Tadabbur Ayat Piihan #7 || Surah al-Maidah ayat 54
Kaum Terbaik, Generasi Pilihan Allah, Generasi 554 Jadikan Dirimu Bagian Dari Mereka

Allah azza wajalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Faidah:

1. Ayat ini dikenal dengan ayat generasi 554 karena berada pada surah ke 5 (surah al-Maidah) ayat ke 54. Ayat ini menyebutkan tentang generasi terbaik yang Allah pilih untuk menjadi penolong agama-Nya, tatkala orang-orang berpaling dari memperjuangkan islam. Hal ini menunjukkan bahwa islam akan senantiasa jaya, ada atau tanpa keberadaan kita dalam barisan perjuangan ini. Maka kita harus mengambil peran dalam perjuangan demi kejayaan islam untuk menyelamatkan diri kita. Sebab jika tidak, islam akan meninggalkan kita dengan kejayaannya, sedangkan kita terpuruk dalam lembah kehinaan yang dapat membinasakan. Wal’iyadzubillah.

2. Rintangan dalam dakwah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi pada setiap dai. Dengannya Allah menyaring mereka, siapa yang betul-betul mengikhlaskan diri demi meninggikan kalimat-Nya dan mendakwahkan agama-Nya. Karena itu, dalam perjalanannya, banyak diantara mereka yang gugur, tidak berhasil melawati rintangan-rintangan tersebut, walau hakikatnya hal itu merupakan ujian untuk mengangkat derajat mereka. Kegagalan itu, tidak hanya menjadikan mereka futur atau lemah iman. Diantaranya bahkan ada yang murtad dari agamanya karena terpedaya oleh panah-panah syaithan dan mengikuti hawa nafsu mereka.

Oleh karena itu, Allah azza wajalla memberikan satu peringatan kepada setiap muslim yang tidak ingin berjuang untuk agama-Nya, atau terpedaya oleh hawa nafsu mereka sendiri dalam menapaki jalan mulia ini. Bahwasanya jika mereka berpaling dari memperjuangkan agama-Nya, Allah akan mendatangkan generasi terbaik, generasi pilihan untuk menolong agama-Nya. Sebab jalan ini adalah jalannya orang-orang mulia, jalan yang dilalui oleh manusia-manusia terbaik yang tidak takut dengan onak dan duri, tidak takut dengan celaan-celaan manusia dalam perjuangan dakwah. Bukan jalannya para pecundang yang mencari tepuk tangan manusia, berjalan di atas karpet merah mengharap pujian semu manusia. Sesungguhnya jalan ini, adalah jalannya para kesatria-kesatria tangguh yang rela bersimbah darah demi meninggikan kalimat Allah azza wajalla. Jalan ini adalah jalannya para perindu-perindu surga, dan para peminang-peminang bidadari cantik bermata jeli.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يقول تعالى مخبرا عن قدرته العظيمة أن من تولى عن نصرة دينه وإقامة شريعته، فإن الله يستبدل به من هو خير لها منه وأشد منعة وأقوم سبيلا

“Allah azza wajalla mengabarkan tentang kemampuan-Nya yang amat agung bahwa siapa saja yang berpaling dari memperjuangkan agama-Nya dan menegakkan sayariat-Nya, sesungguhnya Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, lebih kuat dan lebih lurus jalannya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/65)

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

يخبر تعالى أنه الغني عن العالمين، وأنه من يرتد عن دينه فلن يضر الله شيئا، وإنما يضر نفسه. وأن لله عبادا مخلصين، ورجالا صادقين، قد تكفل الرحمن الرحيم بهدايتهم، ووعد بالإتيان بهم، وأنهم أكمل الخلق أوصافا، وأقواهم نفوسا، وأحسنهم أخلاقا.

“Allah azza wajalla mengabarkan bahwa diri-Nya adalah Rabb Yang Maha Kaya. Siapa saja yang murtad dari agama ini, hal itu tidak akan memberikan mudharat pada Allah sedikitpun, melainkan memudharatkan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang ikhlas dan jujur. Allah telah menjamin mereka dengan hidayah dan berjanji untuk mendatangkan mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling sempurna sifat-sifatnya, manusia-manusia yang paling lurus jiwanya dan paling baik akhlaknya.” (Tafsir as-Sa’di: 259)

3. Manusia-manusia yang mengharapkan kedudukan mulia di sisi Rabbnya, akan senantiasa berharap dan mencari serta mengutamakan keridhaan Allah daripada mencari pujian manusia. Sebab mereka tahu bahwa tidak ada yang dapat menolong mereka kecuali Allah azza wajalla. Mereka sangat yakin bahwa jika Allah telah mencintai mereka, tidak ada yang dapat menghinakan mereka, sekalipun seluruh manusia membenci dirinya. Mereka sangat yakin bahwa sekalipun seluruh manusia mencintai dirinya, namun jika kecintaan mereka ternyata hanyalah sesuatu yang mendatangkan murka Allah, maka hal itu tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari siksa-Nya yang pedih.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

فإن محبة الله للعبد هي أجل نعمة أنعم بها عليه، وأفضل فضيلة، تفضل الله بها عليه، وإذا أحب الله عبدا يسر له الأسباب، وهون عليه كل عسير، ووفقه لفعل الخيرات وترك المنكرات، وأقبل بقلوب عباده إليه بالمحبة والوداد.

“Sesungguhnya kecintaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya merupakan nikmat dan fadhilah yang paling besar terhadap mereka. Jika Allah telah mencitai mereka, Allah akan memudahkan sebab-sebab kemenangan dan memudahkan seluruh kesukaran. Lalu Allah memberikan kepada mereka taufik untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemungkaran, serta menjadikan hati-hati mereka cinta kepada-Nya.” (Tafsir as-Sa’di: 259)

4. Orang-orang yang dicintai Allah adalah orang-orang yang rela berjuang untuk agama-Nya, dengan ikhlas dan jujur dalam keimanannya. Karena kejujuran iman dan keikhlasannya dalam memperjuangkan agama Allah itu, Allah menukar surga dengannya.

Allah azza wajalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 111)

5. Firman Allah azza wajalla “adzillatin ‘alal mu’minin” (mereka berlemah lembut terhadap kaum mu’minin). Menunjukkan kebaikan dan kemuliaan akhlak mereka kepada seluruh kaum muslimin, tanpa membeda-bedakan mereka. Allah azza wajalla menggunakan kata “lemah lembut” menunjukkan sikap mereka yang sangat adil kepada kaum mu’minin. Sebab sikap kelemah lembutan dalam kehidupan manusia, hanya diberikan kepada seorang kawan atau orang-orang yang disayangi mereka dan tidak pada orang yang menjadi musuh mereka. Adapun sikap adil harus diberikan pada seluruh manusia bahkan seluruh makhluk, yang kawan atau musuh, yang mu’min atau kafir.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

لا يحملنكم بُغْض قوم على ترك العدل فيهم، بل استعملوا العدل في كل أحد، صديقا كان أو عدوًا؛ ولهذا قال: { اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى } أي: عَدْلُكم أقرب إلى التقوى من تركه

“Janganlah sekali-kali kebencian terhadap sautu kaum menjadikan kalian meninggalkan keadilan terhadap mereka, justru berbuat adillah pada setiap orang, baik itu sahabatmu ataupun musuh-musuhmu. Oleh karena itu Allah berfirman, “Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” maksudnya, keadilan kalian sangat dekat kepada takwa dari meninggalkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/29)

Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:

لا يحملنكم بغض قوم على ترك العدل، فإن العدل واجب على كل أحد، في كل أحد في كل حال

“Janganlah karena kebencian terhadap suatu kaum membuat kalian meninggalkan keadilan. Sesungguhnya berlaku adil adalah sesuatu yang wajib ada pada setiap orang, dilakukan pada setiap orang dan pada setiap keadaan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/7)

Jika ada sekelompok manusia, walau mereka mengaku sebagai pengikut Salaf ash-Shalilh, namun karena kebenciannya pada seorang mu’min mereka gemar menyebar tuduhan dusta tentang mereka kepada masyarakat, maka perbuatan mereka adalah bentuk ketidak lemah lembutan terhadap kaum muslimin, serta jauhnya mereka dari sikap adil kepada saudaranya yang seiman. Hal itupula mencerminkan jauhnya mereka dari sifat-sifat Ahlusunnah waljama’ah yang selalu mereka aku-akui.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

فهم للمؤمنين أذلة من محبتهم لهم، ونصحهم لهم، ولينهم ورفقهم ورأفتهم، ورحمتهم بهم

“Mereka terhadap kaum mu’minin sangat berlemah lembut yang dibangun atas rasa cinta kepada mereka, nasehat yang penuh dengan kelemah lembutan dan kasih sayang terhadap mereka.” (Tafsir as-Sa’di: 259)

