1. Mencintai ketaatan dengan mengharap pahala hari itu.
2. Membenci perbuatan maksiat dengan rasa takut akan siksa pada hari itu,

3.Menghibur orang mu’min tentang apa yang tidak didapatkan di dunia dengan mengharap kenikmatan serta pahala di akhirat.
Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan menyangka bahwa hari akhirat dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan syara’, indera dan akal.

Jawab :
Menurut sunnah, seluruh pakaian pria itu, (ujung bawahnya) antara pertengahan betis hingga mata kaki, dan tidak diperbolehkan melewati mata kaki, berdasarkan sabda Nabi SAW :

مَا أَسفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الِإزَارِ فَهُوَ فِيْ النَّارِ

Artinya : “Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, adalah di neraka (menyebabkan masuk neraka)”. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih)

Tak ada perbedaan antara celana panjang, sarung, pakaian panjang dan Ba syti yang disebut pula dalam bahasa Arab ‘Aba’ah, bahwasanya Nabi SAW menyebutkan sarung, sebagai contoh, bukan pengkhususan.
Lebih afdhal bila (ujung) pakaian itu hanya sampai pertengahan betis, berdasarkan sabda Nabi SAW :

إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ نِصْفُ سَاقِهِ

Artinya : “Sarung orang mu’min itu, pertengahan betisnya”.

1.Bukti Syara’
Allah swt berfirman:
“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kalit idaka kan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Robbkum benar-benar kamu akan dibangkitkan kemudian akan diberitakan kepadamua apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (At Taghabun 7)

2.Bukti Inderawi
Allah swt telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati di dunia ini. Dalam surat Al Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini.

a.Ketika kaum Musa berkata kepada Nabinya Musa as bahwa merka tidak akan percaya dengan risalah yang dibawah Musa as sampai mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Oleh karena itulah Allah berfirman (yang ditunjukkan kepada Bani Isral):
“Dan ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kamit idaka kan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kamibangkitkan kamu sesudah kamu mati supaya kamu bersyukur.” (Al Baqarah 55-56)

b. Cerita orang terbunuh yang pembunuhnya dipersengketakan Bani Israil. Allah swt lalu memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi, kemudian daging sapi itu dipukulkan ke tubuh orang yang terbunuh itu agar dapat menceritakan siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Hal ini diungkapkan dalam fiman-Nya:

“Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikian Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti..” (Al Baqarah 72-73.

c. Kisah kaum yang keluar dari negerinya karena menghindari kematian. Mereka berjumlah ribuan orang. Allah mematikan mereka lalu menghidupkan kembali. Ini digambarkan dalam firman-Nya:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dar kampung halaman mereka sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman: “Matilah kalian: kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karuia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Al Baqarah 243)

d. Kisah orang yang melewati sebuah desa yang hancur. Dia sangsi bagaimana Allah bisa menghidupkan desa itu kembali. Allah mematikannya selama seratus tahun dan kemudian Allah menghidupkannya kembali. Ini dikisahkan dalam firmanNya:

“Atau apakah (kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal disini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah, dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang berulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin Allah mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah 259).

e. Kisah Nabiyullah Ibrahim Al Khalil ketika bertanya kepada Allah bagaimana Dia menghidupkan kembali orang-orang yan telah mati. Allah memerintahkannya untuk menyembelih empat ekor burung dan memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu di atas gunung yang ada di sekelilingnya. Ibrahim memanggil burung itu, lalu tak lama tampaklah olehnya bagian-bagian tubuh burung-burung itu menyatu dan segera mendatangi nabi Ibrahim kembali. Ini dikisahkan Allah dalam Al Qur’anul Karim:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab: “Saya telah percaya kana tetapi agar bertambah tetap hati saya.” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, lalu letakkanlah di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan segera.” Dan ketauhilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah 260)

Inilah contoh-contoh bukti inderawi yang menunjukkan mungkinnya Allah menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Telah diisyaratkan di atas, Allah menjadikan tanda-tanda Isa bin Maryam yang menghidupkan orang-orang yang sudah mati serta mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah swt.

Jawab :
Menurut sunnah, seluruh pakaian pria itu, (ujung bawahnya) antara pertengahan betis hingga mata kaki, dan tidak diperbolehkan melewati mata kaki, berdasarkan sabda Nabi SAW :

مَا أَسفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الِإزَارِ فَهُوَ فِيْ النَّارِ

Artinya : “Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, adalah di neraka (menyebabkan masuk neraka)”. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih)

Tak ada perbedaan antara celana panjang, sarung, pakaian panjang dan Ba syti yang disebut pula dalam bahasa Arab ‘Aba’ah, bahwasanya Nabi SAW menyebutkan sarung, sebagai contoh, bukan pengkhususan.
Lebih afdhal bila (ujung) pakaian itu hanya sampai pertengahan betis, berdasarkan sabda Nabi SAW :

إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ نِصْفُ سَاقِهِ

Artinya : “Sarung orang mu’min itu, pertengahan betisnya”.

3.Bukti Akal (Logika)

Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian:

a. Allah swt sebagai pencipta langit dan bumi seisinya telah menciptakan pertama kali. Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu pasti mampu pula untuk mengembalikannya Firman-Nya:

“Dan Dia lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya….” (Ar Rum 27)

“Sebagaimana Kami telah memulai peenciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami lah yang akan menyelesaikannya.” (Al Anbiya 104)

“Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Robb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengeathui tentang segala makhluk.” (Yasin 29)

b. Bumi yang mati dan tandus akan hidup kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah turun hujan. Yang mampu untukm enghidupkannya setelah mati, dan yang mampu menghidupkan orang-orang yang sudah mati itus udah pasti Allah ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Berkehendak. Allah berfirman:

“Dan sebagian tanda-tanda (kekuasaan)Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menhidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fushilat 39)

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian tanamna yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi mempunya mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Qaf 9-11)

Orang yang ingkar kepada siksa kubur dan kenikmatannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila kubur itu dibongkar akan didapatis perti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit. Persangkaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara’, indera dan akal.

1.Dalil Syara’
Ibnu Abbas r.a. erkata: “Rasulullah saw pernah keluar dari salah satu kebun kota Madinah. Lalu beliau mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu karena tidak memleihara buang air kecil (kencing sembarangan) dan satunya lagi karena mengadu domba.” (AL Bukhari)

2.Dalil Inderawi
Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di tempat yanmg luas, menggembirakand an dia bersenang-senang di situ. Atau terkadang dia juga bermimpi berada di tempatyang sempit, menyedihkan dan menyakitkan. Terkadang seorang bisa terbangun karenamimpinya itu, padahal ia berada di atas tempat tidurnya. Yang, tidur adalah rkean mati. Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan “wafat” seperti dalam Firman-Nya:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan…” (Az Zumar 42)

3. Dalil Akal
Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi mimpi melihat Nabi saw sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa pernah bermimpi melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka dia bagaikan melihatnya benar-benar. Padahal waktu itu ia ada di dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, jauh dariyang diimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang mungkin dijumpai di dunia maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat?
Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur itu digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit maka jawabannya:
1. Apa yang dibawa syara’ tidak boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bathil. Kalau orang yang mempertentangkan itu mau berpikir tentang apa yang dibawa oleh syara’, ia pasti mengetahui kebatilan kesalahpahamannya itu.
Seorang penyair bertutur:
Berapa banyak orang yang mencela pendapat yang benar padahal bencana itu dari pemahaman yang salah
2. Keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh idera, karena jika hal itu dapa tdiindera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkari dalam meperayainya.
3. Siksa kubur, nikmat kubur, luasnya kubur, dan sempitnya kubur hanya dapat dijumpai oleh mayat itu sendiri, bukan yang lain. Ini seperti apa yang dilihat oleh tidur dalam mimpinya, dia bisa berada di tempat yang sempit yang menakutkan, atau di tempatyang luas dan menyenangkan, padahal menurut orang lain yang melihat tidur, tidurnya tidak berubah, masih di dalam kamar dan di atas tempat tidurnya.
Ketika menerima wahyu, nabi Muhammad saw berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau mendengar wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengarnya. Bisa jadi wahyu itu diturunkan dengan cara malaikat menjelma menjadi seorang lelaki, lalu berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihatnya serta mendengarnya.
4. Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah utnuk diketahuinya. Tidak mingkin manusia dapat mengetahui apa saja yang ada. Langit dan tujuh dan bumi seisinya semuanya bertasbih dengan memuji Allah dengan tasbih yang sebenarnya, yang terkadang Allah perdengarkan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Meskipun demikian hal itu terhalang dari kita.
Dalam masalah ini Allah berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al Isra 44)

Demikian halnya dengan setan dan jin yang mondar-mandir pulang-pergi di atas bumi. Pernah ada jin datang kepada Nabi saw dan mendengarkan bacaan beliau, kemudian dia kembali ke kaumnya sebagai juru da’i. Hal itu terhalang bagi kita.

Dalam masalah ini Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah kamu sekalian dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapak kalian dari syurga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaian untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sungguh ia dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’raf 27)

Apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada maka mereka tidak boleh meningkari perkara-perkara ghaib yang ditetapkan oleh syara’ sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya dengan indera mereka.

Artikulli paraprakBERIMAN KEPADA RASUL(Aqidah 5)
Artikulli tjetërIMAN KEPADA TAKDIR(Aqidah 7)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini