Dari Sini Kita Mulai

Di antara kesyukuran kita kepada Allah-azza wajalla- adalah, banyaknya gerakan Islam yang lahir dan tumbuh dengan cita-cita ingin mengembalikan izzul islam walmuslimin. Hanya saja, jarang yang betul-betul memulai usaha perbaikan ummat dari titik star yang tepat. Yang pasti, kesalahan dalam memulai sebuah usaha yang mulia ini akan berakibat fatal dalam perjalanan.

Al-Balagh edisi kali ini mencoba memberi penyengaran tentang dari mana seharusnya sebuah gerakan perbaikan ummat memulai usahanya. Selamat menyimak !

Kalau kita mencermati sierah (perjalanan hidup) Rasulullah, sejak awal bi’tsah sampai beliau wafat, maka kita melihat beliau, shallallahu ‘alaihi wasallam, memulai dakwahnya dari aqidah. Beliau memperkenalkan kepada masyarakat saat itu kepada siapa seharusnya mereka beribadah, untuk apa mereka hidup, bagaimana mereka berinteraksi dengan alam di sekitarnya dan kemana mereka menuju setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah aqidah!

Jika tujuan diibaratkan sebagai kiblat seorang muslim, yang menjadi orientasinya dalam beramal, maka aqidah ibarat motor penggeraknya. Aqidah inilah yang menjalankan dan mendorongnya maju ke arah tujuan dan menghalanginya jangan sampai berhenti, apalagi berpindah haluan. Jika aqidah ini hilang di hati atau pengarunya melemah, maka usahanya akan terhenti atau bahkan surut ke belakang. Aqidah bukan sekedar pengakuan yang terucapkan, bukan juga ilmu retorika yang digunakan untuk memperindah kata-kata.

Al-Qur’an mengingatkan dan menegaskan hakekat ini. Bahkan kitab yang mulia ini berulang-ulang menyebut perintah beramal shalih yang dikaitkan dengan iman. Penyebutan ini terdapat di banyak tempat dan sulit dihitung. Seringnya hal ini disebutkan merupakn isyarat nyata bahwa akidah harus mendampingi amal shalih, dan amal shalih harus menyertai akidah

Aqidah mempunyai dampak kongkrit yang harus dimunculkan secara jelas sebagai bukti kebenaran pengakuan iman. Jika tidak, itu hanya pengakuan tanpa indikasi yang membuktikan kebenaran atau kesungguhannya. Tidak sedikit ayat dalam al-Qur’an maupum sunnah Rasulullah yang menyebutkan bahwa iman tidak terpisahkan dari amal.
Allah berfirman, ”Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa bagi mereka taman-taman surga yang dari bawah pepohonannya mengalir banyak anak sungai.” (Qs. Al-Baqarah: 25).

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda, “Iman itu memiliki  tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah  dan yang paling rendah adalah  menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman.” (HR. Abu Dawud, an-Nasaa’i).

Dengan demikian tidak setiap orang yang mengaku beriman dengan lidahnya itu benar pengakuannya. Iman sesungguhnya mempunyai beberapa indikasi. Jika indikasi itu ada pada seseorang maka benarlah imannya, jika tidak maka pengakuannya dusta. Bagi mereka yang ingin meyakinkan diri tentang  kebenaran hal ini  handaklah ia memperhatikan  dengan seksama  perbedaan  antara iman yang dibuktikan  dengan amal dan sekedar pengakuan semata tanpa bukti  yang membenarkannya maka, hendaklah ia melihat lembaran sejarah.

Salah satu halaman sejarah masa lampau itu adalah generasi para shahabat. Generasi yang diselamatkan dengan akidah Islam, diselamatkan dari noda  syirik serta mencuci mereka dari berbagai roma kekafiran. Lalu akidah mereka menanamkan hakekat iman dan menyinarkan cahaya tauhid dalam hati mereka.

Jadi akidah adalah satu-satunya faktor yang berpengaruh dalam pembinaan, pembentukan generasi tersebut. Sungguh generasi ini telah mempesona kita agar berhenti sejenak membuka berbagai potret dan gambaran yang menunjukkan  dampak dan pengaruh akidah dalam tarbiyah mereka. Mari kita memilih lembaran-lembaran itu mana yang kita inginkan. Apakah kita ingin berbicara tentang shahabat Muhajirin atau Anshar? Yang tua, muda, remaja atau tentang pria dan wanita? Atau apakah kita  ingin potret mereka saat susah dan senang?

Ketika membaca lembaran sejarah mereka yang gemilang maka kita akan melihat bahwa mereka adalah prajurit yang berkuda di siang hari dan jika malam datang mereka adalah abid yang khusyu’ berdiri di atas sajadahnya. Jika kita berbicara tentang pengorbanan nereka adalah para penderma sejati mulai dari harta sampai nyawa sekalipun mereka korbankan demi tegaknya kalimat Allah ta’ala.

Maka dalam setiap potret itu, tanpa kecuali, akan tampak kebenaran iman. Darinya terpancar cahaya yang membuat setiap orang terpesona dan bertanya-tanya, “Apa yang membuat mereka seperti ini. Padahal mereka sebelumnya adalah ummat yang tidak diperhitungkan samasekali. Mereka tenggelam dalam kedunguan fanatisme suku, gemar perang, mengubur anak perempuan hidup-hidup, tapi dalam waktu yang singkat mereka menjadi ummat yang disegani dan diperhitungkan di dunia internasional? 

Gambaran mereka seperti yang digambarkan Allah dalam al-Qur’an,  “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”(al-Fath : 29)

[Maka itulah lembaran masa lalu kita dan bandingkan semua itu dengan realita ummat kita hari ini. Ummat kita, hari ini, tua dan mudanya tenggelam dalam kelalaian, persis seperti anak kecil yang disuruh menjaga rumah orang tuanya. Di saat pencuri datang dengan mudah ia ditipu dengan mainan. Padahal yang memberinya mainan adalah pencuri yang sebentar lagi akan menghabisi isi rumah.

Dan inilah kita, yang sudah dewasa dan mulai sadar bahwa kita telah ditipu oleh para pencuri. Isi rumah kita telah dijarah dan tak satupun yang tersisa. Kita ingin mengembalikan apa yang pernah kita miliki berupa kejayaan dan kebesaran. Maka inilah jalan kembali kita. Hendaklah kita bergegas dan memulai perbaikan ini seperti yang pernah lakukan oleh salafus shaleh. Kita wajib kembali kepada pemahaman mereka tentang Islam lalu memegang teguhnya. Pengorbanan, tekad, jihad, dan pengalaman generasi awal adalah modal utama dalam merintis proyek besar ini. Proyek tegaknya kalimat Laa ilaaha illallah dan kembalinya izzul islam walmuslimin. Wallahu Ta’ala a’lam (Al Balagh)

 

Artikulli paraprakSafari Dakwah DDK Wilayah I
Artikulli tjetërIndahnya Bertetangga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini