Di Bawah Naungan As-Sunnah
(Catatan yang Sering Terlupakan Oleh Para Du’at Ahlussunnah)
Oleh :Muhammad Ihsan Zainuddin

Apakah yang dapat melebihi kenikmatan berislam dan berda’wah di atas titian jalan al-Sunnah? Bagi mereka yang hatinya telah tertawan oleh keindahan dan kebenaran jalan yang satu ini, rasanya terlalu sulit untuk melepaskan diri atau menanggalkan rasa cinta yang mendalam padanya.

Itulah sebabnya, tidak begitu mengherankan jika Imam Ahmad ibn Hanbal salah seorang imam besar jalan agung ini- pernah menuturkan dalam doa masyhurnya agar Allah mewafatkannya di atas jalan Islam dan al-Sunnah. Menurut Anda, apakah sang imam itu akan menyenandungkan doa mulia tersebut jika hatinya tidak terbius oleh nikmat Islam dan al-Sunnah?

Nah, yang harus kita sadari adalah bahwa, pada saat yang sama seharusnya kenikmatan itu tidak hanya membawa dampak pada para penempuh dan pemegang teguh jalan mulia ini. Sebab tabiat para penempuh jalan al-Sunnah ini sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya- adalah: Ahl al-Sunnah khair al-nas li al-nas. Ahlussunnah adalah manusia terbaik dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, Ibn Taimiyah seolah menitipkan sebuah isyarat bahwa keteguhanmu pada al-Sunnah seharusnya membuatmu menjelma menjadi sesosok pribadi yang khair (sangat baik atau bahkan terbaik) dalam berbagai sisi, terutama ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Ingat! Kepada sesama manusia, siapapun ia, apalagi jika ia adalah seorang penempuh titian al-Sunnah yang mungkin berbeda pandangan dan pendapat denganmu dalam beberapa hal!

Pada hari ini, rasanya kita semua nyaris sepakat bahwa kesan khair al-nas itu sedikit tertutupi dari pandangan  kebanyakan orang. Image yang lahir lalu kemudian tersematkan pada para pejuang al-Sunnah itu justru sebaliknya. Image ini tentu saja bukan karakter manhaj al-Sunnah. Tapi tepatnya ia adalah hasil yang muncul akibat ulah sebagian ”oknum” yang mengaku mendakwahkan jalan ini. Dan dalam tataran kenyataan yang sulit dipungkiri, image negatif ini pada akhirnya lalu menjadi salah satu penghalang dan penghambat gerak laju perjuangan manhaj paling murni ini; manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Itulah sebabnya, mungkin sangat tepat bagi kita semua untuk merenungkan beberapa catatan yang pernah dipaparkan oleh DR. ‘Abdullah al-Ruhaily dalam karyanya Da’wah ila al-Sunnah. Diantara catatan menarik itu adalah sebagai berikut:

1. Bahwa kita harus menyepakati bahwa berdakwah ke jalan al-Sunnah berarti mengajak manusia untuk mengamalkan dan mengaplikasikannya dalam hidup mereka. Dan di sini menjadi sangat penting untuk memahami bahwa cakupan al-Sunnah itu sungguh luas. Ada yang bersifat i’tiqadi, perkataan dan amalan. Ada yang sifatnya lahiriah, dan adapula yang sifatnya batiniyah. Dan hal lain yang tak boleh dilupakan bahwa antara satu sunnah dengan yang lainnya memiliki karakter awlawiyah atau prioritatif. Artinya sunnah-sunnah itu tidak berada pada tingkatan prioritas yang sama. Karena itu sungguh cerdas para ulama kita saat mereka menyimpulkan pembagian hukum-hukum taklifi menjadi 5: wajib, sunnat, mubah, makruh dan haram. Tidak hanya itu, dalam ruang lingkup satu hukum saja wajib misalnya-, tidak semua yang hukumnya wajib berada dalam skala prioritas yang sama. Kewajiban menunaikan shalat misalnya- jelas tidak dapat disandingkan dengan kewajiban memelihara jenggot atau menaikkan kain celana di atas mata kaki. Kewajiban mengikhlaskan niat dan membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati, seperti dengki dan hasrat popularitas misalnya- jauh lebih tinggi skala kewajibannya dibandingkan sunnah-sunnah yang sifatnya lahiriah, seperti memelihara jenggot. Mungkin Anda  heran, atau bahkan menganggap saya melecehkan sunnah. Tapi Anda harus ingat bahwa telah menjadi kaidah yang aksiomatik dalam Islam (ma’lum min al-din bi al-dharurah) bahwa: Sesungguhnya Allah itu tidak memandang pada penampilan lahiriah kalian, namun Ia memandang pada hati-hati kalian.

Namun harus Anda ingat, saya tidak bisa menyetujui Anda mencukur jenggot dengan alasan sedang berusaha membersihkan hati Anda, atau belum mau memelihara jenggot dengan alasan menjaga hati lebih penting. Mengapa? Karena biasanya pembenaran semacam ini hanya dilakukan oleh orang yang akan kehilangan dua sunnah itu sekaligus. Sudah tidak memelihara jenggot, hatinya pun terus saja dipenuhi dengan aneka penyakit hati. Orang yang tulus mengamalkan sunnah biasanya akan memelihara jenggotnya, sambil terus berjuang membersihkan jiwanya dari kotoran-kotoran hati.

2. Harus ada kesiapan untuk menerima kritik dan nasehat meskipun kita sudah meniti jalan perjuangan Ahlussunnah. Jiwa kita harus terbuka mendengarkan masukan-masukan berbagai pihak, walaupun kita merasa telah menyeru kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Mengapa? Sebab yang ma’shum adalah wahyu dan manhaj yang kita pegangi, dan bukan pribadi-pribadi kita. Yang ma’shum adalah ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita baca atau sampaikan, namun bukan diri-diri kita para penyampainya. Bagaimana pun juga, kita meski telah malang melintang menyerukan manhaj Ahlussunnah-, tetaplah manusia biasa yang mendapat sedikit karunia ilmu tapi tidak memiliki jaminan kema’shuman. Karena itu, seorang Ahlussunnah sejati tidak akan pernah terjebak dalam kesombongan akademik, ‘hanya’ karena misalnya pernah berguru dari sekian puluh ulama di zamannya (Hmm, saya pernah mendengar bahwa ada sebuah pamflet pengajian yang menyatakan bahwa hanya Ustadz Fulan yang berhak mengajarkan Kitab Bulugh al-Maram di kota Makassar, hanya karena Ustadz bersangkutan pernah belajar sekian tahun pada seorang ulama Ahlussunnah zaman ini!). Silahkan Anda membuka biografi para ulama salaf. Sungguh luar biasa! Ketawadhuan dan kerendahan hati yang seolah tak bertepi. Dan tidak hanya itu. Kelapangan dada untuk menerima nasehat bahkan kritik pedas adalah salah satu karakter pribadi mereka. Imam al-Syafi’i bahkan pernah menyatakan betapa ia berharap bahwa kebenaran itu justru ditampakkan melalui mulut lawan diskusinya, dan bukan melalui mulutnya.

Nah, pada poin ini, saya ingin menyampaikan dua pesan penting: kepada para ustadz, hendaknya selalu lapang dada menerima kritik dan jangan mengajarkan murid-murid Anda untuk mengkultuskan diri Anda dengan cara bersikap arogan terhadap setiap masukan untuk diri Anda. Dan kepada para murid dari semua ustadz itu, sehebat apapun ustadz-ustadz Anda sekalian, mereka tetap saja bukan para Nabi dan Rasul. Jangan pernah berujar: ”Ustadz itu tidak mungkin salah, lha wong dia muridnya Syekh Fulan…” 

3. Bebaskan diri Anda wahai pendukung Ahlussunnah- dari penyakit ‘ujub karena Anda merasa telah berdakwah atau berjalan di atas jejak-jejak al-Sunnah. Biasanya kita sering kesulitan untuk membedakan antara sikap izzah (keterhormatan) berpegang pada al-Sunnah dengan penyakit ‘ujub karena merasa paling nyunnah. Mohon maaf jika saya harus mengatakan bahwa sebagian kita seringkali menjadi ‘ujub ‘hanya’ karena telah mengamalkan beberapa sunnah yang bersifat lahiriah. Merasa lebih bertaqwa karena telah mengenakan jubah, memelihara jenggot atau mengenakan cadar bagi muslimah (bahkan yang lebih berbahaya lagi jika Anda menganggap bahwa dengan mengamalkan beberapa sunnah, Anda telah menjelma menjadi Ahlussunnah sejati, atau telah mengamalkan seluruh sunnah!). Sikap ‘ujub seperti ini seringkali menjadi penghalang utama bagi kita dalam memperbaiki sisi batiniah kita. Akibatnya, kita lalu merasa cukup dengan segala yang bersifat lahiriah saja. Ingat dan waspadailah bahwa garis pembatas antara sikap ‘izzah dan penyakit ‘ujub itu sungguh tipis!! Sadarilah bahwa banyak sunnah batiniah yang kita lalaikan, sebab kita lebih sering mementingkan bagaimana manusia memandang kita, dan bukan bagaimana Allah memandang kita!  

4. Mengajak umat mengamalkan al-Sunnah yang bersifat lahiriah seharusnya diikuti dan didampingi oleh ajakan untuk juga mengamalkan sunnah-sunnah yang bersifat batiniah dan terkait dengan hati.

5. Penting sekali untuk diperhatikan bahwa pengamalan kita terhadap sebuah sunnah tertentu hendaknya dilakukan dengan cara dan metode yang sesuai pula dengan al-Sunnah. Artinya jangan sampai semangat kita untuk mengamalkan sebuah sunnah menyebabkan kita melanggar sunnah lain yang justru lebih wajib untuk dijaga dari sunnah yang ingin kita amalkan itu. Prinsip ini  terutama seringkali dilanggar pada saat seorang da’i Ahlussunnah ingin melakukan amar makruf nahi mungkar. Padahal sudah jelas bahwa salah satu kaidah penting amar makruf nahi mungkar adalah ia harus dilakukan dengan cara yang makruf pula, dan bukan dengan cara mungkar. Prinsip lain misalnya adalah La inkara fi masa’il al-khilaf. Tidak ada pengingkaran terhadap masalah-masalah khilafiyah yang sifatnya ijtihadiyah (masih terbuka peluang ijtihad) di dalamnya. Nah, yang menjadi problem kebanyakan kita adalah tidak bisa membedakan mana masalah yang masih membuka peluang bagi kita untuk berbeda dan mana yang tidak. Ada yang bersikukuh dengan pendapatnya sendiri dan menganggap kalau sudah Syekh Fulan atau Ustadz Fulan yang mengatakan sudah pasti benar dan yang lain salah. Adapula yang terlalu longgar dan menganggap semua masalah yang diperselisihkan tidak usah diperdebatkan dan diingkari (padahal keberadaan Allah pun hingga kini masih diperselisihkan oleh manusia, bahkan ada yang mengingkari adanya Allah!). Karenanya, di sini sangat dibutuhkan fiqh atau pemahaman yang dibalut dengan ketaqwaan, kecerdasan dan keluasan pandangan kita. Intinya, bahwa menegakkan al-Sunnah haruslah dengan cara yang sesuai pula dengan al-Sunnah.

6. Ingatlah! Bahwa niat yang baik untuk mendakwahkan dan mengamalkan al-Sunnah tidak serta merta menunjukkan bahwa sang pemiliknya memiliki pemahaman yang benar dalam mengamalkan dan mendakwahkannya. Dalam banyak kasus, banyak kita temui orang yang karena merasa sudah pandai membaca kitab, sudah lihai menuturkan ayat, hadits dan perkataan ulama, ternyata sama sekali tidak memahami manhaj Ahlussunnah secara utuh dan benar. Pandangannya yang sempit justru membuat umat ini salah kaprah terhadap manhaj yang haq ini. Akibatnya banyak kaum muslimin yang menganggap manhaj ini tidak akan sanggup menjawab tantangan zaman. Lalu apa solusinya? Solusinya adalah kita harus terus belajar dan bertafaqquh fi al-Din. Bukalah ufuk fikiran dan pandangan Anda. Seorang da’i Ahlussunnah meski berkewajiban melakukan ‘uzlah maknawiyah, namun tidak berarti ia tertutup dengan apa yang berkitar di zamannya. Karena setiap kita adalah bagian dari masa di mana kita hidup. Belajarlah dari sosok Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Guru besar Ahlussunnah satu ini sungguh adalah sosok yang selalu terbuka dengan perkembangan peradaban dan pemikiran yang ada di zamannya. Ia dengan lihainya memilih, menyaring dan mengambil yang bermanfaat, lalu meluruskan bahkan mengkritik sisi yang salah dari peradaban itu. Saya tidak yakin beliau mampu mewariskan karya-karya dahsyatnya kepada kita, jika ia tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Ah, sudahlah. Saya tidak ingin terlalu panjang membuat catatan ini buat Anda sekalian. Saya pikir jika kita semua saya dan Anda- bersinergi menjalankan poin-poin tersebut, kita akan berhasil insya Allah melahirkan sebuah loncatan dahsyat untuk dakwah yang diberkahi ini. Visi atau mimpi besar kita tentang dakwah ini akan terwujud dengan izin Allah. Nah, apakah Anda sudah siap untuk itu? Semoga saja.

 

 

Artikulli paraprakTim Ruqyah Wahdah On Air di Fajar FM
Artikulli tjetërMewujudkan Ummat Wasathan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini