Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alah berfirman, ‘Anak Adam telah menyakitiku! Mereka berkata, ‘Duhai sialnya masa!’ janganlah mengatakan, ‘Duhai sialnya masa’, sebab Aku-lah Pencipta masa. Aku-lah yang membolak-balikkan siang dan malam. sekiranya Aku berkehendak, niscaya Aku akan menggenggam keduanya (yakni menahan siang dan malam)!” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam riwayat lainnya, “Janganlah kalian memaki masa, karena Aku-lah Pencipta masa. Siang dan malam adalah milik-Ku dan Akulah yang membolak-balikkan keduanya. Akulah yang mengangkat dan menurunkan raja-raja.” (HR. Ahmad).

Mencela masa, kata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zaad Al-Ma’ad, terkumpul tiga kerusakan. Pertama, memaki sesuatu yang tidak layak dimaki. Sebab, masa adalah makhluk ciptaan Allah yang selalu menuruti perintah-Nya, berjalan menurut kehendak-Nya. sebenarnya, pencaci masa itulah yang lebih berhak dicaci dan dimaki.

Kedua, memaki masa termasuk perbuatan syirik. Sebab ia memaki masa karena anggapannya bahwa masa dapat memberi manfaat dan mudharat. Di samping anggapan bahwa masa itu berbuat zhalim, karena telah merugikan orang yang tidak pantas dirugikan, memberi orang yang tidak pantas diberi, mengangkat derajat orang yang tidak pantas diangkat derajatnya, menahan orang yang tidak pantas ditahan haknya. Jadi menurut para pencela itu, masa adalah sesuatu yang paling zhalim. Banyak ditemui syair-syair orang-orang zhalim yang berisi caci maki terhadap masa. Dan kebanyakan orang-orang jahil secara terang-terangan mencaci maki dan menjelek-jelekkan masa.

Ketiga, cacian itu mereka lontarkan terhadap siapa yang telah menetapkan ketentuan tersebut. Sekiranya ketentuan itu mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya hancurlah langit dan bumi. Jika sesuai dengan hakikatnya, Allah yang menciptakan masa itulah yang memberi dan menahan, yang mengangkat dan menurunkan, yang memuliakan dan menghinakan. Masa sama sekali tidak memiliki kuasa atas hal tersebut.

Jadi, memaki masa sama halnya dengan mencaci Allah. Oleh karena itu, ia dianggap telah menyakiti Allah. Dalam kitab Ash-Shahihain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Allah berfirman, ‘Anak Adam telah menyakiti-Ku, ia memaki masa, padahal Aku-lah (yang menciptakan) masa.”

Orang-orang Arab dahulu, sebelum datangnya Islam, biasa memaki masa saat mereka ditimpa musibah. Mereka mengatakan, “Mereka tertimpa malapetaka zaman!”, atau “Zaman telah melumat mereka”. Allah telah menyebutkan tentang mereka dalam Alqur’an, “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa…” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Dalam “At-Targhib wa Tarhib”, Al-Hafizh Al-Mundziri berkata bahwa dahulu orang-orang Arab jika tertimpa musibah atau perkara yang dibenci, mereka memaki masa dengan keyakinan bahwa penentu musibah yang menimpa mereka itu adalah masa. Sebagaimana halnya orang-orang Arab terdahulu meminta hujan kepada bintang-bintang. Kata mereka, “Kami diberi hujan karena bintang ini”, dengan keyakinan bahwa penentu hujan turun itu adalah bintang tersebut. Maka hal itu sama dengan mengutuk Penciptanya. Hanya Allah sajalah yang menciptakan dan melakukan segala sesuatu. Karena itulah Rasulullah melarang perbuatan tersebut.
Oleh: Ustadz Mahardy Purnama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here