Fikih Musibah 
    (Al Balagh Ed.81/Th.2/Safar/1428 H)

Bencana dan musibah kembali memberondong bangsa Muslim terbesar ini. Di antaranya lenyapnya Adam Air, tenggelamnya KM.Senopati, terbakar dan terceburnya Levina I, banjir  Jakarta, dan yang teranyar adalah terbakarnya pesawat Garuda.

Mengenaskan dan memilukan…! Tapi, itulah realitanya. Sayang, kita sepertinya tidak pernah serius mencari akar masalah dan menemukan solusi  jitu untuk keluar dari problem rutin ini. Entah  yang keberapakalinya kita bicara tentang tema ini. Tapi, demi mengamalkan firman Allah agar kita saling mengingatkan,maka al-Balagh kali ini kembali mengupas sebab musibah dan solusinya. Selamat menyimak!

SEBAB TERBESAR TIMBULNYA BENCANA DAN KERUSAKAN DI BUMI

A. Kekufuran dan kesyirikan        
Berikut adalah beberapa bukti nyata tentang pernyataan di atas :       

Pertama, Kehancuran alam semesta hanya dialami oleh orang-orang musyrik dan tersesat dari jalan tauhid. Sedang mereka yang masih memendam iman dan tauhid sekecil apapun, tidak akan mengalami huru-hara kiamat.
Rasulullah bersabda : “Dan tidak akan datang kiamat itu sehingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti tingkah laku kaum musyrik, dan sehingga ada beberapa kabilah dari ummatku yang menyembah berhala” (Shahih Jami’ush Shagir).
Beliau juga bersabda : “Tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang baik lantas menerpa mereka lewat ketiak mereka, kemudian mengambil ruh tiap-tiap orang mu’min dan muslim dan tinggallah manusia-manusia jahat yang keadaannya kacau balau seperti himar. Maka pada zaman mereka inilah hari kiamat terjadi” HSR. Muslim).

Kedua, Azab pedih bagi yang membangkang.  Allah berfirman: “Sesungguhnya mereka dahulu jika dikatakan kepada mereka : ‘Laailaha illallaah’ (tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah), mereka menyombongakn diri” [QS.37:35]. Terhadap sikap mereka ini Allah berfirman : “Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan ‘adzab yang pedih” (QS.37:38).

Ketiga, Ucapan kekufuran sebab kebinasaan. Contoh ucapan  “Allah memiliki anak”. Allah berfirman : “Dan mereka berkata : ‘Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. “Seungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara  mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung runtuh” (QS Maryam :88-90)

Keempat, Allah menimpakan kenistaan dunia  akhirat kepada Bani Israil karena menyalahi perjanjian terbesar dan pertama dengan-Nya. Agar jangan menyembah selain Allah dan beberapa perjanjian yang lainnya. Tetapi perjanjian pertama yang dilakukan adalah perjanjian tauhid. Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika kami mengambil janji dari bani israil yaitu janganlah kamu menyembah selain Allah …” (QS. Al-Baqarah:83). Lalu di ayat  85 Allah berfirman kepada yahudi yang merusak perjanjian tersebut: “Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada adzab yang sangat berat…”

Kelima, Rasulullah bersabda -tentang orang-orang yang mengingkari takdir dan kaum zindiq yang berkeyakinan batil- : “Sesungguhnya akan terjadi perubahan bentuk muka dan kerusuhan pada ummatku, yaitu pada kaum zindiq dan kaum qadariyyah”. (HSR. Ahmad ). Di zaman ini telah banyak bermunculan slogan-slogan kufur seperti “jadilah pencipta takdirmu sendiri” maka jangan heran kalau adzab merata dimana-mana.

B. Bid’ah yang mendarah daging
Bid’ah adalah di antara sebab timbulnya kerusakan. Bayangkan bila banyak pemuka agama di negeri Islam membuat cara baru dalam taqarrub kepada Allah yang tidak dicontohkan oleh Nabi dan sahabat, lalu  diikuti pengikut yang fanatik.  Ini bisa membuat kaum muslimin berpecah dan lemah sehingga membuat negeri Islam dijajah oleh orang kafir, kehormatan dan harta  dirampas. Di antara sebab semua ini adalah bid’ah. Rasulullah bersabda tentang hal ini : “Barang siapa yang hidup setelahku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaurasyidin yang terpimpin dan lurus, gigit erat dengan taring-taring kalian dan jauhkanlah perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat” (HSR. Tirmidzi)

C. Lemahnya al-Wala’ dan al-Bara’.
Pemuda Islam yang meniru gaya hidup orang kafir adalah gambaran wala’ (loyalitas) terhadap mereka. Padahal ini tidak mungkin ada pada diri orang mukmin (Qs.Mujadalah :22). Cinta kepada orang kafir menunjukkan kerelaan atas kekafiran  dan kemusyrikan mereka.  Ketahuilah, bahwa Rasulullah diutus untuk memerangi kekufuran dan kemusyrikan beserta pelakunya sampai mereka bertauhid. Maka sikap  bara’ (berlepas diri) dari kekafiran dan kemusyrikan harus diwujudkan dengan menyelisihi orang kafir dalam ibadah, muamalah, dan suluk (akhlak). Jika tidak, maka akan timbul kerusakan yang besar di bumi sebagaimana firman-Nya: “Jika kamu  tidak melaksanakanNya (Al-wala’ wal bara’), niscaya akan terjadi kekacauaan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal:73).

APA SOLUSINYA ?
Setelah mendiagnosa penyakit  ummat ini, maka dengan hikmah dan ilmuNya, Allah telah memberikan jawaban sebelum kita bertanya. Tentu  obat  semua ini adalah  menjauhi semua sebab timbulnya bencana serta kerusakan. Mari kita simak sabda Rasulullah :
“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘Inah (riba), mengikuti ekor-ekor sapi dan ridho dengan pertanian (sibuk dengan  dunia), meninggalkan jihad di jalan Allah. Maka Allah akan menimpakan pada kalian kerendahan dan tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada jalan agama kalian”. Dalam riwayat lain : “Sampai kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama (jalannya salaf shalih)” .
Yang tak kalah muhim (penting)nya, adalah kembali menapaki jalan Salaful Ummah  dalam ilmu, amal dan jihad. Hanya itu satu-satunya jembatan menuju gerbang kemuliaan dan kejayaan Islam. Wallahul muwaffiq.                 
 

Artikulli paraprakPenutupan Porseni I STIBA
Artikulli tjetërKetika Kekuasaan Jadi Ambisi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini