Ibnu Rajab rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya setiap manusia ibarat sedang bertani dengan perkataan dan amalannya, yang baik ataupun yang buruk. Hasil dari apa yang ia tanam itu akan dipanen pada hari kiamat kelak. Siapa yang menanam kebaikan dari perkataan dan perbuatannya, niscaya ia akan memanen kemuliaan. Barangsiapa menanam keburukan dari perkataan dan perbuatannya, niscaya ia akan menyesal.” (Jamiul Ulum Wal Hikam: 310)

Lisan, memang patut untuk dijaga. siapa yang tidak mampu menjaganya, maka ia akan mendapatkan banyak masalah.Betapa banyak manusia yang mendapat musibah karena tak mampu menjaga lisannya. Karena itulah, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata pada lisannya sendiri: “Celakalah engkau! Katakanlah yang baik maka kau akan beruntung, atau diamlah dari keburukan niscaya kau akan selamat. Jika tidak, ketahuilah engkau pasti akan menyesal.” (Jami’ulUlumWalHikam: 310)

Salah satu dosa besar yang sering dilakukan oleh lisan adalah ghibah. Ia merupakan dosa besar yang sering diabaikan manusia. Dosa ini seringkali juga menyamar dalam bentuk lain, sehingga kerap dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan atas nama perbaikan,padahal ia adalah dosa besar yang yang dapat menjadikan seseorang bangkrut pada hari kiamat.

Ghibah kini lebih sering menyusup dalam istilah tahdzir (memberi peringatan kepada manusia). Tahdzir hakikatnya merupakan kewajiban jika dilakukan dengan cara yang benar. Hanya saja, setan tidak jarang menghiasi dosa ghibah hingga akhirnya nampak seperti tahdzir, padahal ia  adalah ghibah. Karena itu,banyak dari kalangan penuntut ilmu syar’i pun tenggelam di dalamnya. Mereka mencari-cari kekurangan, aib dan ketergeliciran kata saudara mereka lalu membicarakannya dan menertawakannya dalam mejelis mereka. Mereka  mengira perbuatan yang mereka lakukan adalah kebaikan, padahal ia adalah ghibah.

Inilah penyakit yang saat ini sedang mewabahi kaum muslimin –kecuali orang-orang yang dirahmati Allah-, satu penyakit membinasakan yang amat lezat yang menjadikan banyk orang menggandrunginya.

Penyakit ini menjadikan pengidapnya gemar mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain lalu memviralkannya di tengah-tengah masyarakat. Penyakit ini juga menjadikan pengidapnya juga akan kebaikan saudaranya, sehingga jika nempak kebaikan pada saudaranya yang diumpati itu, mereka akan diam. Sebab, yang mereka cari dari saudaranya hanyalah ketergelincirannya dalam berucap.

Parahnya, dosa ghibah ini akan merubah watak seseorang menjadi seorang manusia yang berwatak layaknya seekor babi. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah:

“Diantara manusia ada yang tabiatnya seperti tabiat babi. Babi itu jika melewati sesuatu yang baik-baik ia tidak berhajat padanya.Namun, jika ada seorang manusia yang selesai buang kotorannya, maka ia itu akan mendatanginya dan melahap habis kotoran tersebut. Seperti itulah tabiat kebanyakan manusia. Mereka mendengar dan melihat kebaikanmu berliapat-lipat dari kesalahanmu akan tetapi kebaikan itu tidak mereka hafalkan, tidak mereka nukil dan tidak pula cocok dengannya. Tapi jika melihat ketergelinciran atau ucapan yang cacat, maka ia mendapatkanapa yang ia carinya yang dijadikan sebagai buah santapan, kemudian ia sebarkan.” (Madariju as-salikin: 1/403).

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: “Ghibah itu lebih berbahaya daripada utang, sebab utang bisa dibayar sedang ghibah tidak bisa”.

Ghibah dan kebangkrutan

Ibnu Qayyim al-Jauziyahrahimahullah berkata:

“Beruntunglah orang-orang yang menyibukkan dirinya untuk melihat aib-aib dirinya sendiri dan celakalah orang-orang yang menyibukkan dirinya untuk mencari-cari aib manusia. Orang-orang yang menyibukkan dirnya untuk memeriksa aib dirinya sendiri adalah tanda kebahagiaan, sedang orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan mencari aib-aib manusia adalah tanda kebinasaan”. (Thariqu al-Hijratain: 271)

Ghibah memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebangkrutan pada hari kiamat, sebab pelaku ghibah akan menebus kesalahannya terhadap orang yang telah ia zalimi dengan amal kebaikannya. Para ulama menganggap orang-orang seperti ini sebagai orang yang bedusta.

Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah berkata kepada seseorang: “Wahai seorang yang berdusta (pada dirinya sendiri-pent), engkau begitu kikir dengan urusan duniamu kepada sahabat-sahabatmu, namun engkau begitu dermawan dengan pahala amalan akhiratmu kepada musuh-musuhmu. Engkau tidak mendapatkan uzur dengan kekikiranmu itu dan engkau juga tidak terpuji dengan kedermawanmu itu”.(tanbih al-Ghafilin: 1/177)

Tantang bangkrutnya orang-orang yang senang menghibahi saudaranya disebutkan dalam satu hadits, bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Tahukah kalian siapa orang-orang yang bangkrut?”. Para sahabat berkata: “Orang-orang yang bangkrut diantara kami adalah orang-orang yang tidak memiliki dirham atau harta benda”.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang bengkrut dari ummatku akan datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalatnya, puasanya, zakatnya, namun ia datang dalam keadaan telah mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan dan memukul sifulan. Sehingga diambilkanlah dari kebaikan-kebaikannya untuk menebus kesalahannya pada sifulan, demikian pula orang-orang yang lainnya ini ditebuskan pada mereka kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya sebelum seluruh kebaikannya dihisab, maka akan diambil dari kesalahan orang-oang yang pernah ia zhalimi dan diberikan padanya lalu iapun dilemparkan ke dalam neraka”. (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan akibat buruk dari kezaliman, dimana salah satunya adalah mencela dan menuduh orang lain. Mencela seseorang bisa menjadi salah satu bentuk ghibah, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah menyebut saudara kita dengan sesuatu yang ia tidak sukai.

Pantaslah jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak memberi peringatan tentang bahaya ghibah ini, sebaborang-orang yang terjatuh dalam dosa ghibah tidak menyadari bahwa apa yang mereka ucapkan dapat mendatangkan murka Allah, walau mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan satu ucapan yang dibenci Allah sementara dia menganggapnya sebagai sesuautu yang remeh, ternyata dengan itu dia masuk ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari)

Orang-orang yang berakal pastilah tidak ingin menjadi orang-orang yang bangkrut karena lisannya. Sebab, akal sehat mereka menuntun untuk tidak menjadi budak orang lain, yaitu bermal baik untuk orang lain, sedang diri sendiri hanya mendapat lelahnya bahkan azab dari Allah.

Jagalah lisan

Lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan seseorang dalam neraka jika ia tidak dapat dijaga. lisan pula yang menjadikan seseorang bisa mendapat jaminan surga dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam asal ia mampu menjaga lisannya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dikatakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya ada seorang wanita yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa pada siang hari. Akan tetapi lisannya selalu mengganggu tetangganya, ia memiliki lidah yang sangat tajam”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kebaikan pada wanita itu, dia akan berada di dalam neraka”. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampernah berkata kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, “Maukah engkau kutunjukkan empunya segala kebaikan?” Mu’adz menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang lisannya dan berkata, “Jagalah ini,” Muadzpun bertanya, “Wahai Nabi Allah apakah kami akan dihukum atas apa yang kami katakan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka, wahai Mua’dz bukankah manusia ditelungkupkan di neraka di atas wajah-wajah mereka (atau Nabi berkata di atas kerongkongan mereka) disebabkan lisan-lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Tidak satupun yang lebih aku butuhkan untuk lama dipenjarakan melebihi lisanku.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin: 128)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mampu menjaminkan padaku (ia mampu menjaga) sesuatu yang terletak antara kedua lihyanya (lisan) dan kedua kakiknya (kemaluan) maka aku jaminkan surga baginya”. (HR. Bukhari)

Lisan dan jari-jemari

Di zaman ini, jari-jemari bisa dihukumi sebagai lisan. Sebab, kebanyakan manusia hari ini saling berinteraksi lewat dunia maya. Tulisan-tulisan yang nampak diberbagai jaring sosial adalah hasil dari ketikan jari jemari seseorang.

Oleh karena itu, seseorang tidak hanya dituntut untuk menjaga lisannya, tapi ia juga harus mampu menjaga apa yang bisa dituliskan oleh jari-jemarinya di media sosial. Media sosial hari ibarat menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menjadi sarana dalam berdakwah dengan jangkauan yang sangat luas dan juga bisa menjadi sarana yang sangat mudah menjatuhkan seseorang dalam ghibah dan fitnah.

Semoga Allah selalu menunjukkan kita kebaikan dan menjauhkan kita semua dari berbagai jenis dosa yang dilakukan oleh lisan. Wallahu a’lam.

 Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here