kesenangan-yg-menipu

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. 29 : 64)

Ada yang tersisa dari gelaran piala dunia, kemarin pagi seorang anak sambil melihat TV dan menonton pesta kemangan dari kesebalasan yang menang bertanya kepada Bapaknya, “pak, apakah hanya begitu piala yang didapat untuk yang menang ?, koq kecil sekali untuk pertandingan yang sangat besar. Apakah hanya begitu yang didapat, padahal pertandingannya berlangsung 2 bulan dan melawan kesebelasan terbaik sedunia, apakah hanya itu yang didapat?. Susah-susahnya main, jatuh bangun dalam perebutan bola, koq hanya itu yang didapat ?”

Pertanyaan lugu dari anak yang masih polos ini telah menghentakkan kita dalam lamunan evoria kemenangan sang juara. Bagaimana tidak menghentakkan, rupanya pertanyaan yang seperti sepele ini, telah menunjukkan hakekat dunia yang sebenarnya. Kehidupan dunia ini hanyalah tempat bermain-main, hanyalah permainan belaka. Menghabiskan waktu dan umur hanya untuk bermain-main. Begitu susahnya mendapatkan piala yang hanya sekecil itu. Harus bertarung dengan suhu atmosfir pertandingan dan aroma persaingan. Inilah hakekat dunia sebenarnya, yang hanya merupakan ajang untuk saling berlomba dan berburu. Beginilah nasib manusia yang sebenarnya, didunia tertipu dengan kesenangan-kesengan yang menipu, sementara diakherat yang kekal dan abadi tidak diutamakannya. Padahal diakhirat adalah tempat berbalas dari semua yang diusahakan didunia. Jikalau kenikmatan yang didapat, maka tidak ada lagi yang namanya menyiapkan makanan, tidak ada lagi bersusah-susah untuk mempersiapkan sesuatu, tetapi langsung menikmati saja tanpa susah payah. Demikian pula jika tempatnya diakhirat adalah tempat yang buruk, maka ia akan langsung menuai keburukan yang dia kerjakan didunia, langsung dia mendapatkan azab yang pedih, ndak usah lagiia berpayah-payah korupsi dengan makar yang hebat. ndag usah lagi ia minum minuman keras dalam waktu yang lama, ndag perlu lagi ia berpayah-payah bermaksiat, semua itu tinggal ia tuai sesuai dengan amal masing-masing.

Inilah hakekat dunia yang kesenangannya menipu. Kalaulah kita menyadari semua itu, lantas mengapa kita masih berlalai lalai dalam berinbadah kepada Allah. Mengapa sampai kita berpayah-payah bermaksiat kalau ujungnya nanti hanyalah penyesalan yang sangat. Lihatlah para koruptor yang membangun kekayaannya dengan susah payah, waktu meninggal, adakah harta yang ia bawa ?. Telah berlalu orang-orang kaya dengan banyak sekali harta, sewaktu meninggal dunia, rupanya sama saja dengan orang miskin yang tdk berpunya, tdk membawa harta sewaktu meninggal. Mana wanita yang kita kejar selama ini, bahkan pacaran 7 tahun dengan menguras waktu yang banyak dalam romansa cinta, berlabuh dipelaminan dengan janji sehidup semati. Sewaktu suaminya meninggal, ia pun hanya menganhantar suami kekubur, kemudian kembali dan berkata “yang lalu biarlah berlalu”. Adakah ia mau menemani kita waktu meninggal ? padahal dialah yang menyebabkan banyak waktu kita terkuras untuk koment tatusnya yang tdk penting, atau chating sampai tengah malam lupa shalat tahajjud, atau kita menghabiskan uang hanya unt membelikannya pulsa. Mana dia pada saat kita meninggal ?, tidak ada, tidak ada semua itu.

Lantas apa sebenarnya yang kita kejar didunia ini ? Sungguh yang dikejar hanyalah bayang-bayang semu. Pantaslah kalau Allah menyebutkan bahwa dunia hanyalaha temapat untuk bermain-main dan bersenda gurau, tempat unutk bermegah-megah, yang membuat kita lalai untuk mengupulkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang panjang. Lupa kita untuk shalat, puasa dan ibadah yang lain. Padahal semua itulah yang sangat bermanfaat disaat kita meninggalkan dunia ini.

Semoga kita menjadi finalis Ramadhan dengan mengangkat piala ketaqwaan dengan bangga, disebabkan karena usaha kita yang demikian keras untuk mengisi Ramadhan dengan ibadah yang terbaik. Sama kerasnya dengan orang-orang yang dilalaikan dengan dunia dengan senda gurau dan bermain-main, menonton dari jam 12 tengah malam sampai jam 4 subuh, padahal setelah itu bukan ia yang dpt pialanya. ia hanya dapat lelah dan capek. Padahal jikalau ia tahu hakekat dunia, maka ia justru akan menyiapkan waktu untuk beribadah kepada Allah.

Terima kasih nak atas pertanyaan yang sederhana darimu, sangat menginspirasi dan menjadi cambuk yang berharga untuk kami.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. 29 : 64)

(Ustad. Askar Yaman, M.Pd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here