(Makassar-wahdah.or.id)- Dalam Seminar Peradaban yang digelar Panitia Muktamar III Wahdah Islamiyah (WI) di Gedung Graha Pena Makassar, Sabtu (28/5) Ustadz Ilham Jaya,Lc.,MA membawakan Materi tentang Islam Wasathiyah.

Kandidat Doktor Pemikiran Islam Universitas Teknologi Malaysia (UTM) ini mengawali materinya dengan mengisahkan pengalamannya menimba ilmu di Madinah. Ia kemudian menyimpulkan bahwa ada perbedaan antara kondisi di Indonesia dengan kondisi di Saudi Arabia.

“Di Indonesia kita memiliki tantangan dakwah yang berbeda dengan tantangan dakwah di Saudi, karena itu kita juga harus menggunakan bahasa-bahasa dakwah yang sesuai dengan kondisi di tanah air,” simpulnya.

Karena itu, menurut Mantan Ketua STIBA Makassar ini, akan menjadi persoalan besar ketika kita mengambil konflik yang terjadi di Saudi kemudian kita introdusir dan menjadikannya sebagai PR baru bagi umat Islam di Indonesia.

Istilah Islam yang washathan menurut Ustadz Ilham muncul dari sebuah kesadaran bahwa di Indonesia ini kita punya masalah-masalah tertentu di mana persoalan-persoalan tersebut bukan persoalan yang telah dibahas oleh para ulama di Saudi Arabia seperti Syaikh Ibn Baz, Syaikh Ibn Utsaimin, dan lain-lain.

“Umat Islam di Indonesia juga memiliki persoalan-persoalan tersendiri yang karenanya kita juga bertanggung jawab untuk menguasai serta menggunakan metode-metode yang sesuai dengan keadaan kita,”ujar Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah ini

Ustadz Ilham menyadari bahwasanya apa yang telah didapatkannya di Timur Tengah adalah pondasi pemahaman keagamaan yang yang bagus. Akan tetapi ketika bersentuhan dengan realitas dakwah maka tidak boleh membawa mentah-mentah apa yang telah dipelajarinya itu kecuali setelah melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada di lapangan. “Layaknya seorang dokter yang sebelum memberikan resep obat kepada pasiennya terlebih dahulu mendiagnosa pasiennya tersebut,” ujarnya.

Kandidat Doktor ini menyebutkan bahwa di Indonesia saat ini banyak model-model Islam yang diwacanakan, namun mengapa Islam yang wasathan ini menjadi unik, karena ini merupakan istilah yang disebutkan dalam al-Qur’an.
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahkan dalam ibadah sekalipun agar kita tidak berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan dalam artian sampai kepada taraf kemudian kita mungkin suatu saat justru meninggalkan ibadah itu sendiri.

“Islam memiliki nilai-nilai substansi yang tidak mungkin berbeda dengan satu tempat dengan tempat yang lain. Akan tetapi juga memiliki nilai-nilai lokal yang harus mengakomodir kearifan-kearifan lokal selama itu tidak mengorbankan nilai-nilai substansi yang ada dalam ajaran agama Islam,” jelasnya (SQ/ed:sym)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here