Dua Utusan Wahdah Ikut Semiloka di Pesantren Tebuireng Jombang

  • Arah Kiblat Menghadap ke Arah Barat Laut Bukan ke Arah Barat 
  • Waktu Shalat Kementerian Agama RI tetap berlaku dan dipandang sah, sampai ada hasil penelitian terbaru

Kementerian Agama Republik Indonesia bekerjasama dengan Pesantren Tebuireng dan Ma’had ‘Aly Mahfudz Seblak, gelar Semiloka Nasional dengan tema “Problematika Arah Kiblat dan Waktu Shalat, Urgensi dan Sosialisasi”, di Pesantren Tebuireng Jombang Jatim, Senin-Rabu,12-14 Juli 2010.

Dua Utusan Wahdah Ikut dalam utusan ini,Ust. Ir.Musri Madung (Tim Rukyatul Hilal WI) dan Ust.Saiful Anshar, Lc (Ma’had ‘Aly al Wahdah), setelah mendapat undangan dari Ir.Hendro Setyanto, Tim Falakiyah PBNU yang pernah menjadi pemateri Worshop Dewan Syariah WI beberapa Waktu lalu. Menurut Musri Madung, Cuma dua utusan Wahdah ini yang menjadi peserta dari Sulsel.

Semiloka ini dibuka oleh Pimpinan Pesantren Tebuireng Ir.KH.Salahuddin Wahid dan Kepala Balitbang Kemenag RI DR.H.Amin Haedari.

Adapun materi selama tiga hari tersebut:
Pertama, Penulisan Karya Ilmiah sebagai Media Penguat Tradisi keilmuan Pesantren masa depan, Narasumber: Kepala Balitbang Kemenag RI DR.H.Amin Haedari, Prof.Dr.H.Jamaluddin Mirri, Lc, MA (Mudir Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng), Dr.Ir.Zainal Abidin, Msc (Mudir Ma’had .’Aly Al Mahfudz Seblak).

Kedua, Problematika Arah Kiblat dan waktu Sholat Shubuh, Tinjauan Ilmu Fiqih-Falaq-Astronomi. Narasumber: DR.Sopa AR,MA (Komisi Fatwa MUI Pusat, Dosen FAI-UMJ dan S2 IAIN Syech Nurjati Cirebon), Drs.Muhyiddin Khazin, M.Si (Badan Hisab Rukyat Kemenag RI), Drs.H.Syamsuddin, M.Ag (PW Majelis Tarjih Muhammadiyah Jatim), Prof. DR.Thomas Djamaluddin (LAPAN)

Ketiga,Teori Arah Kiblat dan waktu Sholat Shubuh, Tinjauan Ilmu Fiqih-Falaq-Astronomi, Narasumber:Dr.Moedji Raharto (Astronomi ITB), Dr.H.Hakim L.Manasan (Kepala Obsevatorium Boscha).

Keempat, Praktek dan Metode Pengukuran Arah Kiblat dan Penentuan Sholat Shubuh, Ir.Hendro Setyanto, M.Si (Ma’had ‘Aly Al-Mahfudz Seblak), Drs.H.M.Ma’ruf AS.M.HI (Pesantren Tebuireng), Drs.Fathurahman Tsani

Kelima, Perlunya Sosialisasi Solusi Problematika Arah Kiblat dan Waktu Shalat. Narasumber, Prof.Dr.H.M.Tolchah Hasan, Ir.KH.Shalahuddin Wahid.

Arah Kiblat Menghadap ke Arah Barat Laut Bukan ke Arah Barat
Dalam Makalahnya “Kiblat dan Shalat” Oleh Muhyiddin Khazin, Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama RI. Menghadap Kiblat merupakan Syarat Sahnya Shalat, bagi orang yang dapat melihat bangunan fisik Ka’bah, maka harus menghadap ‘ain Ka’bah dan bagi orang yang tidak dapat melihat bangunan fisik ka’bah, maka cukup menghadap ke arah Kota Mekkah tempat Ka’bah.

Pada semiloka tersebut dipaparkan bahwa arah kiblat di Indonesia menghadap ke Arah Barat Laut bukan ke arah Barat, yang sebelumnya sudah difatwakan MUI. Melalui pakar astronomi didapatkan dari arah
Jakarta Posisi Arab Saudi berada pada 25 Derajat (Arah Barat Laut), yang arah Barat 0 Derajat Justru mengarah ke Negara Tanzania, Angola. Dan 30 Derajat arah ke Israel. Untuk Daerah Makassar arah Barat Laut 22 Derajat 26 Menit.

Kebijakan Kemenag tentang Arah Kiblat:
"Demi kesempurnaan ibadah (shalat), menghimbau kepada masyarakat untuk mengecek kembali arah kiblatnya, yang diluruskan cukup garis shafnya saja,tanpa harus merubah/membongkar bangunan masjid/mushallanya, melayani masyarakat yang memerlukan bantuan pengukuran arah kiblat."

Pengecekan arah kiblat di lakukan ketika matahari di atas Ka’bah, dan untuk tahun ini terjadi di dua waktu, yakni 27/28 Mei yang lalu pukul 17:18 Wita dan pada tanggal 15/16 Juli pukul 17:27 Wita. 

Toleransi waktu melihat, 2 Menit 30 Detik sebelum dan sesudah pukul 17:27 Wita.Untuk menkalibrasi jam, dapat menelepon ke nomor Telkom 103.

Caranya dengan melihat bayangan benda tegak lurus/tongkat yang disinari matahari yang diletakkan di sebelah utara atau selatan masjid atau didekat rumah masing-masing. Arah dari bayangan benda,itulah arah kiblat yang sesungguhnya.

Waktu Shalat
Waktu merupakan pengaruh dari posisi matahari terhadap bumi, perubahan posisi matahari dilihat dari suatu tempat di permukaan bumi menyebabkan perubahan waktu-waktu shalat di tempat itu.

Shalat Dhuhur dimulai sejak matahari tergelincir sampai baying-bayang sesuatu sama atau dua kali panjangnya.

Shalat Ashar dimulai sejak bayang-bayang sesuatu sama panjangnya atau sejak bayang-bayang sesuatu dua kali panjangnya sampai matahari menguning.

Shalat Magrib dimulai sejak matahari terbenam sampai hilang mega merah.

Shalat Isya dimulai sejak hilangnya mega merah sampai tengah malam atau terbit fajar.

Shalar Shubuh sejak terbit fajar shodiq sampai terbit matahari. Imsak terjadi sebelum fajar seukuran membaca 50 ayat al-quran.

Fajar Shodiq adalah Hamburan cahaya matahari oleh partikel di udara yang melingkupi Bumi. Karena sumber cahaya itu dari matahari sedangkan penghamburannya adalah udara maka cahaya fajar melintang di sepanjang  ufuk. Fajar shodiq ini pertanda akhir malam menjelang matahari terbit. Matahari semakin mendekati ufuk, semakin terang fajar shodiq

Kebijakan Kemenag tentang Waktu Shalat:
"Tanggal 23-25 Februari 2010 dilaksanakan Muker BHR Kemenag Pusat di Semarang dengan kajian secara syari, astronomi, dan sosio astronomi berkesimpulan bahwa tinggi matahari awal waktu shubuh tetap pada posisi -20 derajat sehingga jadwal waktu shalat (khususnya Shubuh) yang dikeluarkan Kementerian Agama RI tetap berlaku dan dipandang sah."

Walaupun demikian dari hasil semiloka ini ditetapkan bahwa untuk mendapatkan hasil yang akurat, maka Kemenag akan kembali mengadakan penelitian di pantai Sumatra. Sampai ada hasil dari penelitian terbaru maka waktu shalat tetap mengacu pada kesimpulan akhir Muker BHR tersebut di atas.
 

Artikulli paraprakDaniel Streich, Islamnya Pencetus Larangan Menara Masjid di Swiss
Artikulli tjetërCek Kembali Arah Kiblat Masjid Anda Hari Ini Pukul 17:27 Wita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini