Diantara keyakinan yang tidak benar yang berkembang di masyarakat adalah kembalinya arwah keluarga yang telah meninggal dunia ke rumah mereka.

Keyakinan ini mengakar dalam akidah mereka, sehingga menurut mereka keyakinan inilah yang benar. Padahal hal ini bertentangan dengan al-Qur’an al-Karim. Allah azza wajalla berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚكَلَّا ۚإِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖوَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Syaikh al-Allamah Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

من أمامهم وبين أيديهم برزخ وهو الحاجز بين شيئين فهو هنا الحاجز بين الدنيا والآخرة
وفي هذا البرزخ ينتعم المطيعون ويعذب العاصون من موتهم إلى يوم يبعثون.

“Di hadapan mereka ada barzakh yaitu pembatas antara dua perkara. Pada perkara ini barzakh merupakan pembatas antara dunia dan akhirat. Di alam barzakh ini orang-orang yang taat akan mendapatkan kenikmatan sedang para pelaku maksiat akan mendapatkan azab sejak kematian mereka hingga hari kiamat.” (Tafsir as-Sa’di: 654)

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata:

ومن أمامهم حاجز يحجز بينهم وبين الرجوع، يعني: إلى يوم يبعثون من قبورهم، وذلك يوم القيامة.

“Di hadapan mereka ada pembatas yang membatasi mereka untuk kembali hingga hari mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka yaitu pada hari kiamat.” (Tafsir ath-Thabari: 19/70

Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman Ibn Abi Bakar as-Suyuthi rahimahullah dalam tafsirnya menukil perkataan mujahid dia berkata tentang ayat tersebut:

حاجز بين الميت والرجوع إلى الدنيا

“Pembatas antara mayat untuk kembali ke dunia.” (ad-Darul Mantsur: 10/205)

Al-Imam al-Hafizh Abu al-Fida Ismail Ibn Umar Ibn Katsir rahimahullah berkata:

يستمر به العذاب إلى يوم البعث

“Adzab akan terus berlanjut hingga hari pembangkitan kelak.” (Tafsir Ibn Katsir: 3/232)

Adapun hadits-hadits yang menyebutkan bahwa arwah seseorang akan menziarahi rumah keluarganya maka hadits-hadits tersebut adalah hadits batil yang tidak memiliki asal.

1. Hadits Abu Hurairah

حسنوا أكفان موتاكم فإنهم يتزاورون في أكفانهم

“Perindahlah dalam mengafani mayat-mayat kalian karena sesungguhnya mereka akan saling mengunjungi dalam keadaan mengenakan kafan-kafan mereka.”

Al-Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah dalam al-Maudhu’aat berkata: “Sanad haditsnya dari Sulaiman Ibn Arqam dari Ibnu Sirin Dari Abu Hurairah…

Hadits ini tidak diriwayatkan dari jalur Ibnu Sirin kecuali melalui jalur Sulaiman Ibn Arqam. Imam Ahmad mengatakan bahwa Sulaiman Ibn Arqam tidak diriwayatkan hadits-haditsnya. Imam Amr Ibn Ali mengatakan Sulaiman Ibn Arqam Tidak Jujur. Imam Abu Dawud, Nasai Dan ad-Daruquthni mengatakan dia seorang yang matruk (ditinggalkan) haditsnya.

2. Hadits Anas

إذا ولى أحدكم أخاه فليحسن كفنه فإنهم يبعثون في أكفانهم ويتزاورون في أكفانهم

“Jika seorang diantara kalian mengurusi jenazah saudaranya, maka hendaklah dia memperbaik pengafanannya, karena mereka akan dibangkitkan dalam keadaan menggunakan kafan-kafan mereka dan akan saling berkunjung dalam keadaan mengenakan kafan-kafan mereka.”

Hadits inu pula tidak ada asalnya. Dalam sanad periwayatan hadits ini terdapat Sa’dun Ibn Salam. Muhammad Ibn Abdillah Ibn Numair dan Imam Ahmad Ibn Hambal rahimahumallah mengatakan bahwa dia seorang pendusta. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan yang dia sebut adalah hadits palsu. Imam ad-Daruquthni rahimahullah mengatakan haditsnya matruk karena menyebutkan hadits-hadits bathil.

(Al-Mudhuaat: 3/240-241)

Dari penjelasan ini, ahlusunnah berkeyakinan bahwa seorang yang telah meninggal dunia arwahnya tidak mungkin lagi kembali ke dunia pada hari ke 3,7,40 dan 100 setelah hari kematian mereka.

Wallahu a’lam.

—–

Abu Ukasyah Al-Munawy

Artikulli paraprakKAJIAN ISLAMIYAH: Mendidik Anak Tanggung Jawab Siapa?
Artikulli tjetërHijab Wanita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini