Fatwa Ibnu Taimiyah tentang Teka-teki ‘’Nabi Khadir”

Oleh: Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf, Lc., M.H.I (Anggota Dewan Syari’ah DPP Wahdah Islamiyah

 

Khadir, tokoh yang kepadanya Nabi Musa belajar. Kisah ini kita daras setiap pekan lewat bacaan rutin surah al-Kahfi. Surah yang salah satu tema sentralnya yaitu tentang fitnah. Kisah Nabi Musa dan Khadir Alaihimas salam tidak terkecuali. Fitnah yang dibahas adalah fitnah ilmu. Sehingga pesan kisah ini jelas: “di atas langit ada langit.” Maka, kisah Nabi Musa yang berguru kepada Khadir itu menjadi inspirasi tentang adab, ilmu pengetahuan, kesalehan, dan hikmah tertinggi.

Namun, sosok masyhur Khadir ini juga dijadikan objek “teka-teki” oleh sebagian kalangan. Minimnya uraian Al-Qur’an tentang tokoh ini justru dijadikan alasan lahirnya banyak spekulasi hingga riwayat-riwayat yang palsu. Oleh karena itu, penting untuk merujuk fatwa dan kajian kritis ulama untuk memfilter banyaknya opini bahkan rumor tentang Khadir Alaihis salam.

Tulisan ini secara sederhana mengangkat fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang terkenal sangat kritis khususnya bila terkait dengan persoalan akidah. Kutipan-kutipan yang dirujuk sepenuhnya diambil dari aplikasi maktabah syamilah dengan tetap mencantumkan referensi kitabnya.

Siapakah Khadir itu dan apa kedudukannya?

“Kaum Muslim ijma’ bahwa kedudukan Nabi Musa lebih utama daripada Khadir. Siapa yang berpendapat bahwa Khadir lebih utama daripada Musa, berarti dia kafir. Baik dikatakan bahwa Khadir itu seorang nabi atau wali Allah.

“Jumhur ulama berpendapat bahwa Khadir itu bukanlah seorang nabi. Kedudukan nabi-nabi Bani Israil yang ikut kepada kitab Taurat dan Allah Ta’ala sebutkan namanya, seperti Nabi Daud dan Sulaiman, lebih tinggi daripada Khadir. Dan kalau kita mengacu kepada pendapat mayoritas ulama, bahwa Khadir itu bukan nabi, maka Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma lebih utama daripada dia.

“Adapun kondisi Khadir yang mengetahui beberapa perkara yang tidak Nabi Musa ketahui, tidak serta merta berarti bahwa dia lebih baik daripada Musa. Hal ini sebagaimana burung Hud-hud yang berkata kepada Nabi Sulaiman, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya.’ (QS. An-Naml/27: 22). Tidak berarti kedudukan burung Hud-hud lebih tinggi daripada Nabi Sulaiman.

“Hal ini juga sebagaimana juga Sahabat-sahabat yang mengawinkan korma, karena mereka lebih tahu teknik tersebut daripada Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Itu tidak berarti bahwa mereka lebih baik daripada beliau. Padalah, Nabi berkata, ‘Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian. Adapun urusan agama kalian, maka rujukannya kepadaku.’

“Kemudian Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhiyallahu anhum pernah belajar agama, yang juga mereka punya ilmunya, kepada sahabat-sahabat yang lebih junior.

Di sisi lain, Nabi bersabda, ‘Tidak ada lagi bagian dari kenabian yang tersisa setelahku kecuali mimpi yang benar.’ Padahal, kedudukan Sahabat-sahabat itu lebih tinggi daripada orang-orang yang mendapatkan mimpi yang benar itu. Maksimal, ilmu Khadir itu berasal dari kasyaf yang merupakan bagian dari sisa kenabian. Maka bagaimana mungkin dia lebih tinggi kedudukannya daripada seorang rasul!? Apalagi rasul itu dari golongan ulul ‘azmi!?” (Al-Mustadrak, 1: 113-114).

Bagaimana posisi Khadir terhadap Nabi Musa Alaihimas salam?

Pertama, Nabi Musa tidaklah diutus kepada Khadir, sebagaimana yang disebut terakhir tidak wajib ikut kepada Nabi Musa. Nabi Musa berkata, ‘Aku punya ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku, yang tidak anda ketahui. Dan anda punya ilmu dari Allah yang Dia ajarkan kepada anda, yang tidak aku ketahui.’

“Saat mendengar salam dari Nabi Musa, Khadir heran, ‘Darimana ucapan salam itu di negeri ini?’ Musa berkata, ‘Aku Musa.’ ‘Musa dari Bani Israil?’ tanya Khadir. ‘Ya,’ jawab Musa. Tampak bahwa Khadir tidak mengenal Musa hingga dia memperkenalkan dirinya . . .

Kedua, perbuatan Khadir tidak sedikit pun bertentangan dengan syariat Nabi Musa. Lantaran itu, setelah dijelaskan alasan merusak kapal, membunuh seorang anak, dan memperbaiki dinding tanpa upah; Musa berbalik mendukungnya. Jadi Khadir mengetahui alasan-alasan itu lebih dulu daripada Musa . . . .” (Jami’ul Masa’il, 4: 59-60)

Apakah Khadir masih hidup hingga kini?

“Pendapat yang benar sebagaimana juga kesimpulan ulama ahli tahqiq, bahwa Khadir sudah meninggal dan tidak pernah hidup sampai ke masa Islam (Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam).” (Al-Fatawa al-Kubra, 5: 364)

Bagaimana menyikapi informasi tentang pertemuan dengan Khadir?

“Semua yang mengaku pernah melihat Khadir dan jujur bisa jadi (1) dari khayalan pribadinya sehingga khayalannya itu seperti nyata di luar dirinya, sebagaimana terjadi pada banyak ahli riyadhah.

“Atau (2) dari jin yang berpenampakan manusia untuk menyesatkannya. Kasus ini sangat banyak sehingga tidak dapat lagi diceritakan.

“Atau (3) dia melihat manusia yang secara sembrono dia sangka sebagai Khadir. Selanjutnya, kalau orang atau jin itu mengaku sebagai Khadir, maka itu jelas dusta. Kebenaran tidak keluar dari tiga kemungkinan ini.” (Ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin, 185).

Jadi, masih mau percaya kalau ada yang mengaku membawa pesan rahasia dari Khadir? [] (ed:sym).

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here