Berbuatlah Apa Yang Dapat Kamu Perbuat
(Al Khansa’)

Berbuatlah apa yang dapat kamu perbuat
Ketika laras senapan meretakkan tulang-tulang
Ketika anjing-anjing samir merobek kehormatan
Ketika dengan batu dan iman kami bertahan
Ketika timah panas melenyapkan kesadaran
Sedang apakah kalian, sedang apa?
Sedang apakah kalian, sedang apa…….?

Sudahkah kau dengar tentang saudaramu di bumi Palestin? Setelah musuh Allah meluluh lantakkan Afgan dan Irak, kini mereka beralih ke Libanon. Sementara Palestin dari dulu tak pernah merdeka. Tanah suci umat Islam itu dijadikan alasan tuk menggempur Libanon. Mereka mengobrak-abrik negeri muslim dengan 1001 alasan, tanpa malu, tanpa sungkan, tanpa berperi kemanusiaan. Walaupun selama ini mereka meneriakkan yel-yel hak asasi manusia, tapi itu ketika mereka terdesak. Namun ketika mereka berkuasa, tak ada HAM!, yang ada hanya menumpahkan darah kaum muslimin sebanyak-banyaknya demi mewujudkan impian dan obsesi mereka menjadikan seluruh dunia tunduk dan takluk kepada mereka.  Jangan heran! Karena Robb kitapun telah mengabarkannya. Dia telah membuka rahasia orang-orang itu, para musuh Allah yang senantiasa berupaya tuk menghancurkan agama ini. Jangan takut! Karena musuh Allah pasti kan binasa juga. Kemenangan kan jadi milik kita. Kemenangan yang hakiki walau orang-orang kafir itu benci, walau orang-orang musyrik itu dengki.

Konspirasi musuh-musuh Allah telah begitu dekat dan nyata. Kaum muslimin di belahan dunia sana tengah menjadi santapan senjata para musuh Allah. Mungkin sebentar lagi kita yang akan jadi korbannya. Yaitu ketika kita masih biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Kita tutup mata dan telinga karena merasa itu bukan urusan kita.Masihkah kita berpangku tangan? Masihkah kita hanya berkutat dengan 1001 persoalan pribadi kita, yang kalau dituruti tentu takkan pernah ada habisnya.

Kaum muslimin ibarat satu tubuh, kata Rosulullah, ketika sebagian tubuhnya sakit maka yang lain akan ikut merasakannya. Apakah kita sudah seperti itu? Apa yang telah kita lakukan untuk saudara-saudara kita yang ada di sana? Mungkin terlalu naif bagi kita ketika kita ingin menjadi tenaga sukarelawan untuk berjihad di sana. Sementara angkat senjatapun kita tak pernah. Mungkin kaum perempuan ada juga yang ingin  membantu sebagai tim kesehatan sementara membalut lukapun masih belepotan. Jangan terlalu banyak berfikir, apalagi menghayal! Sesungguhnya banyak yang bisa kita perbuat ditempat ini meskipun kita tak harus kesana. Antara lain; segera amalkan ilmu yang kau dapatkan selama ini menjadi sebuah wujud nyata dalam perjuangan ini. Bergabunglah bersama jama’ah dari kaum muslimin untuk sama bergerak dan berjuang untuk perbaikan ummat. Jangan tunda waktumu! Kita adalah orang-orang pilihan yang telah diberi hidayah oleh Allah,jangan nikmati sendiri hidayah itu. Bagilah kepada orang-orang yang kau cintai dari keluarga, tetangga, teman dekat dan siapa saja begitu ada kesempatan. Jangan buang waktumu, menunggu dirimu jadi seorang ‘alim seperti ustadz atau syaikh baru kemudian kau amalkan ilmumu. Bergeraklah dan berjuanglah. Sesungguhnya perjuanganmu ada di hadapanmu.  

Sungguh memprihatinkan! Ketika di sana saudara kita  mempertaruhkan nyawanya  dengan ikhlas ataupun terpaksa. Dalam kancah peperangan yang menelan korban tak pandang bulu. Kita disini tak ada yang mau ketika diminta menjadi sukarelawan di Aceh, Sinjai, Jogya dll. Atau sangat sedikit jumlahnya, atau itu-itu saja. Padahal di daerah itu yang dibutuhkan hanya tenaga dan fikiran kita saja. Kita lebih memilih duduk tenang dimasjid sambil mendengarkan talim daripada membantu saudara kita yang kehilangan rumah, harta, bahkan sebagian anggota keluarganya. Terlalu banyak yang kita pertimbangkan; kuliah, kantor, keluarga, pekerjaan dll. Bagaimana jika sekiranya kita yang kena musibah? Adakah waktu kita untuk berfikir?

Atau relakah kita ketika orang yang pertama menolong saudara kita adalah para misionaris? Yang memancing di air keruh, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dan membuat hati saudara kita yang sedang lemah menjadi goyah aqidahnya?

 Saudaraku! Apa yang ada difikiran kita saat itu? Apakah kita akan terus saling mengharap? Sampai kapan kita seperti ini? Apakah kita selalu berharap ada mereka, orang-orang yang memang bertugas untuk itu? Siapakah mereka itu? Pernahkah kita merasa telah menggaji mereka sehingga kita berharap mereka yang selalu bekerja dan berbuat untuk ummat ini? Apakah kita kurang sadar jika saat ini kita butuh mujahid-mujahid sejati? Yang tidak selalu hanya berhayal dan berhayal, kapan ada perang saya akan ikut berjihad? Saya hawatir kita nantinya malah hanya kan menjadi orang lemah atau pinggiran yang tidak tahu apa-apa. Hanya menurut dan mengekor pada orang lain tanpa punya inisiatif. Atau bahkan nyali kitapun kan ciut dan lari ke balik dinding kelambu dan selimut walau ada harimau yang siap menerkam kita. Karena mental kita mental berharap. Selalu berharap ada orang lain yang mau bekerja.

Saudaraku! Kita semua sama, semua harus bekerja. Semua harus berjuang untuk membela Agama ini. Apapun bentuk perjuangan itu. Laksanakanlah, bantu saudaramu yang lain dalam bekerja. Sebahagian bahkan ada yang sampai tak tidur, atau bekerja dari pagi sampai malam. Atau ada yang bahkan terpaksa menggunakan manajemen tukang sate karena memang tak ada orang lain yang bisa membantu. Dan diri kita sendiri bagaimana? Masihkah kita enggan mengamalkan ilmu tarbiyah dan ta’lim kita dalam amal jama’i? Jika demikian ini adalah suatu kegagalan dalam tarbiyah dan ta’lim kita. Patut bagi kita untuk bercermin; apa motivasi kita dalam belajar. Hanya sekedar belajar? Tanpa bisa mengamalkan dan memberikan andil dalam kebangkitan Islam ini?

Bergegaslah saudaraku! Kita yang butuh pada perjuangan ini. Beramallah, berbuatlah untuk ummat dan bekerjalah! Sesungguhnya Allah, malaikat dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu. Apa yang kau berikan untuk kembalinya Izzul Islam wal Muslimun?. Masih ada kesempatan. Bergabunglah bersama jama’ah dalam beramal dan bekerja. Allah menyukai orang-orang yang berjuang dalam barisan (shaf) yang rapi.  

Saudaraku, ketika kita tak bergerak dan berjuang, Allah kan memilih yang lain. Akan ada manusia lain pilihan Allah yang akan berjuang. Karena perjuangan ini takkan pernah berhenti. Namun masihkah kita punya nurani? Ketika saudara kita dibebani berjuta pengorbanan namun kita malah memilih kesenangan? Angkat wajahmu lihatlah ke depan. Bukalah matamu dan bersihkan hatimu. Berbuatlah! Apa yang dapat kau perbuat? Sepenggal nasyid di atas semoga menggugah perasaan.(Al Khansa’, Rajab 1427 H)

Artikulli paraprakKhadijah Binti Khuwailid Radhiyallahu Anha
Artikulli tjetërRamadan Bulan Al Quran

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini