DUSTUR ISLAM

(Disadur dari buku “I am Islam”)

Sesungguhnya keistimewaan islam yang paling besar adalah terletak pada metode ajaran dan dusturnya yang rabbani, sehingga didalamnya tidak terdapat kekurangan, dan penyimpangan sebagaimana yang terdapat dalam perundang-undangan buatan manusia. Dustur atau sumber hukum tersebut adalah Al-Quran Al-Karim, kitab yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, menjelaskan cara manusia berhubungan dengan Pencipta mereka, juga dengan dirinya, dan orang lain, bahkan dengan alam semesta. Ia juga meletakkan aturan syar’i demi menciptakan kehidupan manusia yang bahagia, sehngga tidak satu pun perkara yang diperlukan manusia untuk meraih bahagia dunia akhirat melainkan ia meletakkan fondasi utama dan cara mendapatkannya. Ia lah kitab yang memberikan petunjuk kejalan yang lebih utama;

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Artinya: “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS Al-Isra: 9)

Barometer kekuatan suatu metode atau dustur terletak pada keistimewaan dan fadhilahnya yang dengannya ia bisa mengungguli metode atau dustur lainnya. Maka diantara keistimewaan dan fadhilah Al-Quran ini adalah:

1.Ia merupakan kitab yang diturunkan dari sisi Allah, sebagaimana dalam ayat, artinya: “Kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad).” (QS Shaad: 29) Allah tentu lebih tahu tentang perihal makhluk ciptaan-Nya, serta aturan yang sesuai dengan kondisi mereka, sebagaimana juga Dia Maha Mengetahui tentang segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi sepanjang perjalanan sejarah dan di masa depan.

2.Ia adalah kitab yang penuh berkah, sebagaimana dalam ayat yang artinya: “Dan inilah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi.”(QS Al-An’am: 92) Sungguh ia memiliki berkah dan banyak kebaikan dari berbagai sisi.

3.Kitab ini dijaga oleh Allah ta’ala sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya (dalam pembahasan iman kepada kitab-kitab). Ini menunjukkan tetap terjaganya kemurnian dan kebenaran kandungannya sepanjang sejarah umat manusia, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Al-Dzikra (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami pulalah yang memeliharanya.” (QS Al-Hijr; 9)

Ia merupakan dustur yang kekal, dan metode hidup yang abadi bagi manusia, sehingga Allah sendirilah yang menjaganya dari berbagai perubahan, penambahan dan pengurangan sebagaimana firman-Nya:

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ (41) لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيد (42)

Artinya: “Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS Fushshilat: 41-42)

Perhatikanlah kisah berikut: Pada suatu waktu, Al-Makmun yang waktu itu selaku seorang khalifah sedang berada disuatu majelis, lalu masuk seorang yahudi yang berpakaian bagus, tampan, dan berbau wangi. Lalu ia mengucapkan perkataan yang baik, ketika majelis itu selesai, Al-Makmun memanggilnya dan berkata: “Engkau seorang keturunan Israil ?”, ia menjawab: “ya,” Al-Makmun berkata: “Masuklah kedalam islam agar aku memuliakanmu.” Ia menjawab: “Agamaku tetaplah agama nenek moyangku,” Lalu ia beranjak pergi. Setelah berselang satu tahun, datanglah seorang yahudi itu dalam keadaan sebagai seorang muslim, lalu ia pun berbicara dimajelis Al-Makmun dengan ucapan yang baik, ketika majelis selesai, Al-Makmun memanggilnya dan berkata kepadanya: “Bukankah engkau ini orang yang tahun lalu datang kesini ?”, Ia menjawab: ‘Tentu, itulah aku.” Al-makmun bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau masuk islam ?”, Ia menjawab: “Tahun lalu, ketika aku keluar dari majelismu, aku mencoba menguji kebenaran antara semua agama. Engkau tahu bahwa aku punya tulisan indah, maka aku mencoba merubah Taurat dengan menulisnya sebanyak 3 buah, didalamnya aku mengurangi dan menambah kandungannya, lalu aku memasukkannya kedalam gereja Yahudi sehingga mereka pun membelinya. Lalu aku mencoba merubah Injil dengan menulisnya beberapa buah dan merubah dan menambah kandungannya, lalu aku memasukannya kedalam gereja Nasrani dan mereka pun membelinya. Lalu aku mencoba merubah Al-Quran, dengan menulisnya 3 buah, aku mengurangi dan menambahnya, lalu aku menyerahkannya kepada para penulis yang kemudian memeriksanya, ketika mereka mendapatinya terdapat kekurangan dan penambahan maka mereka pun membuangnya dan tidak membelinya dariku. Dengan kejadian ini, aku pun sadar bahwa Al-Quran ini adalah kitab yang terjaga, dan ini lah sebab keislamanku.”

4.Ia adalah kitab yang mengandung seluruh hal yang diperlukan manusia dalam kehidupannya, Dia berfirman yang artinya: “Tiadalah kami lupakan sesuatu dalam kitab ini.”(QS Al-An’am: 38)

Ini lah sebagian keistimewaan metode Al-Quran, sebuah metode dan ajaran yang Allah tantang semua manusia untuk mendatangkan ajaran yang sepertinya:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هَذَا اْلقُرْأَنَ لاَ يَأتُوْنَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Artinya: “Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. Sekalipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lainnya.” (QS Al-Isra’: 88)

Tantangan Allah ini tetap berlaku hingga kini, dan Al-Quran telah menjelaskan ketidak sanggupan manusia untuk mendatangkan satu surat seperti surat Al-Quran, sebagaimana dalam ayat:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)

Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.(QS Al-Baqarah: 23-24)

Berita sebelumyaHukum Seorang Muslimah Menggunakan Hijab Syar’i
Berita berikutnyaPerbedaan Antara Sekte, Firqah dan Organisasi atau Kelompok Dakwah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here