Nama dan Kelahiran Imam Muslim bin Al-Hajjāj

Imam Muslim bernama lengkap Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kūsyāż al-qusyairi al-naisabūrī.

Ayah imam Muslim yaitu Al-Hajjaj bin Muslim merupakan seorang penuntut ilmu hadīṡ, walaupun ia tidak setenar ayah Imam Al-Bukhārī, namun ia disebutkan oleh Muhammad bin Abdi al-Wahhab al-Farra’ sebagai seorang guru dan pemerhati hadīṡ di kota Naisabūr.

Sebatas pengetahuan penulis, sangat minim referensi yang menyebutkan tentang biografi ibu Imam Muslim, sehingga gambaran tentang ibu Imam Muslim masih perlu penelitian yang mendalam.

Al-naisabūrī merupakan nisbat Imam Muslim kepada tempat kelahirannya, yaitu Naisabūr, sebuah kota yang terletak di provinsi Razavi Khurasan, sebelah timur Iran, di sekitar wilayah Teheran. Daerah ini bukan hanya terkenal dengan keindahan pemandangannya, namun juga terkenal dengan banyaknya ulama besar yang terlahir disana, seperti Ishāq bin Rāhawaih al-naisaburī (w. 248 H), Ibnu Mājah al-qazwīnī (w. 273 H), Ibnu Khuzaimah al-naisaburī (w. 311 H).

Tentang tahun kelahiran Imam Muslim, Ada beberpa versi yang disebutkan oleh sejarawan islam, diantaranya adalah, pertama: versi Imam Al-Zahabī (w. 748 H), bahwa Imam Muslim lahir di tahun 204 H. Kedua: versi Imam Hakim al-Naisaburi (w. 405 H) dalam karyanya yang berjudul ulamā al-amshār, dan ini dinukil oleh Ibnu Khilkān dalam karyanya wafayāt al-a’yān, bahwa Imam Muslim lahir di tahun 206 H.

Perkembangan Keilmuan Imam Muslim

Di abad ketiga hijriah abad keemasan ilmu hadīṡ, kota Khurasan khususnya Nabisabūr merupakan salah satu markaz ilmu hadīṡ. Banyaknya guru besar bidang hadīṡ yang bermukim di kota tersebut, menjadikan kota itu objek wisata keilmuan yang dituju oleh para penuntut ilmu hadīṡ. Hal ini menjadi salah satu faktor pendukung utama perkembangan keilmuan Imam Muslim.

Imam Muslim terlahir dalam keluarga mulia pecinta ilmu. Sejak kecil ia telah dibimbing oleh orangtuanya untuk mencintai ilmu agama. Mempelajari al-Quran, menghafal dan mendalami hadīṡ-hadīṡ Nabi ﷺ merupakan rutinitasnya setiap hari.

Di umur yang masih belia, yaitu di tahun 218 H – ketika itu umurnya baru 12 tahun – telah nampak kesungguhan dan keseriusan Imam Muslim dalam menuntut ilmu. Saat itu Ia berguru dari ulama-ulama terbaik di kota Naisabur, seperti  Yahya bin Yahya al-Tamimi al-naisābūrī (w. 226 H), Ishaq bin Rahawaih (w. 248 H) dan lainnya.

Keilmuan Imam Muslim lebih berkembang ketika ia merantau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke luar kotanya.  Dikisahkan bahwa Imam Muslim melakukan dua kali perjalanan menuntut ilmu.

Pertama yaitu pada tahun 220 H, pada umurnya yang ke 16 tahun, ia pergi menjalankan ibadah haji. Kesempatan tersebut tidak ia lewatkan untuk tetap belajar kepada ulama-ulama Makkah, seperti Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabī (w. 221 H), yang merupakan murit senior Imam Malik (w. 179 H), setelah itu ia kembali lagi ke kota Naisabur melalui kota Kufah.

Imam Muslim seakan tidak mengenal lelah dalam menuntut ilmu, baik saat  muqimnya atau safarnya. Ia selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk mendulang ilmu dari siapa saja ulama yang dijumpainya. Seperti saat safarnya menuju Kufah, ia tidak menyia-nyiakan momen berharga saat bertemu di perjalanan dengan seorang pakar hadīṡ yang bernama Ahmad bin Yunus al-Tamīmī (w. 227 H).

Kedua yaitu pada tahun 230 H, imam Muslim melakukan perjalanan menuntut ilmu yang durasinya lebih lama dibandingkan petualangannya yang pertama. Pada perjalanan kedua ini Imam Muslim lebih banyak mendatangi negeri-negeri ilmu, seperti Baghdad, Basrah, Kufah, Washīth, Makkah, Madinah, Syam, Mesir, Rai dan lainnya.

Guru-guru Imam Muslim

Jika dibandingkan dengan Imam Al-Bukhārī, guru-guru Imam Muslim tidak sebanyak Imam Al-Bukhārī. Namun karena umur mereka yang tidak terlampau jauh –  kurang lebih usia mereka berbeda 10 tahun- Imam Muslim mendapat kemuliaan bisa berguru dari guru-guru Imam Al-Bukhārī.

Guru-guru imam Muslim dapat dikategorikan dalam dua bagian. Pertama, yaitu  guru-gurunya yang ia tuliskan dalam kitab shahihnya. Jumlah mereka kurang lebih 220 guru, dari jalur merekalah imam Muslim menyusun sanadnya hingga ke Rasulullah ﷺ. Sebagai contoh di sini disebutkan beberapa di antaranya, yaitu:

  1. Abū Bakr bin Abī Syaibah (w. 235 H)
  2. Qutaibah bin Sa’īd al-ṡaqafī (w. 240 H)
  3. Muhammad bin Basyar bundār (w. 252 H)
  4. Muhammad bin Muṡannā al-‘anazī (w. 252 H)
  5. Muhammad bin Rafi’ al-Naisābūrī (w. 245 H)

Kedua adalah guru-guru Imam Muslim yang memiliki peran besar dalam keilmuannya, namun tidak disebutkan dalam shahihnya, seperti:

  1. Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)
  2. Ishāq bin Rahawaih (w. 248 H)
  3. Yahya bin Yahya al-Tamimi al-naisābūrī (w. 226 H)
  4. Muhammad bin Ismā’īl al-Bukhārī (w. 256 H)
  5. Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabī (w. 221 H)

Imam Muslim terkenal dengan “fanatiknya” kepada Muhammad bin Ismā’īl al-Bukhārī (w. 256 H). Di tahun 250 H Imam Al-Bukhārī datang ke Naisbūr untuk mengajarkan ilmunya. Sejak saat itu Imam Muslim selalu bermulāzamah dengan Imam  Al-Bukhārī, menjadikannya sebagai idola, sehingga Imam Muslim menjadi murit terbaik  Imam Al-Bukhārī.

Kalimat-kalimat penghormatan Imam Muslim kepada gurunya diabadikan oleh bebrapa penulis biografi Imam Muslim, ia pernah berkata kepada Imam Al-Bukhārī: wahai guru dari para guru, wahai pemimpin para ahli hadīṡ, wahai dokter hadīṡ yang menguasai kelemahan hadīṡ. Oleh karena itu Imam Al-Dāraqutnī pernah berkata: jika bukan karena Al-Bukhārī tidak dakan dikenal siapa itu Muslim.

Demikian juga kedekatan Imam Muslim dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Setiap kali Imam Muslim berdiskusi dengan gurunya Imam Ahmad, bertanya kepadanya, ia selalu menuliskan hasil diskusinya itu, sehingga menjadi sebuah karya ilmiah.

Walaupun Imam Muslim beristifadah sangat banyak dari Imam Al-Buhārī, namun dalam shahihnya ia tidak pernah menyebutkan periwayatannya dari Imam Al-Bukhrī. Para Ulama yang hidup setelah itu menjelaskan dengan asumsi-asumsi yang dibangun di atas husnuzan dalam penjelasan sebagai berikut:

  1. Imam Muslim ingin menuliskan sanad ‘ālīdalam shahihnya, karena sebagian besar guru Imam Al-Bukhārī juga guru Imam Muslim, olehnya jika ia menyebutkan jalur periwayatannya dari Imam Al-Bukhārī, sanadnya akan menjadi nāzil.
  2. Imam Muslim ingin menulisan tambahan faidah dalam shahihnya yang belum disebutkan oleh gurunya Imam Al-Bukhārī, tambahan faidah itu berupa sanad dan matan baru (ma infarada bihi Muslim), atau matan yang sama dengan shahih al-Bukhārī namun sanad yang berbeda.
  3. Karena permasalahan yang terjadi antara dua gurunya, yaitu Muhammad bin Yahya al-Zuhlī dan Muhammad bin Ismāīl al-Bukhārī, agar menjaga perasaan keduanya Imam Muslim tidak menyebutkan dua-duanya dalam sanadnya.

Murid-murid dan Karya Ilmiah Imam Muslim

Keberhasilan seorang guru terkadang dinilai dari kualitas keilmuan murit-murit yang dibimbingnya. Kapasitas keilmuan seseorang juga kadang dinilai dari hasil karyanya. Imam Muslim termasuk guru yang berhasil mencetak murit-murit unggul, mereka menjadi ulama besar sepeninggal Imam Muslim. Di antaranya adalah:

  1. Muhammad bin Isā al-Tirmizī (w. 279 H)
  2. Muhammad bin Ishāq bin Khuzaimah (w. 311 H)
  3. Abdurrahman bin Muhammad bin Idrīs Ibnu Abī Hātim al-Rāzī (w. 327 H)
  4. Abū al-Fadhl Ahmad bin Salamah

Imam Muslim juga telah menuliskan banyak karya ilmiah, yang menjadi rujukan utama bagi ummat islam sejak zamannya hingga sekarang, di antaranya adalah:

  1. Shahīh Muslim
  2. Al-Tamyīz
  3. Kitāb al-Mukhadhramūn
  4. Su’ālāt Imam Muslim lil Imam Ahmad
  5. Al-intifā’ bijulūdi al-sibā’

Ciri fisik Imam Muslim dan Kedermawanannya

Imam Al-Hakim al-Naisābūrī berkata aku mendengar Abu Abdirrahmān al-sulamī berkata: Aku melihat Imam Muslim mengajarkan hadīṡ, ia memiliki tinggi tubuh yang sempurna, rambut dan jenggotnya telah memutih, ia menjulurkan imamahnya di antara kedua pundaknya, wajahnya tampan, pakaiannya indah.

Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra’ berkata : Imam Muslim hidup dengan usahanya sendiri, beliau menjalankan bisnis berdagang baju, Kain dan tsaub.

Ia terkenal sangat dermawan, suka membantu orang lain dan berbuat baik kepada orang disekitarnya. Al-Zahabī berkata: beliau seorang wirausaha, ia dikenal sebagai muhsin Naisābūr (orang dermawannya Naisabūr).

Apresiasi Ulama terhadap Imam Muslim

Ahmad bin Salamah rahimahullah (sahabat Imam Muslim saat menuntut ilmu) berkata: aku melihat Abū Zur’ah al-rāzī dan Abū Hātim al-rāzī lebih memilih pendapat Imam Muslim daripada ulama lain yang semasa dengannya dalam permaslahan keshahihahan hadīṡ.

Muhammad bin al-Akhram berkata: kota Naisabūr melahirkan tiga tokoh besar: Muhammad bin Yahya, Muslim bin al-Hajjāj dan Ibrāhīm bin Abī Thālib.

Muhammad bin Basyār berkata: pemimpin para huffāz (penghafal hadīṡ) di dunia ada empat orang: Abū Zur’ah di kota Rai, Muslim di Naisabūr, Abdullah al-Dārimī di Samarkand dan Muhammad bin Ismā’īl di Bukhara.

Abū ‘Alī al-Husain bin ‘Alī al-Naisaburī berkata: tidak ada kitab yang lebih shahih di dunia ini –setelah al-Quran- melebihi Shahih Muslim bin al-Hajjāj.

Wafat Imam Muslim

Imam Muslim wafat pada 25 Rajab 261 H di umur 55 tahun. Adapun sebab wafatnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Zahabi dari jalur Ahmad bin Salamah, bahwa dalam satu masjlis mużākarah (tanya jawab) keilmuan, ada seorang yang bertanya kepada Imam Muslim tetang satu hadīṡ yang belum penah ditemuinya, padahal Imam Muslim adalah ensiklopedi hadis di zamannya.

Maka dengan rasa penasaran, ketika ia kembali ke rumah ia memerintahkan anak-anak dan istrinya untuk tidak mengganggunya, karena ia akan fokus mencari hadīṡ yang ditanyakan tadi dalam perpustakaan pribadinya. Di saat itu ada orang menghadiahkan mereka satu keranjang kurma.

Kurma itupun diminta oleh Imam Muslim agar ia mencicipinya saat tengah mencari hadīṡ. Tanpa sadar, waktu fajar telah tiba, hadīṡ yang dicarinyapun berhasil ia temukan, dan ternyata satu keranjang kurma telah habis dimakannya. Para ulama menjelaskan itulah yang menjadi sebab wafatnya.

Oleh: Ust. Surahman Yatie, Lc
(Lulusan Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, Dosen STIBA dan Anggota Dewan Syariah WI)

Berita sebelumyaSYARAT KALIMAT TAUHID: MENERIMA KONSEKWENSI
Berita berikutnyaHukum Mengambil Upah dari Amanah Fotocopy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here