BIOGRAFI IMAM AL-BUKHᾹRῙ (W. 256 H)

  1. Nama, Nasab dan Kelahiran imam Al-Bukhārī

Imam al-Bukhārī bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismā’īl bin Ibrāhīm bin Al-Mughīrah bin Bardizbah/Bardizabbah al-Bukhārī al-Ju’fī.

Al-ju’fī merupakan nisbatnya (sandaran marga) kepada seorang gubernur kota Bukhārā yaitu Al-Yamān al-Ju’fī. Penisbatan ini dilatarbelakangi oleh karena Al-Mughīrah bin Bardizbah, kakek Imam Al-Bukhārī, sebelum datangnya islam ke kota Bukhārā, ia beragama majusi. Setelah islam masuk dalam invasi perluasan dinasti Bani Umayah, ia diislamkan oleh Al-Yamān al-Ju’fī, sehingga penisbatan ini adalah penisbatan keislamannya.

Al-Bukhārī  merupakan nisbatnya kepada kampung halamannya yaitu kota Bukhārā (sekarang di Uzbekistan). Kemudian penisbatan ini mengalahkan ketenaran nama aslinya yaitu Muhammad. Dalam sejarah islam banyak tokoh yang dikenal bukan dengan nama aslinya, seperti Abu Bakr al-Shiddīq, Abū Hurairah, Shalahuddin al-Ayyūbī dan lainnya.   

Allah ﷻ menakdirkan Imam Al-Bukārī terlahir di hari jumat 13 syawal 194 H dalam keadaan buta, di lingkungan keluarga yang islami. Ayahnya yang bernama Ismaīl bin Ibrahīm adalah seorang petualang hadīṡ. Beliau pernah menuntut ilmu hadīs dari guru-guru besar, seperti Imam Malik bin Anas (w. 179 H), Hammad bin Zaid (w. 179 H) dan Abdullah bin Mubarak (w. 181 H).

Ibu Imam Al-Bukārī adalah wanita yang shalihah. Imam Al-Lālakā’ī (w. 418 H) menyebutkan kemuliaannya dalam karyanya karāmātu al-aliyā’. Tak pernah bosan ibunya menyenandungkan do’a dalam tangisannya memohon dengan sungguh kepada Rab Sang Pencipta untuk menyembuhkan kebutaan mata anaknya, lalu Allah ﷻ mengijabah do’anya.

 

  1. Perkembangan keilmuan Imam Al-Bukhārī

Sejak kecil Imam Al-Bukhārī telah ditinggal wafat oleh ayahnya, sehingga ibunya yang memiliki peran besar dalam pendidikan anaknya di usia dini. Di umur 10 tahun Al-Bukhārī kecil dibawa oleh ibunya ke kuttāb (tempat belajar anak usia dini di zaman dahulu) untuk menghafalkan al-Quran dan hadīṡ-hadīṡ Nabi ﷺ.

Allah ﷻ mengaruniakan kejeniusan yang luarbiasa kepada Al-Bukhārī kecil, sehingga di usianya yang masih belia, ia telah menguasai ilmu rijāl al-hadīṡ (biorafi periwayat hadīṡ), bahkan pada satu momen, ia pernah meluruskan kekeliruan gurunya yang bernama Al-Dākhilī ketika salah dalam menyebutkan seorang perawi dalam sanad.

Di umur ke 16 tahun, Imam Al-Bukhārī melaksanakan ibadah haji ke kota Makkah al-mukarramah bersama ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Setelah seluruh manasik telah diselesaikan, ibu dan kakaknya kembali ke Bukhārā, sedang ia tinggal untuk memperdalam ilmu di kota suci Makkah.

Kesungguhan dan keseriusan ditunjukkan Imam Al-Bukhārī dalam setiap langkah studinya menuntut ilmu. Ketika itu Makkah dan Madinah menjadi objek wisatanya dalam mengembangkan keilmuannya. Oleh karena itu, di umurnya yang ke 18 tahun Imam Al-Bukhārī telah menghasilkan 2 karya ilmiah, yaitu pertama: kitab qadhāya al-shahābah wa al-tābiīn wa aqāwīlihim (biografi sahabat nabi, tabi’īn serta fatwa-fatwa mereka) kedua: kitab al-tārīkh al-kabīr yang ditulisnya di samping kuburan Rasulullah ﷺ .

Setelah menuntut ilmu di dua kota suci selama 6 tahun, Imam Al-Bukhārī melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu ke kota-kota islam lainnya yang menjadi markaz ilmu dan ulama di zaman itu. Imam Al-Bukhārī mendatangi kota syam, baghdād, mesir sekitar dua kali. Kemudian ke kota bashrah sekitar empat kali, dan saking seringnya ke kūfah ia lupa berapa kali mendatanginya, lalu ke naisabūr, juga ke rai.

Kesungguhan Imam Al-Bukhārī dalam menuntut ilmu sulit ditandingi, siangnya adalah waktu baginya menghadiri majlis-majlis ilmu dan menziarhi guru-guru besar yang ada di kota yang disinggahi, malamnya adalah waktu muraja’ah dan menulis hadīṡ-hadīṡ yang beliau telah hafalkan dari guru-gurunya.

Muhammad bin Yūsuf al-Farabrī dan Muhammad bin Abī Hātim al-warrāq (mereka termasuk murit Imam Al-Bukhārī) pernah menyaksikan Imam Al-Bukhārī di malam harinya, ia selalu terjaga dari tidurnya, kemudian ia menyalakan lampu untuk menuliskan hadīṡ-hadīṡ yang sedang dimuraja’ahnya. 

Dua bagian ini semoga menambah wawasan kita tentang siapa Imam Bukhari yang sering kita dengar namanya diucapakan ketika para Da’i atau muballigh menyampaikan ceramahnya. Semoga dua bagian ini membuat kita lebih semangat lagi dalam memperlajari hadits Nabi kita yang mulia, seperti semangatnya dan kesungguhnannya imam bukhari dalam belajar dan mencari ilmu.

Insya Allah selengkapnya tentang biografi Imam Bukhari akan kita baca pada edisi mendatang.

Oleh Ust. Surahman Yatie, Lc
(Lulusan Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, Dosen STIBA Makassar, dan Anggota Dewan Syariah WI)

Berita sebelumyaYPWI Resmi Tetapkan Direktur Pondok Pesantren Abu Bakar Ash-Shiddiq Anabanua Wajo Periode 2021 – 2025
Berita berikutnya7 SYARAT KALIMAT TAUHID

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here