Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bukti keimanan. Tidak sempurna keimanan seorang muslim hingga ia menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia yang paling dicintainya melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri, orangtua, istri, anak dan hal lain yang dicintainya.

Hal ini sebagaimana telah dikabarkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersaba:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِه

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga dia menjadikanku sebagai orang yang paling dicintainya melebihi cintanya kepada orang tua dan anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh beliau adalah manusia yang paling berhak mendapatkan cinta yang begitu besar ini. Beliau sangat berhak mendapatkan cinta yang paling tinggi dari setiap manusia. Bagaimana tidak, sementara beliau adalah Nabi paling mulia, beliau merasakan sakit ketika kita merasakan sakit, merasa takut akan adzab yang dapat menimpa kita, sangat bahagia jika kita mendapatkan hidayah, bersabar atas segala gangguan yang menimpa kita, maka beliau selalu mendoakan kita. Beliau menyimpan hak dikabulkannya permintaannya sebagaimana hak ini diberikan pada Nabi-Nabi yang lain, namun mereka menggunakannya. Sedangkan Nabi, beliau menyimpannya dan hanya akan menggunakannya saat permohonan syafaat kelak untuk umat-umatnya. Beliau pernah berdoa hingga air matanya membasahi dan membanjiri kedua pipinya, beliau memohon dan terus memohon kepada Allah agar Allah menyelamatkan kita sebagai umatnya dari adzab-Nya.

Abdullah Ibnu Amr meriwaytakan satu hadits bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaca ayat (Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) (Terjmahan QS. Ibrahim: 36) Dan ayat (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) beliau mengangkat kedua tangannya seraya bedoa, “Wahai Tuhanku, umatku, umatku,” maka beliaupun menangis. Sehingga Allah berfirman, “Wahai Jibril pergilah kepada Muhammad dan Tuhanmu lebih mengetahuinya. Tanyalah padanya apa yang membuatnya menangis.” Maka Jibril mendatanginya lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepadanya. Setelah itu Allah berfirman “Wahai Jibril pergilah kepada Muhammad, dan sampaikan kepadanya bahwa Kita akan meridhoi umatnya dan tidak akan menyakitinya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Abdullah Ibnu Amr mengatakan, “Ketika di akhir sujud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau membaca: “Wahai Tuhanku, bukankah engkau telah menjanjikanku untuk tidak mengadzab mereka selama diriku masih bersama mereka, bukankah Engkau telah menjanjikanku bahwa Engkau tidak akan mengazab mereka selama mereka beristighfar kepada-Mu?” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Duhai jiwa yang berlumuran dosa, betapa ruginya engkau jika tidak mencintainya. Sementara beliau adalah Nabi pemilik syafaat kubra di hari kiamat kelak agar engkau dapat masuk ke dalam surga. Duhai jiwa yang selalu bermaksiat akan perintah dan larangnya, dimana pengakuan cinta itu terhadapnya? Sementara syariatnya begitu banyak yang kau tolak, jenggot engkau hina, hijab engkau cela, shalat engkau abaikan, masjid engkau tinggalkan. Dimana rasa cinta itu terhadapnya? Sementara beliau selalu saja menangis agar dirimu terbebas dari adzab-Nya. Pernahkah engkau menangis karena takut tidak bertemu dengannya? Sementara engkau pernah menangis hanya karena batal bertemu dengan artis idolamu, kemanakah cintamu, dimanakah pengakuanmu?

Tanda Cinta Kepada Nabi

  1. Mengikuti petunjuknya.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Ayat ini membantah setiap yang mengaku cinta kepada Nabi namun mereka tidak mengikti petunjuknya. Sungguh dia telah berdusta dalam perkara ini hingga dia mau mengikuti semua syariat yang dibawakannya pada agama Nabi pada perkataan, perbuatan, dan keadaannya, sebagaimana telah tsabit dari Nabi, “Barangsiapa melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalannya tertolak.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/324)

  1. Memperbanyak shalawat terhadapnya dan selalu memujinya serta beradab ketika menyebut namanya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Terjemahan QS. Al-Ahzab: 56)

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Terjemahan QS. Al-Hujurat: 2)

  1. Berhukum dengan Syariatnya

Allah berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

  1. Mencintai dan membela sunah-sunahnya.

Hal ini dilakukan dengan membantah orang-orang yang selama ini mencela syariat-syariatnya.

  1. Mencintai orang-orang yang dicintainya

Oleh: Muhammad Ode Wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here