Depag Perlu Fasilitasi Penentuan Waktu Shalat
(Melibatkan Seluruh Stack Holder dari Berbagai Lembaga)

Mengingat betapa pentingnya kita mengkoordinasikan langkah antisipatif dalam masalah waktu sholat, dimana ada indikasi perbedaan waktu sholat (terutama Dhuhur) pada beberapa hari dalam bulan Muharram 1429 H/ Januari 2008 M, yang terlampir di jadwal yang beredar luas di kalangan kaum muslimin Makassar dengan waktu Zawal yang terlihat secara kasat mata.

Olehnya itu DPP WI, Ahad 24 Muharram 1428 H/3 Februari 2007 di Ruang Rapat lantai II Kantor DPP mengadakan Mudzakarah penentuan waktu shalat dengan menghadirkan Ketua Badan Hisab Rukyah UIN Alauddin Makassar DR. Ali Parman, MA dan Ust. Saiful Yusuf, Lc mewakili Dewan Syariah DPP WI, serta mengundang perwakilan dari lembaga yang berkompeten seperti Depag, MUI, Muhammadiyah, dan NU dan beberapa pengurus masjid, namun sampai akhir acara hanya dari depag dan beberapa pengurus masjid yang sempat hadir, yang lainnya berhalangan hadir, berhubung kondisi cuaca yang saat itu yang kurang mendukung.
Acara ini dibuka resmi oleh Ketua Dewan Syariah DPP WI Ust. Muh. Said abd.Shamad, Lc mewakili DPP. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan, “Salah satu sikap orang yang beribadah yang bagus adalah, Selalu merasa khawatir jangan sampai ibadahnya itu ada kekurangannya, malahan orang yang sudah melakukan ibadah yag sebaiknya dengan memenuhi segala syarat-syarat dan rukun yang ditentukan masih merasa khawatir apakah amalannya diterima. Berhubungan dengan hal tersebut, akhir-akhir ini ada fenomena adanya perbedaan waktu shalat dengan letak bayangan yang dipandang kasat mata, kadang-kadang waktu dzuhur masuk sesuai jadwal namun bayangan benda masih di barat. Olehnya itu DPP WI sangat merasa berkepentingan demi untuk menjadikan hati kita  tenang beribadah kepada Allah, supaya jamaah tidak bingung, sehingga pada akhirnya dengan mudzakarah ini ada yang keputusan ilmiah  yang sesuai dengan dalil-dalil syari yang bisa dipegangi,".
 
“Tujuan kita dalam mudzakarah ini untuk mendapatkan solusi yang tepat baik  ditinjau dari sisi syari dan sisi ilmu pengetahuan, namun perlu dibatasi dengan tidak membahas secara detail polemik hisab rukyah. Fokus kita adalah jadwal yang beredar selama ini perlu ada klarifikasi, sehingga mendapat solusi yang positif,” jelas Ust.Muhammad Ikhwan Abd. Jalil, Lc sebagai moderator

Ketua Lembaga Hisab Rukyah UIN ini dalam mengawali materinya mengatakan, “Sebenarnya dari dulu saya menginginkan ada yang menjembatani tentang masalah ini, jadi harus ada wadah seperti yang dilakukan oleh Wahdah ini, namun ini belum maksimal karena beberapa stack holder yang seharusnya ada belum hadir, yakni perwakilan dari NU, Muhammadiyah dan MUI. Ini hanya merupakan langkah awal, sehingga belum ada keputusan yang bisa diambil, nanti ini perlu ditindak lanjuti lebih luas yg melibatkan seluruh komponen ummat Islam dan kalau perlu ada badan resmi pemerintah yang berkompeten yaitu Badan Hisab Rukyat  (BHR) Departemen Agama supaya satu bahasa,” Tandas Ketua Komisi Fatwa MUI Makassar ini.

Lanjutnya, “sekarang ini ditengah masyarakat beredar empat macam waktu shalat dari berbagai lembaga, yakni : SM (Suara Muhammadiyah), KH.A.Bone dari komunitas NU, Sainuddin Jambe dan Almanak Nautica yang kesemuanya dari penelitian yang dilakukan,”

Dengan adanya hipotesa dari wahdah ini, yakni terjadinya perbedaan masuknya waktu shalat dengan jadwal yang beredar, perlu segera diadakan penelitian ulang, karena penelitian-penelitian sebelumnya belum bisa dinyatakan keliru tanpa ada peneletian sesudahnya yang dapat membuktikan secara ilmiyah adanya perbedaan yang muncul, dengan melibatkan semua komponen yang berkompeten.

Sedangkan dalam materi kedua yang dibawakan oleh Ust. Saiful Yusuf, Lc (Ketua Bidang I DPP WI) mengungkapkan,  “Dari hadits-hadits  umum yang menjadi dasar penetapan waktu shalat, sesungguhnya memang penetapan waktu shalat bukanlah sesuatu yang sulit, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggantungkan penentuannya pada tanda-tanda yang terdapat pada alam semesta yangg memungkinkan bagi setiap orang untuk memantaunya,”

Pada prinsipnya Pada alquran disebutkan bahwa "Sesungguhnya shalat, wajib bagi orang-oarng yang beriman dengan waktu-waktu yang telah ditentukan" 

Penjabarannya terdapat pada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, diantaranya oleh Imam Muslim dari Abdullah ibnu amar ibn ash Radhiyallahu Anhu, yakni: waktu dzuhur apabila matahari zawal (tergelincir) hingga apabila bayangan sama tinggi dengan bendanya, waktu shalat ashar sebelum matahari berwarna kuning (untuk hal ini ada ikhtilaf ulama, sebagian mengatakan bayangan dua kali lipat dari panjang benda, sebahagian lagi barangsiapa yang mendapat satu rakaat sebelum matahari terbenam maka ia mendapat shalat ashar, sebagiannya lagi apabila terbenamnya matahari secara sempurna) dan waktu shalat maghrib selama belum hilang warna merah di langit. Akhir waktu shalat isya sampai akhir pertengahan malam (ada juga pendapat, sampai masuknya shubuh) dan waktu shubuh sejak terbitnya fajar shodig sampai terbitnya matahari, yang semuanya berdasarkan waktu Alam

Tentang waktu masuknya waktu dzuhur, telah ijma ulama memberikan penjelasan bahwa, waktu dzuhur masuk ketika zawal yaitu tergelincirnya/condongnya matahari dari pertengahan langit ke arah barat (matahari beredar dari timur ke barat) dan pengertian zawal ini juga semakna yang ada dalam kamus-kamus bahasa arab.

Sebenarnya waktu ashar juga berbeda dari jadwal yang beredar, lambat sekitar 15 menit, namun ini tidak jadi masalah karena sudah masuk waktu, tinggal masalah afdaliahnya.
meskipun tentu harus dikembangkan dengan penelitian atau pengamatan seluruh waktu shalat yang sebenarnya,ini hanya merupakan contoh kasus yang harus kita tindaklanjuti untuk secara cermat kemudian mengetahui sebenarnya waktu-waktu shalat yang seharusnya kita masuk padanya”,terang anggota Dewan Syariah DPP WI ini menutup materinya.

Di akhir acara, moderator mengutarakan bahwa pada mudzakarah ini belum ada kesimpulan final yang bisa diambil akan tetapi ada beberapa hal yang dapat dijadikan data awal yakni:(1)Memang ada perbedaan jadwal waktu shalat yang beredar karena sumber-sumbernya beda, yang masing-masing mengadopsi dari berbagai sumber sebagai rujukan dan Badan Hisab Rukyah Sulsel belum mengeluarkan secara resmi jadwal waktu yang seragam, (2) kepada para pengurus masjid untuk menyeragamkan jam terlebih dahulu dengan menyesuaikan jadwal waktu tempat masing-masing dengan waktu GMT, (3) Perlu ada pihak berkompeten dari Departemen Agama Kota Makassar untuk menfasilitasi penelitian baik dari hisab dan rukyah, MUI, Ormas Islam, BMG, Angkatan Laut sehingga didapatkan hasil yang akurat  (4) Salah satu solusi praktis yang bisa diambil adalah dengan mentakhir adzan beberapa lama untuk mengantisipasi waktu shalat belum masuk sampai waktu yang diyakini, dengan tetap mengharapkan perlu adanya jadwal lebih tetap.

“Kepada para pengurus masjid untuk bisa mengambil tindakan yang tidak menimbulkan kegonjangan, dengan memberikan sosialisasi yang baik dan musyawarah dengan jamaah masjid,” terang moderator yang juga penanggung jawab mudzakarah ini menutup acara.
 

Artikulli paraprakPelatihan Penyelenggaraan Jenazah Lembaga Muslimah WI (1)
Artikulli tjetërPembentukan DPC Barru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini