Home Artikel Artikel Islami Faktor Utama Kebahagiaan Dunia Akhirat Bagi Seorang Muslim

Faktor Utama Kebahagiaan Dunia Akhirat Bagi Seorang Muslim

0
9743

Kebahagiaan yang hakiki adalah sebuah tuntutan hidup. Namun ia tidak bisa diukur oleh banyaknya materi, tingginya pangkat kedudukan dan gemerlapnya kehidupan. Sebab faktanya kebanyakan penyakit depresi dan bunuh diri terjadi pada orang-orang yang bergelimang harta dan pangkat kedudukan. Sebaliknya ketika kita membaca biografi orang-orang yang tidak memiliki kekayaan harta, atau ketenaran yang besar, kita dapati hidup mereka tenang, bahkan berada dalam puncak bahagia yang tidak diraih oleh kebanyakan orang-orang kaya, sampai-sampai diantara mereka ada yang berkata: “Kami hidup dalam kebahagiaan, seandainya para raja dan anak-anak mereka mengetahui kadar kebahagiaan kami niscaya mereka akan merebutnya dari kami dengan menggunakan kekerasan pedang.”

Bahkan kita juga mendapati orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, hanya memiliki makanan dan pakaian yang pas-pasan, atau bahkan serba kekurangan namun mereka hidup bahagia dan mati dalam keadaan bahagia tanpa memiliki beban apapun.

Tidak bisa dipungkiri bahwa cita-cita yang dikejar oleh setiap manusia adalah kebahagiaan yang hakiki, namun pertanyaannya; apakah sumber kebahagiaan primer mereka adalah harta, pangkat, nasab atau kehormatan ? Sungguh bukan sama sekali, namun sumber utama bahagia itu ada dalam keimanan hati kepada Allah, dan amalan shalih.

Kebahagiaan itu adalah anugrah rabbani dan nikmat ilahi, Allah mengaruniakannya kepada orang yang mengetahui dan meniti jalan kebahagiaan itu yaitu iman dan amal shalih terlepas dari kondisi materi dan keadaan dirinya, dan Dia tidak memberikannya kepada orang yang tidak meniti jalan keimanan itu meskipun ia adalah seorang yang paling kaya, terkuat, atau paling tinggi pangkatnya. Orang yang berakal lagi beruntung adalah yang meminta kebahagiaan langsung dari Pemberi kebahagiaan itu sendiri yaitu Allah, lewat jalan yang digariskan oleh-Nya kepada manusia, adapun orang yang sengsara adalah yang mencari kebahagiaan itu dengan tidak melewati jalan tersebut.

Allah telah menggariskan kepada kita jalan kebahagiaan, dan menjelaskan pula jalan kesengsaraan, dan seorang hamba dibiarkan untuk memilih jalan apa yang ia inginkan sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”  (QS An-Nahl: 97).

Dalam ayat ini Allah menyebutkan dua syarat tercapainya hidup bahagia yaitu; iman dan amal shalih. Allah juga mengisyaratkan bahwa dua syarat ini tidak hanya bisa dicapai oleh laki-laki saja, namun juga bisa dicapai oleh kaum wanita. Dalam ayat ini juga terdapat penjelasan tentang hasil yang pasti terjadi yaitu maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”, penegasan ini bersumber dari Tuhan yang menguasai hati dan kuasa untuk melakukan segala sesuatu.

Sebaliknya, dikalangan manusia ada golongan lain yang sama sekali tidak akan mendapatkan kebahagiaan, mereka ini telah disebut oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:

Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit (di dunia) dan Kami akan kumpulkan dia di hari kiamat dalam keadaan buta.”  (Terj. QS Thaaha: 123-124).

Jadi, ketentuan Allah dalam ayat ini adalah bahwasanya orang yang mengikuti petunjuk Allah adalah orang-orang yang hidup bahagia secara hakiki, adapun orang yang berpaling dari peringatan dan ayat-ayat Allah ta’ala, akan diberikan kehidupan, namun hanyalah berupa kehidupan yang sempit yaitu tanpa merasakan ketenangan, bahagia dan kenyamanan, ia akan terus hidup dengan kondisi seperti ini hingga ajal datang menjemputnya.

Semua yang dipaparkan ini tidak menafikan secara mutlak akan fungsi harta, pangkat, dan kedudukan dalam proses kebahagiaan seorang manusia, sebab dalil wahyu ataupun akal mengisyaratkan bahwa salah satu penunjang kebahagiaan adalah harta dan pangkat kedudukan sebagaimana dalam hadis:

“Di antara unsur kebahagiaan anak Adam  adalah tiga hal. Dan di antara (unsur) sengsaranya ibnu Adam ada tiga juga. Di antara unsur kebahagiaan manusia yaitu: isteri yang shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Dan di antara unsur penderitaan manusia adalah: isteri yang buruk (tidak shalihah), tempat tinggal yang jelek, dan kendaraan yang jelek. “ (HR Ahmad: 1445, dan selainnya dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallaahu’anhu: sanadnya hasan lighairihi).

Baca Juga: Prinsip Hidup Bahagia Menurut Islam

Namun tentunya harta atau pangkat ini hanyalah berfungsi sebagai penunjang sekunder bukan sumber primer suatu kebahagiaan. Bahkan kekayaan harta, dan ketinggian pangkatpun tak akan mendatangkan bahagia bila tidak diiringi dengan kekayaan hati yaitu merasa cukup ( qana’ah ) dengan adanya rezeki Allah yang diberikan padanya. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kaya jiwa ( qana’ah / merasa berkecukupan ) “ (HR Bukhari:6446 dan Muslim: 1050)

Dalam hadis Abu Dzar radhiyallahu’anhu, beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?. Aku (Abu Dzar) berkata : Iya Rasulullah. Rasulullah berkata : Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?, Aku (Abu Dzar ) berkata, Benar Rasulullah. Rasulullahpun berkata : Sesungguhnya kekayaan hakiki  adalah kayanya hati, dan kemisikinan hakiki adalah miskinnya hati” (HR Ibnu Hibban: 685, shahih)

Dalam menjelaskan makna tersirat hadis ini, Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata: ” Karena banyak orang yang dilapangkan hartanya oleh Allah ternyata jiwanya miskin, ia tidak merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya, maka ia senantiasa berusaha untuk mencari tambahan harta, ia tidak perduli dari mana harta tersebut, maka seakan-akan ia adalah orang yang kekurangan harta karena semangatnya dan tamaknya untuk mengumpul-ngumpul harta. Sesungguhnya hakekat kekayaan adalah kayanya jiwa, yaitu jiwa seseorang yang merasa cukup dengan sedikit harta dan tidak bersemangat untuk menambah-nambah hartanya, dan nafsu dalam mencari harta, maka seakan-akan ia adalah seorang yang kaya dan selalu mendapatkan harta “. (Syarh Ibnu Shahih Al-Bukhari: 10/165)

Jika telah jelas bahwa bahagia itu hanya bisa dicapai dengan iman dan amal shalih, maka telah jelas bahwa sumber kebahagiaan yang hakiki itu hanyalah terdapat dalam ayat-ayat suci Al-Quran dan hadis-hadis suci Baginda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dengan mengaplikasikan keduanya, berarti seseorang telah meniti jalan bahagia lewat sumbernya yang utama, dan mesti berujung pada akhir kebahagiaan yang hakiki pula yaitu surga Allah ta’ala. Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah mengisahkan bahwa beliau mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, barangsiapa yang tidak memasukinya maka ia tidak akan memasuki surga akhirat “. (Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ al-Fatawa: 1/153).

Makna “surga dunia” yang diungkapkan Ibnu Taimiyah ini adalah keyakinan iman kepada Allah, sikap cinta kepada Allah, ridha terhadap ketentuan-Nya, serta berbagai perkara keimanan lainnya. Maka barangsiapa yang tidak memasuki “surga dunia” ini yang merupakan faktor utama kebahagiaan dunia akhirat, maka ia tidak akan memasuki surga Allah diakhirat kelak, demikian pula sebaliknya, barangsiapa yang memasukinya, maka ia mesti memasuki surga akhirat atas izin Allah subhanahu wata’ala, karena “ganjaran itu sesuai dengan jenis dan kadar amalan”.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua sebagai muslim yang meraih bahagia dunia akhirat lewat sumber kebahagiaan hakiki yaitu aplikasi Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Aamiin.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Penataran Seputar Ramadan 1445 H