Perasaan cinta yang dimiliki manusia adalah hal yang lumrah. Cinta ialah fitrah yang mesti kita syukuri kehadirannya. Cinta ialah gerak jiwa pecinta pada apa yang ia cintai. Cinta yang semestinya mengantarkan kita pada kebaikan, pada yang baik-baik.

Lalu bagaimana jika perasaan cinta yang dimiliki itu justru menjerumuskan pada kubangan lumpur atau lubang yang gelap gulita?

Sebagian insan mungkin pernah merasakan hal ini. Dimana ia merasa begitu jatuh cinta pada lawan jenis (bukan mahram/belum halal). Semisal; barangkali dengan dekat dengannya, kita merasa akan lebih dekat dengan Sang Pencipta, barangkali karena tulisan-tulisan yang ia buat yang kemudian membuat kita jatuh cinta meski tanpa bertatap, barangkali karena ia adalah seorang yang agak paham akan agama kemudian kita jatuh cinta. Akan ada hal-hal yang akan membuat kita jatuh cinta, dan itu lumrah. Sudah fitrahnya.

Tapi, hati-hati saja. Setan tidak akan pernah berhenti menggoda anak-cucu adam hingga hari akhir itu tiba. Membisikkan hal-hal buruk dan menghiasnya seakan itu akan jadi ibadah yang indah.

Betul, tak ada yang salah dalam mencintai makhluk. Bahkan itulah hadiah Allah bagi manusia. Namun akhirnya jadi masalah, ketika kamu mencintai makhluk-Nya dengan cara melanggar aturan-Nya.

Menganggap perhatian padanya sebagai bentuk cinta karena Allah, merasa ada pahala ketika menaruh hati pada dia yang sekilas terlihat menjaga agama. Ia mengira itulah bentuk penjagaan dari hal-hal yang dilarang-Nya. Hati-hati, walau berhias “akhi-ukhti”, dosa tak pandang bahasa.

Jangan-jangan yang kita sebut ‘diskusi dakwah’ hanyalah alasan untuk tahu sedang apa dia di sana. Semua orang bisa jadi pernah mengalaminya. Namun tak semua berhasil terjaga dalam taatnya. akhirnya saling merobohkan keimanan. Bermaksud ingin merawat ketaatan orang, malah keduanya gugur dihantam badai.

Sekalipun semua pekerjaan bisa jadi ibadah, tapi bukan berarti maksiat juga berubah wajah jadi amalan baik. Hebat betul dhuha tahajjudnya, indah nian kultum dan ceramahnya, tapi kencang juga chatting dan telpon si dia semalaman. Naudzubillah

Saling berbalas pesan hingga larut malam. Benar, tak ada yang makhluk yang melihat tapi ada Allah yang mengetahui. Perhatiannya berhasil mematahkan benteng pertahananmu. Meski kamu sadar betul bahwa apa yang saat itu kamu lakukan adalah hal yang salah, tapi setan tak pernah menyerah dan berbisik; ini tak melanggar aturan, jalan saja, bukankah kau ingin ikut merawat ketaatannya pada Allah?

Inilah cinta maksiat, cinta yang memberikan pelajaran dan pengajaran bahwa sesuatu yang tidak dilandasi dengan iman dan rasa takut pada pencipta tak akan ada yang berkah, bukan bahagia yang didapat tapi justru kecewa, patah hati dan keterpurukan.

Sudahkah keridhaan Allah sebagai patokan atas cinta yang kita miliki? Jika belum, maka mari jadikan cintamu membuatmu takut jatuh pada kekufuran dan kesesatan. Maka dengannya kamu tidak akan bisa mencintai seseorang dengan sembarang. Bukan untuk mengekangmu, tapi untuk menjagamu dari “syahwat” dan “nafsu” yang menyamar atas nama cinta. Sebab cintamu itu mahal, dan Allah akan memilihkan kamu dengan dia yang juga mencintai-Nya.

Mari menjaga cinta dengan penghormatan paripurna.

Masyaallah, indah sekali.[]

Penulis: Dian Rahmana Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here