Dirosa Masuk di Semarang

Program Dirosa atau pengajaran membaca AlQur’an khusus orang dewasa dengn sistem klasikal 20 x pertemuan. Program ini merupakan salah satu program unggulan dari LP3Q DPP Wahdah Islamiyah  sangat tepat untuk sementara ini  bisa diterima pada 17 kota ibukota Provinsi di Indonesia.

Hal ini merupakan tugas dari salah satu program bagi Dai Perintis, dari sekian program yang diagendakan di 17 kota  tersebut.Tanpa kecuali kota Semarang sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah ini dengan jumlah  35 kota dan kabupaten . Sebagai kota dengan visi “Terwujudnya Semarang Kota Perdagangan Dan Jasa, Yang Berbudaya Menuju Masyarakat Sejahtera”.

Seperti halnya Dai Perintis lainnya, untuk kota Semarang, Alhamdulillah program Dirosa dirintis sejak 6 Juni hingga saat ini berjumlah sekitar 30 orang dewasa. Semakin banyaknya peminat dalam program ini, sehingga sangat perlu untuk mengadakan pelatihan guna melahirkan SDM yang bisa melakukan hal yang sama di berbagai tempat. Ahad 3 Juli 2011, bertempat di Masjid Al Muttaqien Geniuk Krajan Kelurahan Tegalsari Kecamatan Candsari, diadakan Pelatihan metode DIROSAH pemateri Ust. Nurhaco dan Tim. Pelatihan ini juga diisi pengantar oleh Ustadz Riki,dari Salatiga yang sementara liburan dari studi di Madinah.

Kegiatan ini bekerjasama Takmir Masjid Al Muttaqien dan LP3Q WI. Dengan mengundang seluruh utusan dari Masjid dan Mushallah se-Kelurahan Tegalsari. Saat ini jumlah kelompok yang di tangani oleh dai perintis ada 6 kelompok yang terdiri dari kelompok anak-anak, remaja dewasa, dan dari kalangan Bapak-bapak  dan Ibu-Ibu. Tim III dai perintis yang  berada di Semarang Anwar Aras dan Ustadz Akbar, telah kembali ke Makassar Tim II : Ustadz Ardiansyah dan Sulasno, dan Tim I Pak Nursalam S, Irwan Hasbi, dan Ustadz Mustamin Ampo. Tim IV saat ini Ustadz Nurhaco, Ustaddz Abd.Hamid dan Ustadz Ardiansyah.

Sebelumnya, tim I  lah yang berhasil menjembati dengan pihak pengurus masjid Al Muttaqien untuk membuka kelompokpengajaran Alqur’an. kelompok anak -anak waktunya sesudah shalat ashar, Kelompok Ibu-ibu sesudah shalat magrib dan Kelompok para Bapak dan Kakek waktunya setelah shalat Isya. Dikatakan kelompok kakek karena diantara mereka sudah ada yang berumur 60 – 70 tahun keatas.

Bapak H. Sunarto sebagai Takmir Masjid  sangat terkesan dengan metode pengajaran ini dengan
melihat antusias jamaah dan masyarakat yang ikut dalam program Dirosa ini. “Semoga masjid Al Muttaqien  jadi embrio Dirosa di kota semarang, dan bisa dikembangkan,” harapnya. Juga Secara pribadi beliau siap membantu apabila suatu saat Wahdah Islamiyah sudah membuka cabang di daerah ini. Tokoh masyarakat lainnya H.Wadi, menyambut baik kedatangan para Dai Perintis Wahdah dari Makassar, beliau berharap dengan adanya program ini ada kebangkitan kembali para Remaja Masjid Al Muttaqien.

Diakhir program akan digelar Haflah Ikhtitam bagi mereka yang sudah menyelesaikan pertemuan ke 20 atau sudah bisa membaca Alqur’an (Laporan Anwar Aras dari Semarang)

 

 

 

Artikulli paraprakDari Serambi Medinah ke Serambi Mekkah
Artikulli tjetërLP3Q Rambah Pulau Jawa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini