siwak

Dibolehkan (rukhsoh) bagi orang yang berpuasa bersiwak setelah zawal/tergelincir matahari, bahkan dianjurkan dalam segala kondisi. Sebagaimana dalam hadits-hadits tentang keutamaan dan anjran bersiwak. Sebagaimana dalam hadits shahih lighairihi yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sungguh, aku telah diperintahkan untuk bersiwak. Sampai-sampai aku mengira akan ada ayat al-Qur’an yang diwahyukan kepadaku tentang hal itu” (Terj. HR. Ahmad, 22/3).

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai aku tidak khawatir menyulitkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka bersiwak setiap –akan-berwudhu”. (Terj. HR. Ahmad, No.9930).

Dalam riwayat Muslim berbunyi;“Andai aku tidak khawatir akan menyulitkan kaum Mu’minin, niscaya akan aku perintahkan mereka bersiwak setiap –akan-shalat”. (Terj. HR. Muslim)

Menurut Syekh DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah. Beliau berkata dalam Risalah Durus Ramadhan; Waqafat Lis Shaim, “Maka sepantasnya seorang Muslim senantiasa bersiwak setiap saat, khususnya pada waktu-waktu yang enam1 ini. Tentu ini berlaku di dalam dan di luar bulan Ramadhan. Sebab, pendapat yang benar adalah siwak disyariatkan kepada orang yang berpuasa sebelum tergelincir matahari (zawal) dan setelahnya. Sama persis seperi orang yang tidak berpuasa, karena perkataan Nabi, “setiap akan shalat” dan “setiap akan berwudhu” mencakup sebelum zawal2 dan setelah zawal.

Sumber: Diterjemahkan oleh Syamsuddin Al-Munawiy dari Risalah Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah.


1 Waktu enam yang beliau maksud adalah Ketika hendak (1) berwudhu, (2) shalat, (3) memasuki rumah, (4) membaca al-Qur’an, (5) memasuki rumah, dan (6) ketika bau mulut terasa berubah.

2 Zawal;tergelincirnya matahari. Sebelum zawal artinya sebelum dzuhur, setelah zawal setelah dzuhur. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here