6. Diantara sifat generasi terbaik ini adalah mereka sangat tegas dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka senantiasa memperlihatkan kemuliaan islam pada orang-orang kafir dan tidak pula menghinakan diri dan agamanya kepada mereka. Akan tetapi sikap keras itu tidak menghalangi seorang muslim untuk terus mendakwahi mereka dengan cara yang baik dan kelemah lembutan. Mereka keras karena memusuhi Allah dan Rasul-Nya, tapi tetap memperlihatkan sikap seorang muslim yang benar, yaitu lemah lembut dalam bermuamalah kepada mereka.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

فالغلظة والشدة على أعداء الله مما يقرب العبد إلى الله، ويوافق العبد ربه في سخطه عليهم، ولا تمنع الغلظة عليهم والشدة دعوتهم إلى الدين الإسلامي بالتي هي أحسن. فتجتمع الغلظة عليهم، واللين في دعوتهم.

“Sikap tegas dan keras terhadap musuh-musuh Allah merupakan perkara yang akan mendekatkan diri kepada Allah, serta bukti bahwa dirinya sepakat dengan keputusan Allah berupa sikap benci terhadap orang-orang kafir. Akan tetapi sikap tegas dan keras itu tidak menghalangi untuk mendakwahi mereka agar masuk pada agama islam, dengan cara yang baik. Sehingga terkumpul dalam diri mereka sikap tegas dan keras serta kelemah lembutan dalam dakwah kepada mereka.” (Tafsir as-Sa’di: 259-260)

7. Firman Allah azza wajalla “Yujahiduuna Fi Sabilillah (mereka berjihad di jalan Allah)” menunjukkan disyariatkannya jihad. Jihad merupakan amalan yang memiliki pahala sangat besar dalam agama islam. Jihad dilakukan tetap dengan ilmu dan semangat, tidak hanya bermodalkan semangat. Sebab dalam jihad ada hukum-hukum yang sangat penting, berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan seluruh makhluk. Dengan memperhatikan hal-hal itu, orang-orang akan yakin bahwa agama islam adalah agam kasih sayang.

Betapa banyak orang yang merusak ibadah mulia ini, ibadah yang merupakan tombak perjuangan yang memperlihatkan ketangguhan dan kemuliaan islam, ibadah yang dengannya seseorang bisa masuk surga dengan singkat, ibadah yang dengannya seseorang dapat memberikan syafaat kepada beberapa keluarga-keluarganya yang telah masuk neraka. Mereka merusak namanya disebabkan kejahilan mereka akan jihad, sehingga mereka melakukan kezhaliman-kezhaliman berupa membunuh manusia dan melakukan aksi-aksi teror, lalu mengatas namakan semua itu dengan jihad. Padahal islam berlepas diri dari semua itu dan menganggap perbuatan zhalim dan aksi-aksi teror itu sebagai kezhaliman dan bukan ajaran islam.

Ada pula orang-orang yang merusak nama jihad dengan berbagai makar atau konspirasi, dilakukan oleh orang-orang yang benci pada agama islam. Mereka merekayasa aksi-aksi teror dengan sandiwara yang sempurna, pandai dan licik, lalu mereka menuduh bahwa kaum muslimin yang melakukannya. Tujuannya adalah membuat phobia terhadap islam dan menjadikan orang-orang memusuhi kaum muslimin. Dengannya mereka bebas membantai kaum muslimin, melakukan genosida diberbagai negri terhdap kaum muslimin, dengan dalih memerangi terorisme. Padahal islam tidak pernah mengajarkan terorisme.

Jihad yang dilakukan islam adalah jihad yang agung, jihad yang mulia dan penuh dengan norma-norma serta tata krama yang sangat tinggi dan mulia. Dalam jihad, islam melarang membunuh wanita, melarang membunuh anak-anak, melarang membunuh bayi, melarang membunuh para pemuka-pemuka agama orang-orang kafir, melarang menyiksa, melarang membunuh warga sipil yang tidak berperang, melarang menebang pohon, melarang menghancurkan bangunan, melarang menghancurkan rumah-rumah ibadah, melarang membunuh hewan kecuali hanya untuk dimakan, harus memberikan makan dan minuman kepada tawanan-tawanan perang, harus menepati perjanjian, tidak boleh memaksa orang lain menjadi muslim, melarang menyerang orang yang telah menyerah dan tidak boleh berlaku semena-mena pada orang yang telah mati. Adakah ajaran perang yang lebih mulia dan lebih memiliki kasih sayang dalam perang dari ajaran agama islam ini???? Sungguh tidak akan didapatkan kecuali hanya pada agama islam.

Oleh karena itu, islam berlepas diri dari berbagai aksi teror yang terjadi di Indonesia yang mengatas namakan jihad. Kejadian-kejadian memilukan tersebut, tidak lepas dari dua hal: pertama, karena kejahilan yang tidak mengenal islam secara benar, dimana pelakunya adalah orang-orang ekstrim berpemahaman khwarij yang mengkafirkan dan menghalakan darah kaum muslimin. Kedua, merupakan rekayasa untuk mendiskriminasikan islam dan kaum muslimin agar orang meninggalkan jihad.

Ajaran jihad yang benar merupakan bagian dari islam yang tidak mungkin terpisahkan, meninggalkannya hanya akan mengantarkan pada kehinaan islam dan kaum muslimin, serta menjadikan mereka bagai laki-laki banci yang tidak memiliki harga diri, mengemis dengan sifat lebainya demi mendapat sesuap nasi.

8. Firman Allah azza wajalla, “Walaa yakhafuuna laumata laaim (mereka tidak takut pada orang-orang yang mencela)” menunjukkan semangat mereka mencari ridha Allah azza wajalla. Mereka rela meninggalkan keridhaan manusia yang berujung pada murka Allah, karena mereka tahu, Dialah sebaik-baik yang meberikan balasan.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

{ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ } بل يقدمون رضا ربهم والخوف من لومه على لوم المخلوقين، وهذا يدل على قوة هممهم وعزائمهم، فإن ضعيف القلب ضعيف الهمة، تنتقض عزيمته عند لوم اللائمين، وتفتر قوته عند عذل العاذلين. وفي قلوبهم تعبد لغير الله، بحسب ما فيها من مراعاة الخلق وتقديم رضاهم ولومهم على أمر الله، فلا يسلم القلب من التعبد لغير الله، حتى لا يخاف في الله لومة لائم

“Mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela” bahkan mereka lebih mengutamakan keridhaan Rabb mereka dari sekedar takut terhadap celaan-celaan makhlukn-Nya. Ini menunjukkan kuatnya semangat dan kemauan mereka yang kuat. Sebab, lemahnya iman dalam hati, hanya akan melahirkan lemahnya semangat, lalu mematikan semangat itu ketika munculnya para pencela, munculnya rasa lemas ketika orang-orang menghina. Di dalam hati mereka ada penghambaan diri kepada selain Allah, sesuai dengan tingkat dan besarnya ketergantungan pada ridha manusia serta celaan mereka terhadap ketetapan Allah. Maka hati tidak akan selamat dari penghambaan kepeada selain Allah, sampai muncul sifat untuk tidak takut tatkala memperjuangkan agama Allah, walau ada orang-orang yang senantiasa mencela.” (Tafsir as-Sa’di: 260)

9. Firman Allah: “Dzalika fadhlullahi yu’tiihi man yasyaau wallahu waasi’un ‘alim (. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui) hal ini menunjukkan bahwa sifat-sifat mereka merupakan karunia dari Allah azza wajalla. Allah menyebutkan itu, agar tidak ada sifat sombong dan ujub pada diri generasi-generasi terbaik ini.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

ولما مدحهم تعالى بما من به عليهم منَّ الصفات الجليلة والمناقب العالية، المستلزمة لما لم يذكر من أفعال الخير أخبر أن هذا من فضله عليهم وإحسانه لئلا يعجبوا بأنفسهم، وليشكروا الذي مَنَّ عليهم بذلك ليزيدهم من فضله، وليعلم غيرُهم أن فضل الله تعالى ليس عليه حجاب

“Ketika Allah memuji dengan sifat-sifat yang agung pada diri mereka dan kedudukan yang tinggi disisi-Nya, Allah mengabarkan bahwa semua itu merupakan karunia, keutamaan dan kebaikan diri-Nya pada mereka. Agar tidak menjadikan mereka memiliki sifat ujub pada diri mereka sendiri, agar mereka dapat bersukur kepada-Nya atas kenikmatan yang telah Allah berikan pada mereka, lau dengan kesyukuran itu Allah kembali menambahkan keutamaan pada mereka, dan agar orang-orang selain mereka mengetahui bahwa sesungguhnya keutamaan Allah tidak ada padanya hijab (sesuatu yang menghalanginya) untuk hamba-Nya. (Tasir as-Sa’di: 260)

10. Siapa saja yang ingin menjadi bagian dari generasi terbaik ini, hendaknya dia menghiasi dirinya dengan akhlak dan sifat-sifat mereka serta berjuang dengan cara-cara mereka. Karena sesungguhnya islam tidak akan mulia melalui orang-orang yang menghinakan islam pada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy
Ketua DPD WI Palembang
Lihat tadabbur ayat-ayat lainnya di almunawy.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here