Darah Haid Bukan Penyakit, Tanda Kedewasaan
(Dialog Kesehatan Lembaga Muslimah Tarakan)

Kurang lebih ratusan kaum perempuan, siang kemarin menyesaki aula Akademi Keperawatan (Akper) Kaltara Tarakan. Bukannya mau berdemo, melainkan untuk mengikuti kegiatan dialog kesehatan.


DIALOG dihadiri pelajar, ormas Islam, mahasiswi dan tamu undangan. Mereka nampak happy, meskipun harus duduk dengan cara lesehan hingga acara selesai. Kegiatan yang terselenggara berkat kerja antara Akper Kaltara dan Lembaga Muslimah Wahdah Islamiyah Tarakan ini, bertemakan “Darah kebiasaan wanita”. Dialog menghadirkan 3 narasumber yakni Halijah SKep Ns dari Akper Kaltara, dr Dewi Mandang SpOG dari RSUD Tarakan dan Nur Aeni AMa dari lembaga Muslimah Wahdah Islamiah Tarakan.

Menurut Dewi Mandang SpOG, darah adalah hal tak asing bagi wanita. Yang jelas kata dia, darah haid bukanlah penyakit, namun merupakan suatu proses normal yang menunjukkan seorang wanita mempunyai kesehatan yang baik.

Di mana wanita tersebut dalam keadaan subur serta bisa hamil. Keadaan ini (haid) terjadi jika seorang wanita menginjak masa remaja, dan keadaan ini pula yang membuktikan seorang remaja menjadi wanita dewasa.

“Haid merupakan perdarahan per-vaginaan yang berlangsung secara preodik dan siklus dari uterus pada setiap wanita sehat tanpa penyakit,” ungkap Dewi.

Jika Dewi menyoroti haid ini dari segi medis, berbeda dengan Nur Aeni Ama. Ia lebih melihat dari segi syariat. Dalam paparannya ia menyatakan haid merupakan darah yang keluar pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan datangnya pada waktu tertentu.

“Bahwa karena janin yang ada dalam kandungan ibu tidak bisa makan seperti anak yang di luar kandungan, dan tidak mungkin menyampaikan makanan untuknya, maka Allah Taa’la telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan dalam kandungan ibu tanpa perlu dicerna bagi janin melalui tali pusar.

darah

Dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, dialah sebaik-baiknya pencipta,” papar Aeni.

 

Sementara itu, Halijah, lebih menyoroti dari faktor psikologi yang mengalami haid. Menurutnya, gejala fisik dan mental yang terkait siklus menstruasi wanita atau premenstrual syndrom (PMS) dialami 7-10 hari menjelang menstruasi dan menghilang beberapa hari setelah menstruasi.

 

“Akibat yang ditimbulkan oleh PMS yakni gangguan pada diri wanita sendiri dan keluarganya. Juga kerugian dalam bidang industri dan komersial, serta dalam skala yang lebih besar adalah ekonomi nasional” jelas Halijah.

Halijah sekaligus ketua panitia acara berharap peserta bisa memahami haid yang normal tanpa gangguan, serta memahami syariat haid dan juga pentingnya memelihara kesehatan reproduksi wanita. (*/rt3) 

Sumber:Radar Tarakan Online 

Artikulli paraprakPetinggi Wahdah Silaturrahim Kapolda Sulselbar
Artikulli tjetërKementerian LH Galang Pesantren

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini