Buta Islam, Bagaimana Mengobatinya? 

Islam adalah agama ilmu dan pengajaran, agama yang nyata dan jelas. Setiap Muslim memiliki ilmu yang pasti dan benar yang tidak dimiliki oleh pakar-pakar dan budayawan-budayawan non-Muslim.

Dia mengetahui bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dia juga mengetahui; bagaimana awal mula penciptaan manusia, untuk apa diciptakan, dan kemana akan kembali.

Seorang Muslim juga beriman (percaya dan membenarkan) adanya kebangkitan setelah kematian. Adanya surga dan neraka. Ini adalah sebagian ilmu yaqini (pasti kebenarannya) yang tidak seorang pun memilikinya selain Muslim.

Karenanya, bukan sesuatu keanehan jika ayat pertama dari Al-Quran yang diturunkan berkaitan dengan perintah untuk membaca, di mana ia merupakan alat untuk mendapatkan ilmu:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-Alaq: 1).

Dan juga bukan suatu yang mengherankan jika Allah Ta’ala mengokohkan manusia dengan mengajarinya tentang Al-Qur’an, sebelum dikuatkan penciptaan dan pengadaannya

"(Tuhan) Yang Mahapemurah. Yang mengajarkan Al-Quran. Dialah yang menciptakan manusia." (QS. Ar-Rahman: 1-3).

Dengan membaca nash-nash (baik ayat maupun hadits) yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan dorongan untuk memperolehnya, seorang Muslim akan sampai kepada arti pentingnya ilmu, bahwa ilmu yang sangat perlu untuk dicari adalah ilmu tentang Allah, ayat-ayat, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Dia merupakan santapan bagi jiwa, menggembirakan hati, dan sebab yang mengantarkan kepada keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nilai Sebuah Ilmu
Manakala ilmu menjadi landasan maka ukuran-ukuran pun tepat dan timbangan-timbangan pun lurus. Ilmu (ilmu agama) merupakan barometer dan pondasi di mana ilmu-ilmu yang lain dibangun di atasnya dari tempat keluarnya. Allah Ta’ala berfirman, artinya:
 
 “Katakan, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar: 9).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman, artinya:

"Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujaadalah: 11).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui haditsnya bersabda, artinya,

“Ulama adalah pewaris para nabi”  (HR. Tirmidzi)

Dalam sabdanya yang lain beliau juga bersabda,

“Keutamaan orang berilmu dengan ahli ibadah seperti keutamaan bulan dengan bintang-bintang.”           (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sabda beliau yang lain,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) 

Sebuah Ironi
Kita sama sekali tidak mengecilkan arti pentingnya ilmu-ilmu dunia. Ia tetap mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan kaum Muslimin. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Seperti halnya keterbelakangan kaum Muslimin dalam ilmu-ilmu ini, mempunyai andil bagi lemahnya kaum Muslimin. Ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh umum. Akan tetapi kita tidak setuju dengan orang yang menjadikan ilmu dunia sebagai pondasi bagi kemajuan dan ukuran keutamaan dalam bidang ilmu dan pengetahuan, serta lebih mengedepankannya dari ilmu-ilmu syariah yang beraneka-ragam.

Mengapa kita tidak saling bertanya apa yang menyebabkan kaum Muslimin buta terhadap urusan-urusan agama mereka? Dan ketidaktahuan mereka terhadap kaedah-kaedah agama Islam yang paling sederhana sekalipun? Ini merupakan suatu keadaan aneh yang perlu segera dihentikan, serta disembuhkan dari pengaruhnya yang buruk.

Merupakan suatu hal yang menyakitkan, pada hari ini kita mendapati di kalangan umat Islam, orang yang mampu menulis dan berbicara tentang segala sesuatu secara mendalam serta bebas, dalam masalah ekonomi, politik, sastra, dan kebudayaan. Akan tetapi ia tidak mampu untuk menjabarkan (bukan sekadar hapal) pengertian Islam dan rukun-rukunnya, rukun iman dan dasar-dasarnya, tauhid dan macam-macamnya, pembatal-pembatal keislaman, demikian juga shalat beserta rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Di antara kaum Muslimin sekarang ada orang yang mempunyai ijazah bertumpuk-tumpuk dan gelar berderet-deret, telah mencapai usia separuh baya akan tetapi hampir tidak mampu untuk mengucapkan satu huruf Al-Quran, apalagi untuk membaca satu surat dari Al-Quran dengan tartil (sesuai kaedah-kaedah tajwid). Suatu pemandangan yang menyedihkan memang.

Obat yang Tepat
Sesungguhnya berterus terang tentang penyakit yang diidap merupakan pintu pertama pengobatan. Dan mengakui kekurangan kita dalam mempelajari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya merupakan jalan pertama untuk memperbaiki dan meluruskannya.

Allah Ta’ala tidaklah membebani kita dengan beban yang berat. Kita tidak harus mengetahui semua permasalahan dalam agama Islam hingga masalah yang sekecil-kecilnya, tidak demikian. Cukuplah bagi kita seperti yang ditunjukkan firman Allah berikut ini, artinya:

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122).

Perlu ditekankan di sini, hal ini tidak berarti seorang Muslim itu berpaling dan membiarkan dirinya tidak mempelajari pokok-pokok dan akidah-akidah agama Islam.

Tanyakan kepada diri kita sendiri, berapa jam dalam satu pekan kita mengkhususkan untuk membaca Al-Quran serta mempelajarinya? Berapa waktu yang kita luangkan dalam satu pekan untuk mengkhususkan diri menghadiri majelis-majelis ilmu, atau ceramah-ceramah agama? Apakah kita mengambil manfaat dari perkembangan teknologi komunikasi untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat, melalui kaset, buku, dan situs-situs informasi dunia? Atau memfokuskan diri kita untuk belajar pada institusi pendidikan Islam yang mengkaji Islam secara komprehensif?

Kesibukan para as-salaf as-shaleh (pendahulu-pendahulu kita dari sahabat, tabi’in, dan yang mengikutinya—semoga Allah meridhai mereka semua—dengan pekerjaan-pekerjaan hariannya, tidak melalaikan mereka untuk menyisihkan sebagian dari waktunya untuk menuntut ilmu syar’i. Urusan itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Ia membutuhkan keikhlasan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman, artinya:

"Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu." (QS. Al-Baqarah: 282).

Perkara ini juga membutuhkan langkah awal untuk memulainya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan dengannya jalan menuju surga..” (HR. Muslim)
 
“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, Dia akan membuat orang itu paham terhadap agama Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, semoga keselamatan dan kesejahteraan Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad , keluarga dan para sahabatnya.
DR. ‘Aadil ibn ‘Ali As-Syuddie
(Pengajar Pada Fakultas Kebudayaan Islam Universitas Malik Su’ud Riyadh- Kerajaan Saudi Arabia)
 Sumber : “Yayasan Al-Sofwa” (Al Fikrah)

 

 

 

 

Artikulli paraprakWahdah Islamiyah “Optimis 2020 Peradaban Islam Tegak”
Artikulli tjetërWahdah Formatur Pembentukan Forum Ummat Islam Sulsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini