Assalamualaikum
Bagaimana cara memberitahu orang tua tentang bahaya riba agar tidak menyinggung perasaannya? Saat ini orang tua saya masih mempunyai urusan dengan bank konvensional, Terima kasih.
Wassalamualaikum
Fauzul – kota tangerang

Jawaban:
Wa alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.
Hayyakallahu akhi..

Harus diakui bahwa berdakwah dan menasehati orang tua adalah perkara yang cukup sulit, disebab karena banyak hal, diantaranya:

Pertama: Harus mengkolaborasikan antara “menegur” kesalahan orang tua dan birrul walidain (berbakti kepada orang tua), dan ini cukup sulit, sebab ada potensi debat dan cekcok ketika dalam proses menasehati dan menegur, apalagi jika nasehat tersebut berupa an-nahyu ‘anil mungkar (melarang kemungkaran).

Kedua: Terkadang orang tua menganggap kita anak ingusan, sehingga secara tidak sengaja timbul sifat meremehkan dan mengabaikan nasehat-nasehat sang anak.

Sesungguhnya diantara konsekwensi birrul walidain adalah berusaha menyelamatkan orang tua dari jurang Neraka, bahkan hal ini merupakan salah satu implementasi teragung bagi bakti kepada orang tua dibandingkan dengan bentuk-bentuk bakti yang lain, namun dalam proses dan prakteknya tetap harus meniti koridor “birrul walidain” berupa berkata yang lembut dan menjauhi perkataan-perkataan yang kasar, sehingga dapat menggabungkan antara dua kebaikan, kebaikan menasehati orang tua dan kebaikan bersikap santun dan lembut kepada mereka, Nabi Ibrahim adalah uswah bagi kita dalam masalah ini, buktinya adalah dialog antara Nabi Ibrahim dengan sang ayah diabadikan di dalam Al-Qur’an:
إِذْ قَالَ لأبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
Artinya:”ketika (Ibrahim) berkata kepada bapaknya:”Wahai bapakku, kenapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”. QS Maryam 42.

Ayat diatas adalah cuplikan dialog antara Nabi Ibrahim dengan sang ayah, yang mana tercermin dari diolag diatas kelembutan dan kasih sayang yang terpancar dari Nabi Ibrahim alaihis salam, hal ini direfleksikan oleh ucapan beliau; Ya abati, di dalam seruan ini tersimpan kelembutan dan kasih sayang. dan bentuk istifham (pertanyaan) dalam menegur, tersirat sikap tidak menggurui orang tuanya dalam proses tersebut.

Maka anda dapat membangun komunikasi model ini dengan orang tua, yaitu komunikasi yang memadukan antara kasih sayang, kelembutan, nasehat, dan tidak terkesan menggurui orang tua, apalagi jika anda mengetahui bahwa orang tua anda termasuk “awam” dalam masalah ilmu agama, maka dapat di duga bahwa beliau terjatuh ke dalam transaksi riba karena tidak mengetahui hukumnya.

Dan jika anda kesulitan untuk menasehati secara langsung, maka anda dapat meminta bantuan orang di sekeliling anda yang memiliki hubungan baik dengan ayah anda untuk menasehati beliau, atau jika orang tua anda gemar membaca, maka bisa dihadiahkan buku-buku bertema riba yang sedang anda nasehatkan.

Jika hal tersebut belum membuahkan hasil, maka anda harus “turun tangan” untuk menasehati beliau, tentunya dengan cara yang lembut dan bijak, dan jika ada solusi yang bisa diberikan terkait transaksi ribanya, maka akan sangat membantu, namun jika tidak ada solusi, maka dapat dinasehati bahwa transaksi riba ini adalah yang terakhir, dan tidak akan ada transaksi baru setelah selesai urusan dengan BANK nanti, seraya dianjurkan untuk bertaubat dengan menyesali perbuatan maksiat yang telah terjadi di masa lalu, dan juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan melaksanakan amalan kebaikan.

Dan jika masih belum berhasil juga dalam upaya anda, dan tidak ada pintu yang dapat diketuk untuk dimintai bantuan, maka ketuklah pintu langit dengan banyak melantunkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, agar dimudahkan bagi orang tua anda untuk meninggalkan riba, sebab Allah adalah Dzat pemberi taufiq untuk bertaubat.

Perlu anda ketahui, bahwa nasehat yang kita upayakan tidak selamanya dapat merubah orang yang dinasehati secara langsung, terkadang perlu waktu dan proses yang agak panjang, maka jangan berkecil hati dan tetaplah optimis dalam menasehati. Dan ketika dalam proses menasehati, maka wajib bagi anda untuk tetap berbakti dan berbuat baik kepada orang, sebab amalan ini fardhu ain hukumnya, dan tidak gugur kewajiban ini, kecuali jika orang tua menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah, Allah berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Artinya:”Dan jika orang tua memaksamu untuk melakukan kesyirikan, maka jangan patuhi mereka, namun hendaknya engkau bersikap baik kepada mereka di dunia”. QS Luqman 15.

Diantara upaya yang dapat anda lakukan -disamping nasehat terkait dosa dan bahaya riba- adalah dengan memperbaiki ibadah-ibadah orang tua anda secara bertahap, misalnya mengajak untuk melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah, jika itu sudah dapat dilaksanakan secara rutin, maka dianjurkan untuk menambah ibadahnya dengan melaksanakan shalat sunnah, demikian seterusnya, tujuan dari proses ini adalah untuk mengkondisikan keadaan hati orang tua sehingga dapat menerima nasehat terkait dosa ribanya.

Dan jika semua upaya telah anda lakukan, dan orang tua anda tetap bersikeras diatas kesalahannya, maka anda dapat memintakan ampun bagi dosa-dosa mereka, sebab ingatlah bahwa doa anak shaleh adalah do’a mustajab, bahkan kendati orang tua telah berkalang tanah, dan inilah yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk ayahnya ketika ayahnya tidak menyambut baik nasehat sang anak, Allah berfirman:
قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
Artinya: Ibrahim berkata: semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan atasmu wahai ayahku, aku akan memohon ampunan bagimu kepada Allah, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. QS Maryam 47.

Ketika ayah Nabi Ibrahim bersikukuh diatas kekufuran, maka nabi Ibrahim tetap bersikap baik kepada orang tua, bahkan memintakan ampun untuk orang tuanya kepada Allah subhanahu wata’ala, namun hukum bolehnya memintakan ampun untuk orang kafir kemudian dianulir sebagaimana yang tercantum dalam surat At-Taubah 113. Namun larangan tersebut khusus bagi orang yang meninggal dalam keadaan kafir, bukan untuk yang meninggal dunia dalam keadaan Islam, maka anda tetap dapat mendoakan orang tua anda, sebagai implementasi lain dari birrul walidain.

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi anda untuk memberikan nasehat kepada orang tua anda, dan semoga Allah berkenan membimbing orang tua anda dan seluruh kaum muslimin ke jalan yang diridhoiNya, Amin.
Wallahu a’lam bish showab.

Dijawab oleh Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A
(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here