan orang yang ketiga berpaling dari majelis maka Allah pun berpaling darinya" (HR. Bukhari dan Muslim)


 

[1] Dalam riwayat Nasa’i dijelaskan pada saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai majelis yang agak khusus karena selama ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang dikenali oleh tamunya, sehingga sahabat bertanya : “bagaimana pendapatmu kalau kami membuatkan untukmu sebuah tempat yang khusus?’ Dan ini yang tejadi saat itu sehingga orang itu (Jibril ‘alaihissalam) langsung mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu ta’ala a’lamu.

Dalam riwayat Nasa’i dijelaskan pada saat itu Nabi mempunyai majelis yang agak khusus karena selama ini Rasulullah kurang dikenali oleh tamunya, sehingga sahabat bertanya : “Dan ini yang tejadi saat itu sehingga orang itu (Jibril ) langsung mengetahui beliau . Wallahu ta’ala a’lamu.

23 Muhtamal artinya lafazh yang memungkinkan bermakna ganda

[3] Lihat Al Minhaj (1:113)

[4]  Syarhu Riyadhush  Sholihin

[5]  Syarhu Al Arbain oleh Ibnu Daqiq (hal. 31)

[6]  Fathul Bari (1:155)

[7] Lihat : Ta’liqaat ‘Alaa Al Arbain An Nawawiyah oleh Syaikh Al Utsaimin

[8] Hilyah Tholibil Ilmi (hal 35-36)

Artikulli paraprakJadwal Radio Telstar
Artikulli tjetërPenutupan Daurah Tarqiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini