Rubrik ini untuk edisi awal, kami persembahkan buku “Syarhu Ushulil Iman” tulisan Al Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala yang diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin,LC (Penanggung Jawab Program Tadrib Ad-Du’at Wahdah Islamiyah) kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” Dasar-dasar Keimanan “. Insya Allah kami sajikan risalah ini secara bersambung. Selamat mempelajari semoga bermanfaat.

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-NYA, meminta tolong kepada-NYA, meminta ampun kepada-NYA dan bertaubat kepada-NYA. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan jiwa-jiwa kita dan dari amalan-amalan kita yang jelek/jahat. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, namun barang siapa yang disesatkan oleh-NYA maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan saya bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah yang satu saja tiada sekutu bagi-NYA, dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-NYA semoga shalawat dan salam senantiasa melimpah pada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan. Amma ba’du.

Maka sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia, paling tinggi derajatnya, dan paling wajib dipelajari, karena ia adalah ilmu tentang ALLAH, nama-nama-NYA, sifat-sifat-NYA dan hak-hak-NYA atas seluruh hamba-NYA. Dan (juga) karena ia adalah kunci jalan menuju Allah Ta’ala dan merupakan dasar bagi syariat-syariat-Nya. Oleh karena itu, para rasul bersepakat untuk berdakwah pada ajaran Tauhid ini, Allah berfirman : وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ Artinya : Dan kami tidak mengutus seorang rasul satupun sebelum kamu, melainkan kami mewahyukan kepadanya: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Al-Anbiya’ : 25) Allah Ta’ala telah mempersaksikan keesaannya pada diri-Nya, dan para malaikat dan para ahli ilmu (juga) telah bersaksi tentang hal itu, Allah ta’ala berfirman : الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا Artinya: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah : 3) Allah berfirman : إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (Ali Imran : 19) Allah juga berfirman: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ Artinya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imran : 85) Dan Allah ta’ala benar-benar telah mewajibkan seluruh ummat manusia untuk memeluk Islam karena Allah ta’ala; maka Allah ta’ala berfirman seraya mengatakan pada Rasulullah saw : قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ Artinya: “Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Menghidupkan dan Mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raf 158)
Dan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda : وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ Artinya: “Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya! Tidak ada satupun dari ummat ini, baik Yahudi ataupun Nasrani yang mendengar tentang aku, lalu ia tidak beriman dengan apa yang kubawa (Risalah) melainkan ia termasuk dalam penduduk neraka.” Yang dimaksud beriman kepada Muhammad saw adalah mempercayai seluruh/semua yang dibawanya disertai penerimaan dan ketundukan – tidak cukup sekadar mempercayainya. Karena itu, Abu Thalib belumlah dianggap beriman kepada Rasulullah saw meskipun ia telah mempercayai risalah yang dibawanya dan bahkan dia juga telah bersaksi bahwa (Islam) adalah agama yang terbaik. Dan Agama Islam itu telah mencakup semua maslahat yang dikandung oleh ajaran agama-agama terdahulu, namun ia berbeda dari segi bahwa ia selalu sesuai dengan setiap zaman, tempat dan ummat. Allah berkata seraya berbicara kepada Rasul-Nya saw: وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ Artinya: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (Al Maidah : 48) Adapun arti dari “sesuai dengan setiap zaman, tempat dan ummat” adalah bahwa berpegang teguh dengan Islam sama sekali tidak menafikan maslahat ummat di zaman apapun atau di tempat manapun, bahkan Islam itulah yang merupakan (inti) kemaslahatan ummat. Dan bukan berarti Islam itu tunduk (pada keinginan) setiap zaman, tempat dan ummat sebagaimana yang diinginkan (dan dipahami secara salah – pent) oleh sebagian orang. Agama Islam adalah agama yang haq, siapa yang berpegang teguh dengannya secara sungguh-sungguh dan benar maka Allah akan menjamin untuk selalu menolong dan memenangkannya atas orang-orang yang berpegang teguh pada selain Islam. Allah berfirman: هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ Artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci” (Ash Shaff : 9) Dan Allah juga berfirman : وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi; sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An Nur : 55) Agama Islam (hakekatnya)adalah terdiri atas aqidah dan syari’ah. Aqidahnya dan syariahnya begitu lengkap dan sempurna: 1. Islam memerintahkan tauhid kepada Allah ta’ala dan melarang akan kemusyrikan 2. Islam memerintahkan kejujuran dan melarang akan kebohongan 3. Islam memerintahkan keadilan dan melarang akan kezaliman 4. Islam memerintahkan perbuatan amanah dan melarang akan khianat 5. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang akan perbuatan melanggar janji 6. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua dan melarang perbuatan durhaka pada keduanya 7. Islam memerintahkan untuk menyambung tali silaturrahmi dengan para kerabat dan melarang pemutusan tali silaturrahmi tersebut. 8. Islam memerintahkan berbuat baik/bertetangga dengan baik dan melarang akan sebaliknya. Kesimpulannya adalah bahwa Islam memerintahkan seluruh akhlaq yang bersifat mulia dan melarang akhlaq yang rendah. Memerintahkan segala amal yang saleh dan melarang segala amal yang buruk (tidak saleh). Allah berfirman : إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (An Nahl : 90) RUKUN-RUKUN ISLAM Rukun-rukun Islam adalah dasar-dasar dimana Islam dibangun di atasnya. Dan (rukun-rukun Islam) itu ada lima – sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda : ُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ فَقَالَ رَجُلٌ الْحَجُّ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ لَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَالْحَجُّ هَكَذَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Artinya: “Islam itu dibangun di atas lima (rukun): bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan (menunaikan haji).” Seseorang berkata: “(Menunaikan) haji dan berpuasa Ramadhan.” (Ibnu Umar berkata: “Tidak! Berpuasa Ramadhan dan “(menunaikan) haji. Demikianlah yang kudengarkan dari Rasululah saw.” (Muttafaq ‘alaih dan lafazhnya adalah berdasarkan Riwayat Muslim). 1.Adapun (hakikat) persaksian bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya adalah : Keyakinan yang pasti terungkap melalui lisan yang mengucapkan persaksian tersebut, seolah-olah (dengan pemastian) tersebut ia menyaksikannya. Adapun (yang menyebabkan) penggabungan syahadat ini menjadi satu rukun dengan perbedaan hal-hal yang dipersaksikan : Bisa jadi dikarenakan Rasulullah saw adalah orang yang menyampaikan “(risalah Islam) dari Allah ta’ala sehingga bersaksi/persaksian terhadap kehambaan dan kerasulan beliau adalah merupakan penyempurnaan bagi/terhadap persaksian tiada tuhan melainkan Allah. Dan bisa jadi dikarenakan kedua kalimat syahadat adalah merupakan dasar keshahihan dan diterimanya amalan-amalan, sebab tidak sah dan tidak diterima suatu amalan kecuali bila didasari keikhlasan kepada Allah ta’ala dan mengikuti (petunjuk) Rasulullah saw. Dengan ikhlas terwujudlah persaksian bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan dengan mengikuti (petunjuk) Rasulullah saw terwujudlah persaksian (syahadat) Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Diantara buah/hasil yang dapat dipetik dari syahadah (persaksian) yang agung ini adalah : membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan kepada sesam makhluq dan ketaan kepada selain para Rasul. 2. Adapun (hakekat) menegakkan shalat adalah penghambaan kepada Allah ta’ala dan mengerjakannya secara istiqamah dan sempurna dalam waktunya dan gerakan-gerakannya. Diantara buah hasil (dari rukun kedua ini) adalah : kelapangan dada (dengan mengerjakan shalat) dan (shalat itu akan menjadi) kesenangan hati disertai kesucian terhadap kejahatan dan kemungkaran. 3. Adapun (hakekat dari) penunaian zakat adalah penghambaan kepada Allah ta’ala dengan berusaha mengeluarkan kadar yang wajib dari harta-harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Diantara buah (yang diperoleh dari rukun ini) adalah : mensucikan jiwa dari akhlaq yang tercela (bakhil) serta menutupi kebutuhan Islam dan kaum muslimin. 4. Adapun (hakikat dari) puasa di puasa Ramadhan adalah : penghambaan kepada Allah ta’ala dengan berusaha menahan diri dari mengerjakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa pada siang hari Ramadhan. Diantara buah (yang dipetik dari rukun ini) adalah : melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disenangi (oleh hawa nafsu) dalam rangka mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla. 5. Adapun (hakikat dari) menunaikan ibadah haji adalah : penghambaan kepada Allah ta’ala dengan mendatangi/mengunjungi Baitullah untuk mengerjakan rangkaian ibadah haji. Diantara buah (yang dapat dipetik dari ibadah haji ini) adalah : melatih/membiasakan diri untuk mengerahkan/mengorbankan harta dan badan dalam rangka taat kepada Allah. Itulah sebabnya haji merupakan salah satu bentuk jihad fi sabilillah. Hikmah-hikmah yang dipetik dari rukun-rukun tersebut – yang telah kami sebutkan dan juga yang belum kami sebutkan – menjadikan kelompok dari ummat manusia menjadi suatu ummat yang Islamiyah yang suci dan bersih, meyakini agama yang haq, bergerak/berinteraksi dengan sesama makhluk dengan adil dan jujur, karena syariat-syariat Islam lainnya menjadi baik seiring dengan baiknya perkara agama mereka, dan keburukan yang menimpa mereka adalah sesuai dengan buruknya perkara-perkara agama mereka. Barangsiapa yang ingin mempelajari hal tersebut maka bacalah firman Allah ta’ala: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ . أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ . أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang yang merugi.” (Al A’raf : 96-99) Perhatikanlah sejarah orang-orang terdahulu, karena sesungguhnya di dalam sejarah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, dan (terdapat) petunjuk jalan bagi orang-orang yang hatinya belum tertutup. Hanyalah Allah lah tempat meminta tolong. DASAR-DASAR AQIDAH ISLAM Agama Islam – sebagaimana telah dijelaskan – adalah aqidah dan syariah. Dan Kami telah mengisyarakatkan dan menjelaskan sekilas/sedikit dari bagian syariah-syariahnya. Kami juga telah menyebutkan rukun-rukunnya yang merupakan dasar bagi syariah-syariah tersebut. Adapun Aqidah Islam, maka dasar-dasarnya adalah iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir serta taqdir yang baik ataupun yang buruk. Semua hal tersebut/dasar-dasar tersebut telah ditegaskan oleh Al Quran dan As Sunnah. Di dalam Al Qur’an Allah ta’ala berfirman : لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (Al Baqarah 177) Allah ta’ala berfirman tentang (iman kepada) taqdir: إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ. وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ Artinya: “sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran/dengan taqdir dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (Al Qamar 49-50) Sedangkan di dalam As Sunnah, Rasulullah saw bersabda- dalam rangka menjawab (pertanyaan) Jibril ketika ia bertanya kepada beliau tentang iman: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ Artinya: “Iman itu adalah hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari Akhir, dan engkau beriman taqdir yang baik ataupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Artikulli paraprakWudhu
Artikulli tjetërIMAN KEPADA ALLAH TA’ALA (Aqidah 2)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini