DICARI: ULAMA RABBANI
(Menyambut Pelantikan Pengurus MUI Kota Makassar
Periode 2008-2013, 21 April 2008)
Oleh:
Ilham Jaya Abdurrauf (Ketua Komisi C Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Eksistensi elit intelektual dalam khazanah Islam dikenal bersamaan dengan munculnya ajaran Islam itu sendiri. Kelompok cendekiawan tersebut, yang lebih populer disebut ulama, disinggung baik dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi.

Al-Qur’an sendiri sejak dini telah mengintrodusir tradisi ilmiah kepada orang-orang yang membacanya. Ungkapan-ungkapan seperti berpikir, merenung, memperhatikan, orang-orang yang menggunakan akalnya; adalah term-term dan frasa yang bertebaran pada banyak ayat Al-Qur’an.

Nabi Muhammad SAW juga berperan mendidik sahabat-sahabatnya dengan nilai-nilai tersebut. Nabi didik pengikut-pengikutnya menghapal ilmu, beliau berantas buta huruf -bahkan lewat jasa tawanan perang-, dan beliau gugat tradisi takhyul dan khurafat yang meremehkan martabat manusia dan membunuh kreativitas nalar.

Di samping mengembangkan tradisi ilmiah yang normatif itu, Islam juga memperkenalkan konsep pertanggungjawaban ilmiah. Seorang ulama, dalam definisi Islam, bukan intelek yang asyik dengan dirinya sendiri. Tapi, ia memiliki peran dan tanggung jawab sosial yang harus dilakoni.

Konsep ulama dengan ciri keintelektualan yang bertanggung jawab ini dalam bahasa Al-Qur’an disebut: rabbani (QS. 3: 79). Ulama yang memenuhi kualifikasi itu disebut ulama rabbani. Lantas, bagaimana sosok ulama rabbani itu?

Banyak ulama yang telah mencoba memberi penjelasan. Tapi, paparan yang singkat namun padat justru datang dari Al ’Allamah Ibnu Jarir At Thabari (w. 310 H.), seorang ulama Sunni paling senior. Ia menjelaskan ulama rabbani sebagai: ”(al Jaami’ ilaa al ’ilmi wa al fiqh al bashar bi as siyaasah wa at tadbir wa al qiyaam bi umuur ar ra’iyyah wa maa yushlihuhum fii dunyaahum wa diinihim).” Maknanya, kurang lebih:  ”seorang yang memiliki kapasitas intelektual dan kebijaksanaan, kualitas kepemimpinan dan aktivisme ishlah dan pengentasan persoalan masyarakat.” Ada tiga kriteria yang ditekankan untuk sampai pada kualifikasi ulama rabbani.

Kapasitas Intelektual
Ulama rabbani adalah seorang yang memiliki basis keilmuan yang kokoh. Dalam tradisi keilmuan Islam, sudah barang tentu ilmu-ilmu dasar seperti Al-Qur’an dan hadits serta cabang-cabang ilmu yang melingkupinya menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Perangkat-perangkat ijtihad, berupa ”ilmu-ilmu alat” dan metodologi inverensi hukum dari sumber-sumber yang otentik, juga menjadi keniscayaan.
 
Setelah kapasitas ilmu yang memadai, seorang ulama dituntut memiliki tingkat kebijaksanaan yang tinggi. Kebijaksanaan ini tidak diperoleh dari ruang kelas dan bangku kuliah. Sebab, kebijaksanaan bukanlah pengetahuan normatif yang dapat ditransfer dari guru kepada murid secara klasikal.

Kebijaksanaan sejatinya kualitas mental yang diperoleh lewat proses pembelajaran pribadi yang justru lebih lama dan lebih berat. Kebijaksanaan diperoleh dari penghayatan yang mendalam terhadap ilmu-ilmu yang telah dikaji. Ia juga digali dari pengalaman dan interaksi dakwah yang lama di masyarakat.

Kapasitas intelektual yang menyelaraskan antara ilmu dan kebijaksanaan inilah yang akan melahirkan sosok ulama yang berpotensi memberi kontribusi dalam memajukan masyarakat. Kapasitas ilmu tanpa dibarengi kebijaksanaan akan tumpul di masyarakat. Sebab, masyarakat hanya dapat disentuh dengan ”bahasa” masyarakat itu sendiri. Kemampuan untuk mentransformasikan ilmu yang dimiliki sesuai dengan ”bahasa” masyarakat adalah bagian penting dari kebijaksanaan.

Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa dasar ilmu adalah semu. Kebijaksanaan semacam ini hanya melahirkan makhluk oportunis yang cenderung akomodatif terhadap semua pihak. Walau harus mengorbankan nilai-nilai dasar dan prinsipil dalam Islam.

Kualitas Kepemimpinan
Kualitas berikutnya adalah kualitas kepemimpinan. Seorang ulama dituntut mampu menjadi pengayom di tengah masyarakat. Ia harus tampil sebagai inspirator, motivator sekaligus dinamisator kehidupan agama.
 
Ulama bukan intelek yang sekadar berkutat dengan pengkajian dan aktivitas akademis belaka. Ulama yang dinanti-nanti umat adalah ulama yang dengan penuh kasih mengulurkan tangannya kepada masyarakat. Dia menuntun umat menuju kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Ulama dengan kualitas kepemimpinan umat ini adalah seorang yang mengakar ke masyarakat. Ia hidup dan berbaur dengan persoalan umat. Yang dengan begitu, umat akan merasa bahwa ulama adalah bagian dari mereka. Sehingga fatwa dan wejangannya akan diikuti oleh masyarakat.

Hal ini berarti pula bahwa ulama dengan kualitas kepemimpinan umat bukan elit agama yang justru menjadi alat kekuasaan. Yang bersuara hanya ketika kepentingan penguasa menghendakinya. Ia juga bukan sekadar corong bagi kepentingan kelompok tertentu. Sebaliknya, ulama rabbani adalah unsur perekat bagi seluruh komponen umat. Ulama yang keberpihakannya jelas tertuju kepada kepentingan seluruh umat.

Aktivisme Ishlah dan Pengentasan Persoalan Umat
Kriteria terakhir ulama rabbani adalah aktivisme perbaikan dan pengentasan persoalan umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Warisan nabi, dalam hal ini, bukan hanya ilmu. Tapi juga peran dan tanggung jawab. Ilmu dan peran serta tanggung jawab itulah yang diwarisi ulama.

Para nabi diutus oleh Allah SWT dengan misi perbaikan. Para nabi berperan di tengah umatnya sebagai pelita yang menerangi jalan umat menuju cita-cita luhur penciptaannya.

Ulama sebagai perawis para nabi dituntut mampu melakoni peran yang sama. Ia memikul tanggung jawab untuk berperan di masyarakat. Ulama harus menjadi solusi terhadap pelbagai persoalan yang menghimpit masyarakat.

Untuk memainkan peran tersebut, ulama dituntut aspiratif dan memiliki kepekaan. Kepekaan menangkap akar dari setiap permasalahan. Ia tidak terjebak pada sebatas mengenal fenomena masalah. Sehingga jalan keluar yang ditawarkannya tidak justru menimbulkan persoalan baru.

Ulama rabbani juga responsif. Ia menawarkan solusi-solusi kreatif dan inovatif terhadap persoalan umat. Untuk itu, ia tidak pasif. Apalagi berpangku tangan terhadap masalah-masalah umat. Ia justru terjun ke masyarakat. Ia larut dalam denyut nadi masyarakat. Kemudian, dengan kapasitas intelektual dan kepemimpinannya, ia tuntun umat menuju kepada kehidupan yang lebih baik.

Kepengurusan MUI Kota Makassar yang Baru
Melihat kriteria ulama rabbani, tidak salah bila masyarakat menitip harapan pada pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar periode yang baru. Apalagi, formasi kepengurusan MUI Kota Makassar periode 2008-2013 memang menunjukkan perubahan. Beberapa wajah baru sekaligus muda dimasukkan dalam struktur kepengurusan.

Perubahan pada struktur kepengurusan tersebut diharapkan tidak sebatas formalitas belaka. Perubahan tersebut diharapkan juga membawa angin segar baru terhadap peran dan kontribusi institusi keagamaan ini ke tengah umat.

Peran ulama yang selama ini telah dirintis, hendaknya dapat ditingkatkan. Ulama cendekia yang mengayomi serta berpihak pada kepentingan masyarakat hendaknya betul-betul dapat diwujudkan. Sehingga Kota Makassar yang bernafaskan religi dan berlandaskan keimanan dapat kita nikmati. Semoga.(Kolom Opini Harian Tribun Timur, Jumat 25 April 2008, link:http://tribun-timur.com/view.php?id=74505&jenis=Opini). Berita Terkait

Artikulli paraprakWahdah Dukung Pembubaran Ahmadiyah
Artikulli tjetërTabligh Akbar Muslimah Sorowako

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini