Bukan Sekedar Tren (2)

Ikut kajian di mana?" Tanya seorang kawan kepada seorang siswa salah satu SMU. Ditanya seperti itu, siswa itu pun menunjukkan sikap bingung seolah tidak paham pertanyaan. Padahal, jika dilihatdari penampilannya—dengan celana di atas mata kaki—cukup untuk menunjukkan bahwa siswa itu aktif mengikuti kajian-kajian keislaman. Ternyata, model celana "tergantung" yang dipakai siswa tersebut memang lagi tren. Mereka menyebutnya; model botol.

Di sisi lain, fenomena yang sering tampak di masjid-masjid, sebagian jamaah melipat celana panjang yang dikenakannya ketika hendak shalat. Ketika ditanyakan alasannya, jawabannya, "Saya juga tidak tahu. Cuma lihat banyak orang melakukan seperti itu."


Batas Pakaian
Cara berpakaian termasuk hal yang juga diatur dalam Islam. Di antaranya adalah batas pakaian. Bagi laki-laki, batas pakaian adalah mata kaki. Jika melewati batas tersebut, maka itulah yang disebut dengan istilah "isbal".
Persoalannya adalah; apakah batasan itu wajib sehingga berkonsekuensi dosa bagi yang melanggarnya?
Mari kita simak dalil-dalil pelarangan isbal berikut ini, lalu silahkan Anda simpulkan hukumnya: Wajib ataukah sunnah?


Dalil dari Al Qur’an

Jika Anda menanyakan dalil pelarangan isbal dalam Al-Qur’an, maka secara nash memang tidak ada. Namun sebagian ulama menyebutkan, larangan isbal dan perintah mengangkat pakaian telah disebutkan dalam firman Allah سبحانه وتعلى,

  “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Muddatstsir: 4).
Al Imam Al Qurthubi menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Dan pakaianmu angkatlah dan pendekkan karena dengan memendekkan pakaian lebih menjauhkan dari najis. Jika dia menurunkannya ke tanah maka pakaian tersebut tidak aman dari sesuatu yang dapat menajiskannya. Demikian perkataan Az Zajjaj dan  Thowus.” (Tafsir Al Qurthubi, 19: 65).


Dalil-dalil dari As-Sunnah

Adapun hadits, maka yang menyebutkan tentang pelarangan isbal sangat banyak. Bahkan diriwayatkan secara mutawatir setidaknya oleh 21 sahabat. Dan semuanya menunjukkan pelarangan yang jelas.

Dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—dia berkata, "Saya mendatangi Rasulullah , saat itu saya memakai sarung baru sehingga terdengar bunyinya, maka beliau bertanya, “Siapa ini?” Saya menjawab, “’Abdullah bin ‘Umar!” Beliau bersabda, “Jika kamu ‘Abdullah maka angkatlah sarungmu.”  Ibnu ‘Umar berkata, “Maka saya mengangkatnya." Beliau bersabda lagi, “Tambah!” Ibnu ‘Umar berkata, “Maka saya mengangkatnya hingga ke tengah betis.”(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani. Dinyatakan shahih oleh Ahmad Syakir).

Dari Hudzaifah رضي الله عنه berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم memegang otot betisku atau otot betisnya (demikian perkataan Abu Ishaq) maka beliau bersabda, “Ini adalah letak sarung, dan jika kamu enggan maka ini (dan beliau menurunkan pegangannya). Dan  jika  kamu  masih  enggan  maka ini (dan beliau menurunkan pegangannya). Dan jika kamu masih enggan maka tidak ada hak bagi sarung di kedua mata kaki." (HR. At-Tirmidzi dan lainnya. Dinyatakan shahih oleh Al Albani).

Kedua hadits di atas jelas menunjukkan perintah Nabi صلى الله عليه وسلم untuk tidak isbal. Melanggarnya, berkonsekuensi pada ancaman-ancaman yang juga disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits-hadits berikut ini: 

Dari Zaid bin Aslam berkata, “Ayah saya mengutus saya ke Ibnu ‘Umar, maka saya berkata, “Bolehkah saya masuk?” Ibnu ‘Umar mengenali suaraku lalu berkata, “Wahai, Anakku! Jika kamu mendatangi suatu kaum maka katakanlah, “Assalaamu’alaikum”, dan jika mereka menjawabmu maka katakanlah, “Bolehkah aku masuk?” Kemudian Ibnu ‘Umar melihat anaknya yang kain sarungnya turun/meleret, maka dia berkata, “Angkatlah sarungmu karena saya telah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang meleretkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak melihat kepadanya”. (HR. Ahmad, Al Humaidi dan Abu Nu’aim). 

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sifat sarung seorang Muslim itu hingga tengah betis. Tidak berdosa antara tengah betis dan mata kaki. Dan apa yang  di bawah mata kaki maka itu di neraka.” (Beliau mengulanginya tiga kali) “Barang siapa yang meleretkan sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan memandangnya (di hari kiamat).” (HR. Abu Dawud dan lainnya. Hadits shahih).

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—dia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak melihat kepadanya di hari kiamat.” Abu Bakar berkata, “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya salah satu tepi pakaian saya selalu turun kecuali jika saya menjaganya.” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya kamu tidak melakukan itu karena sombong”. (HR. Bukhari).

Barangkali, setelah membaca hadits-hadits di atas, Anda akan berkata, "Ketiga hadits di atas hanya menyebutkan ancaman isbal jika disertai sikap sombong. Kalau begitu, boleh saja kita isbal asal tidak disertai sikap sombong. Seperti Abu Bakar رضي الله عنه, beliau ‘diijinkan’ isbal oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم."

Jika Anda merasa kasus Anda sama dengan sahabat Abu Bakar رضي الله عنه, maka jelas tidak apa-apa. Tapi apakah Anda yakin? Mari kita bandingkan.

• Dalam kasus ini, Abu Bakar رضي الله عنه tidak berkata, “Sesungguhnya saya menjadikan sarung saya panjang,” atau, “Sesungguhnya saya mengenakan baju yang panjang.” Namun beliau  berkata,  “Salah satu dari dua  tepi sarungku selalu turun kecuali jika saya menjaganya.” 

Dari perkataan tersebut dapat dipahami bahwa Abu Bakar رضي الله عنه tidak  meletakkan sarungnya dalam posisi di bawah mata kaki, akan tetapi  sarungnyalah yang selalu turun.  Dan keadaan  inilah yang disebutkan oleh Abu Bakar رضي الله عنه tentang dirinya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Maka apa jawaban Nabi صلى الله عليه وسلم? “Kamu tidak termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”

Dan ini adalah kebenaran yang jelas, karena setiap insan mengakui bahwa siapa saja yang melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar رضي الله عنه dalam menjaga pakaiannya—yaitu mengangkatnya setiap akan  turun—tidaklah termasuk dalam perbuatan yang sombong sedikit pun.

Sekarang, bandingkan dengan keadaan mereka yang isbal, bukankah mereka sengaja mengenakan pakaian yang panjangnya melewati mata kaki? Bahkan mereka sengaja mendatangi tukang jahit, lalu merela meminta pakaian yang ukurannya pas dengan selera mereka—di bawah mata kaki?

• Abu Bakar رضي الله عنه telah diberi tazkiyah (rekomendasi) oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bukan termasuk tipe orang-orang yang sombong. Mungkinkah mereka menganggap bahwa tazkiyah tersebut juga berlaku bagi mereka?

Ketiga hadits di atas memang menyebutkan bahwa ancaman-ancaman itu hanya berlaku bagi yang isbal karena sombong. Namun, ternyata tidak semua hadits yang melarang isbal hanya jika disertai kesombongan.

Berikut ini hadits-haditnya:
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apa yang di bawah kedua mata kaki dari kain sarung maka itu tempatnya di Neraka.” (HR. Bukhari).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda, “Sifat sarung seorang Mukmin itu hingga otot kedua betisnya, kemudian hingga ke tengah kedua betisnya kemudian hingga kedua mata kakinya, maka apa yang di bawah dari itu tempatnya di Neraka.” (HR. Ahmad. Syekh Al Albani menyatakan keshahihannya).

Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم membenci sepuluh perkara. Ibnu Mas’ud menyebutkannya (dan diantaranya), “Meleretkan kain sarung.” (HR. Ahmad dan selainnya).

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang Allah tidak mengajaknya berbicara di hari kiamat, tidak melihat kepada mereka, tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Abu Dzar) berkata, ”Rasulullah menyebut ini tiga kali”. Abu Dzar berkata, “Sungguh celaka dan merugi mereka itu, siapa mereka wahai Rasulullah?” Bersabda Rasulullah, “Orang yang isbal, orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits-hadits di atas, menurut Anda apa yang akan menimpa orang-orang yang isbal meski tanpa disertai kesombongan? Neraka, Nabi صلى الله عليه وسلم benci; tidak diajak bicara, tidak dilihat—dengan pandangan rahmat, tidak disucikan oleh Allah سبحانه وتعلى; dan siksa yang pedih. 

Ada banyak riwayat yang menyebut larangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada para sahabatnya untuk isbal, dan tak satu pun dari sahabat beliau yang menolak dengan alasan, "Saya tidak sombong, ya Rasulullah!"

Lagi pula, orang yang isbal dengan alasan tidak sombong, secara tidak langsung telah menuduh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya adalah orang-orang sombong. "Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat tidak isbal karena khawatir ada kesombongan dalam diri mereka. Adapun saya, saya sangat yakin tidak sombong, jadi saya isbal." 
Bukan begitu? Na’udzu billahi min dzalik.

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
“Angkatlah kainmu sampai setengah betis. Dan jika kamu enggan, hingga ke atas mata kaki. Dan hindarilah isbal karena isbal itu dari kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan,….” (HR. Abu Dawud dan selainnya. Hadits shahih).
Perhatikan kembali sabda Nabi صلى الله عليه وسلم, "Isbal itu dari kesombongan."


Isbal karena Cacat
 
Nabi صلى الله عليه وسلم mengikuti  seorang laki-laki dari Tsaqif hingga beliau berlari kecil mengikuti jejaknya, ketika beliau sampai pada laki-laki tersebut, beliau memegang pakaiannya, lalu bersabda, “Angkatlah sarungmu!” Laki-laki tersebut menyingkapkan pakaiannya hingga terlihat kedua lututnya. Lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, kakiku bengkok dan lututku berbenturan ketika berjalan.” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Setiap ciptaan Allah سبحانه وتعلى itu baik.”
Sejak saat itu, laki-laki tersebut tidak terlihat kecuali sarungnya di tengah kedua betisnya hingga ia meninggal dunia. (HR. Ahmad dan lainnya).

Bayangkan, sekadar isbal untuk menutupi cacatnya—bukan karena sombong, sahabat itu tetap tidak diijinkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Lalu bagaimana dengan Anda?

Alhamdulillah, Allah menganugerahi Anda kaki yang sempurna tanpa cacat. Ini adalah nikmat yang perlu untuk disyukuri. Dan salah satu cara bersyukur adalah dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Isbal di antaranya.
Wallahu Ta’ala A’lam

Bahan bacaan:
Risalah Isbal, oleh Abu Abdillah Muh. Yusran Anshar, Lc.

 

Artikulli paraprakKetika Kemaksiatan Begitu Mudah
Artikulli tjetërMenangis Karena Allah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini