SEORANG da’i yang akan bertugas layaknya seorang prajurit yang akan diterjunkan ke medan pertempuran. Untuk itu seorang da’i haruslah mempersiapkan hal-hal yang dapat mensukseskan aktivitas dakwah yang diembannya. Pengantar:
Baru-baru ini, Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah menerima mahasiswa baru Program Tadribud Du’at yang nantinya akan dikirim ke berbagai daerah, untuk menempati pos-pos dakwah masing-masing. Untuk mereka dan para da’i lainnya, kami persembahkan tulisan ini.
SEORANG da’i yang akan bertugas layaknya seorang prajurit yang akan diterjunkan ke medan pertempuran. Untuk itu seorang da’i haruslah mempersiapkan hal-hal yang dapat mensukseskan aktivitas dakwah yang diembannya. Maka hal pokok yang harus dilakukan adalah evaluasi terhadap beberapa hal. Evaluasi tersebut meliputi:

1. Evaluasi kemampuan ilmu syar’i
Seorang da’i harus jujur terhadap dirinya sendiri dalam melakukan muhasabah tersebut. Dengan mengetahui kadar kemampuan diri, maka dapat dihasilkan sebuah perencanaan dan persiapan dakwah yang baik. Misalnya saja, seorang da’i harus bisa memetakan tingkat pemahaman ilmu syar’inya. Apakah ia telah memiliki kemampuan untuk memecahkan problem syariat yang dihadapi oleh masyarakat, misalnya persoalan fiqh sehari-hari ataukah belum? Apakah ia telah menguasai pokok-pokok pelajaran aqidah? Apakah ia memiliki kemampuan baca Alqur’an yang sesuai kaidah tajwid? Dan seterusnya.
Jika telah didapatkan suatu wawasan tentang kemampuan ilmu syar’i, maka seorang da’i telah dapat merancang aktivitas dakwah yang dapat dilakukannya nanti. Misalnya seorang da’i telah yakin mampu menjelaskan masalah-masalah syar’i, maka kelak ia akan dapat membuat kegiatan pengajian rutin, majelis ta’lim, ataupun memberikan ceramah misalnya dalam acara seminar atau diskusi. Da’i seperti ini disarankan untuk menyiapkan dirinya dengan banyak membaca buku-buku fatwa para ulama.
Jika ia merasa bahwa kemampuannya masih rendah, maka ia dapat mempertimbangkan untuk merancang kegiatan dengan titik tekan pada pembinaan di kalangan remaja atau siswa sekolah. Disamping itu, sebagai konsekwensinya ia harus terus meningkatkan kemampuan diri dengan belajar baik melalui buku, majalah, kaset, maupun media lainnya. Da’i seperti ini sebelum berangkat harus menyiapkan buku-buku terkait sebanyak mungkin dan rajin berkonsultasi ke lembaga pusat khususnya Dewan Syariah.

2. Evaluasi kemampuan kepemimpinan
Seorang da’i lapangan, nantinya akan menghadapi kondisi di mana ia harus mampu mengambil keputusan yang berkaitan dengan banyak hal. Oleh karena itu ….
(Ikuti kelanjutannya pada edisi ke-5, Insya Allah)

Artikulli paraprakPelatihan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Artikulli tjetërFUAS BONE Gelar Pengajian Umum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini