Kesejahteraan (hasanah) dunia dan akhirat. Keduanya merupakan kandungan doa sapujagat yang menurut Sahabat Anas radiyallahu anhu, paling sering dipanjatkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Untuk mewujudkan itu, seorang Muslim didorong untuk berlomba-lomba dalam ibadah dan amal saleh. Agar optimal, dukungan tubuh yang sehat, serta material yang memadai juga diperlukan. Ambil contoh konkrit, rukun Islam yang kelima, ibadah haji. Tidak saja dibutuhkan kebugaran tubuh yang prima, tapi juga sejumlah dana yang cukup besar bagi sebagian orang.

Khusus mengenai tubuh yang sehat, dikenal olah tubuh panahan, renang dan berkuda dalam hadis-hadis Nabawi. Ketiganya memiliki nilai plus selain kebugaran jasmani, yaitu melatih ketangkasan dan manfaat beladiri saat diperlukan.

Selain olah raga dan istirahat yang cukup, untuk tubuh yang sehat, makanan sehat dan bergizi juga diperlukan. Alquran membahasakannya sebagai makanan yang halal dan thayyib. Halal materialnya, cara perolehannya, dan proses mengolahnya. Thayyib (baik) dari segi kesehatan berarti bernilai gizi yang cukup, memenuhi kebutuhan tubuh dan aktifitasnya, dan thayyib bagi yang akan mengonsumsinya. Bubur jagung jelas halal dan thayyib dari segi materialnya. Namun tidak thayyib untuk bayi yang baru bisa mengonsumsi air susu ibu. Dalam satu kesempatan, Nabi sallallahu alaihi wasallam melarang untuk sementara Ali bin Abi Thalib dari memakan buah Kurma. Apakah buah kurma haram dan tidak thayyib?? Bukan! Saat itu, justru kondisi kesehatan Alilah yang tidak thoyyib untuk mengonsumsi buah Kurma. Simpulannya, sebuah makanan yang secara material thoyyib, belum tentu thoyyib untuk setiap orang dalam semua kondisi. Garam adalah thoyyib. Namun untuk mereka dengan risiko tekanan darah tinggi, kadar berlebih tentu tidak lagi thoyyib. Madu juga baik, bahkan dianjurkan. Nilai gizinya sangat kaya. Namun untuk mereka dengan kencing manis, konsumsi madu perlu diatur sedemikian rupa, agar kadar gula darah ybs tidak berlebih. Nasi putih adalah makanan pokok masyarakat Nusantara umumnya. Konsumsi berlebih juga membuatnya tidak lagi thoyyib. Minum air putih secara berlebihan sekalipun, yang akhirnya memaksa ginjal mengeluarkan mineral tubuh yang sebenanya dibutuhkan, kehilangan nilai thoyyibnya.

Saat Iedul Adha, kaum Muslim yang mampu secara material tentu akan antusias untuk menunaikan ibadah Qurban sebaik mungkin. Yakni dengan menyembelih Kambing, Sapi atau Kerbau; dan Unta di negeri-negeri Timur Tengah. Yang unik, daging hewan-hewan Qurban ini, oleh para ahli gizi digolongkan sebagai daging merah. Disebut daging merah karena jenis daging ini memiliki lebih banyak myoglobin, sehingga tampak lebih merah. Secara umum, hanya ikan dan ayam yang termasuk sebagai hewan berdaging putih.

Keistimewaannya, daging secara umum merupakan sumber protein tertinggi, dengan kandungan fraksi yang lebih lengkap dibanding sumber tumbuhan. Protein dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan sel dan jaringan baru, yaitu otot, kuku, rambut, dsb.; termasuk untuk sistem pertahanan tubuh dan reproduksi. Sehingga juga terutama penting pada masa pertumbuhan, hamil dan penyembuhan penyakit.

Daging merah kaya dengan zat besi, yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah, dan pembentukan DNA. Kekurangan zat ini akan meningkatkan risiko anemia. Sebagai gambaran, dua pertiga penduduk dunia, menurut sebuah laporan, menderita anemia. Akibatnya, daya konsentrasi dan kekebalan tubuh dapat menurun. Selain protein dan zat besi, daging merah juga kaya dengan seng. Zat ini dibutuhkan untuk kekebalan tubuh terhadap infeksi, kepekaan terhadap rasa dan bau, juga kesehatan kulit.

Vitamin A, B dan D juga banyak dikandung oleh daging merah. Vitamin A penting untuk kesehatan mata, kulit, rambut dan gigi. Ia juga dibutuhkan untuk pembentukan hormon, serta kesehatan jaringan saraf. Untuk kekuatan tulang tubuhnya, manusia membutuhkan sejumlah vitamin D yang cukup. Vitamin B, selain penting untuk menghasilkan energi untuk aktifitas sehari-hari, juga penting untuk pembakaran tubuh. Fungsi normal saraf, otot dan jantung juga membutuhkan vitamin ini.

Di samping kesemua keistimewaan tersebut, statistik juga menunjukkan konsumsi daging merah (baca: dalam kadar & proses olah yang tidak thoyyib) yang dianggap memiliki hubungan dengan risiko penyakit jantung koroner, stroke, kanker dan kencing manis. Untuk tetap thoyyib, pilihlah bagian daging yang lebih rendah kadar lemaknya, atau potong dan lelehkanlah bagian gajih daging dengan cara  merebusnya sebelum diolah lebih lanjut. Hindari cara olah yang membuat daging gosong, atau bagian yang gosong tidak perlu dimakan.

Konsumsilah air putih, buah dan sayuran yang lebih banyak. Karena teksturnya yang keras dan rendah serat, daging juga hendaknya dikunyah hingga benar-benar halus sebelum ditelan dan memasuki usus. Hal ini terutama dikaitkan dengan risiko sembelit dan kanker usus besar yang lebih tinggi pada masyarakat dengan konsumsi daging yang lebih banyak. Sisa pembakaran protein oleh tubuh juga memerlukan konsumsi air yang lebih banyak untuk pembuangannya. Untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner, tambahan garam serta olahan santan dan minyak bisa dibatasi. Rempah tertentu juga dikenal dapat membantu menurunkan risiko dimaksud. Masyarakat kita dikenal ahli dalam meramu dan memilih rempah yang tepat; sekaligus terbukti dapat mengurangi risiko penyakit akibat konsumsi daging berlebih. Bawang putih dan bawang merah, kencur, sereh, jeruk nipis, dan ketumbar; adalah rempah-rempah yang dikenal dapat mengurangi risiko hipertensi, sembelit, diabetes dan penyakit jantung koroner.

Volume konsumsi daging hendaknya tidak berlebihan. Menurut anjuran ahli gizi, seperempat piring lauk sumber protein adalah jumlah yang mencukupi untuk satu porsi makan. Bukankah agama telah menganjurkan mereka yang berqurban untuk berbagi (baca: bersedakah & memberi hadiah)? Secara tersirat, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi secara berlebihan dan melebihi kebutuhan. Agama juga menentukan usia minimal untuk hewan qurban. Hikmahnya, untuk memenuhi kelayakan gizi dan kecukupan berbagi. Wallahu a’lam

Oleh dr. Ihsan Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here