waktu

Apa kita pernah merasa dipelonco oleh waktu?
Sepertinya baru beberapa hari yang lalu kita berlari-lari di halaman sekolah sebagai anak sekolah dasar bermain petak umpet dan mengeja perkalian pembagian lalu tiba-tiba kini setumpuk tugas makalah perkuliahan dibanting didepan kepala kita menyeret seluruh ruas akal dan pikiran. Atau anda yang sudah menyempurnakan setengah agama , bukankah kini anda melakoni detik menit dengan pekerjaan yang tak kunjung tuntas.Selalu ada yang baru saat yang sebelumnya belum selesai ditunaikan.Atau saat anda menatap anak anda yang sudah memberi cucu padahal anda seperti baru saja duduk diatas pelaminan sebagai seorang pengantin.

Atau apapun anda saat ini,dimanapun dengan segala beban hidup yang kita pikul.

Sejurus saat kita mulai mengingat-ingatnya maka kita menemukan bahwa waktu tidak pernah sama sekali peduli pada siapapun.
Betapapun indahnya anda beralasan.Ia tuli mendengarnya. Dan terus saja berlalu.Entah apa yang dia kejar.

Dan barulah kita tersadar ketika menatap satu dua buah keriput di wajah atau tatkala melihat angka usia kita.

Manusia memang selalu tidak suka pada hal-hal sulit.Maka apabila sudah berbentur dengan waktu yang juga begitu kejam itu jadilah sebagian besar memilih untuk mengalah saja.

Membiarkan ingatan dan pengelihatan semakin redup, beban hidup terus bertambah,dan pepohonan semakin menua sementara ia selalu memilih berada di zona orang-orang kalah.
Tentunya kalah dengan waktu !

Duhai, Maha benarlah Allah bahwa semua manusia itu adalah rugi.Bukan karena ia tak diberi peruntungan tapi ia yang meninggalkan dirinya sendiri pada kerugian.

Betapa banyak sudah orang-orang yang kulitnya mengkriput dan matanya merabun tersapu zaman begitu saja sebab ia hanya sibuk tertidur di masa mudanya sambil mengigau pula.

“Ah, biarlah .. sudahlah…memang sudah suratan”

Apa?
Dari mana ia tahu bahwa itu suratan?
Apa ia telah diberi kemampuan melihat masa depan?
Bukankah ia masih bisa tidur dan mengeluh mengapa ia tidak bisa berjalan dan berlari ataukah sekedar terduduk dan merenungi nikmat Allah ?

Terlalu sulit berbicara pada orang-orang semacam ini, mereka seakan lebih tahu dari Pencipta bahkan tidak sedikit yang hanya bisa menggerutui Allah sepanjang hayat.Hanya karena senoktah kekurangan yang sebenarnya bertimbun kelebihan dan karunia.

Maka sekali lagi orang-orang ini bukanlah dipilih oleh kerugian tapi ia yang memilihnya sendiri.

Saatnya melihat kedalam diri kita.

Apa saat ini anda berniat bersama orang-orang ini ?

Atau kesinilah saya ajak anda melihat kepada orang-orang tua berjanggut di mimbar sunnah sana yang kakinya melemah tapi suara dan kealimannya melampaui benua.Yang bait-baitnya menggetarkan tanah-tanah gersang.Atau yang jasadnya sudah terkubur tapi karyanya diwariskan sepanjang bumi.

Begitu pula mereka hanya sibuk memperbaiki generasi.Meniupkan nafas-nafas kebaikan dan kebenaran pada para pemuda.Sebagaimana dulu ia juga pernah duduk ditempat itu.Sebagaimana ia bahkan setiap hari berperang dengan waktu.Menjadi orang-orang yang tak mau mengalah dengan kekejaman yang dihadirkannya.

Ia bahkan mengajak waktu menjadi sahabat walau harus terluka disana-sini.Menahan cemohan dan cercaan bahkan dari mereka yang gemar menggerutui Allah itu.

Bukankah hakikat kehidupan itu ada pada akhirnya?
bukan saat kita memulainya.

Merekalah yang selalu memprasangkai Allah dengan sebaik-baik prasangka.

Anda tahu ?
Orang-orang tua itu melewati masa mudanya tidak di mall-mall, tidak di bioskop-bioskop,atau tempat-tempat kesenangan shahwat manusia, bukan juga dengan tidur sepanjang hari lalu terbangun hanya ketika ingin bergerutu pada Allah.Tidak sama sekali.

Mereka pernah muda seperti semua manusia , mereka juga berhasrat sebagaimana yang lainnya , mereka juga pernah terjatuh seperti kita terjatuh. Tapi kenapa mereka bisa disana dan kita menyebutnya dengan seorang ‘Alim ?

Setelah taufiq Allah maka mereka adalah manusia yang tak sedikitpun mau dikalahkan oleh waktu !

Mengeja sejarah mereka seperti mengumpulkan berlian.
Tersebutlah nama-nama yang bercahaya sepanjang peradaban.Sebagai bentang jalan bagi kita menatap kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita mengenal seorang Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sahabat yang mulia periwayat hadits terbanyak kurang lebih lima ribu hadits melekat di kepalanya.Setiap hari tidur dikolong masjid yang sehari bisa mengisi perut dan dibanyak hari kelaparan.Walaupun bukan termasuk sahabat yang mengikuti Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam sejak awal kenabian bahkan ia hadir di penghujungnya tapi ia menjelma seorang sahabat yang merawikan hadits paling banyak.

Setelah taufiq Allah maka ‘azzamnya lah yang menghantarkannya pada puncak prestasi yang demikian.Ia sama sekali tidak pesimis apalagi minder dengan keterlambatannya.

Lalu kita mengenal Imam para Muhadditsin sejak zamannya hingga kini Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah atau Imam Al Bukhari rahimahullah berkisah tentangnya kita akan dibawa pada terik siang gurun yang membakar dan dingin malam yang menusuk saat ia berkelana mengumpulkan hadits dari suatu negeri ke negeri lain meski ia benar-benar dikarunia kecerdasan yang teramat sangat , muridnya malah melihatnya senantiasa terjaga sepanjang malam membersamai setumpukan hadits-hadits yang berjumlah ribuan itu.

Sang Imam telah berabad lamanya berkalang tanah tapi kita seakan masih terang benderang menyaksikannya menuturkan hadits-hadits yang mulia melalui karyanya yang masyhur dikenal sebagai Shahih Al Bukhari. Yang oleh semua ahli ilmu dikatakan kitab yang paling shahih setelah Al Qur’an Al Karim.

Kita pasti tidak akan lupa dengan sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berfatwa sejak usia 18 tahun beberapa menyebutkan 17 tahun.Itu bukanlah terjadi tiba-tiba tapi karena sejak belianya beliau tidak pernah tertarik pada permainan.Kesenangannya hanya ada pada ilmu.Hingga ia dewasa dan menjadi seorang Syaikhul Islam.

Yang membencinya tidak lain adalah mereka yang khawatir akan kekuatan Islam yang dibawanya.Ia lalu dipenjarakan.Tapi tidak lantas kehilangan ghirahnya.Ia menuntaskan karyanya justru dibalik jeruji penjara.

Sederet nama-nama yang menyebutnya saja bisa menghentak hati itu adalah manusia yang sekali lagi tidak pernah kehabisan energi untuk mengejar kebaikan,mempertahankan iman dan hidayah, tidak mau diolok-olok oleh waktu,mereka tegak menghadangnya dengan petualangannya mencari ilmu atau ibadah yang menjadi pondasi keistiqamahan.

Ah..tapi engkau beralasan lagi,

“mereka-mereka itu levelnya terlalu tinggi…”

Jika mereka terlampau tinggi maka mari kita palingkan wajah menengok pada serendah-rendah derajat yang dimiliki manusia.Supaya engkau paham.

Mereka disana telah beranak cucu sejak ribuan tahun lalu mewariskan pemikiran dan kelakuan paling rendah, dengan penuh keuletan dan kesabaran.Apa kau bisa bayangkan betapa rapinya mereka mengajarkan pemikiran itu selama berabad-abad ? Tentu karena iblis jualah yang selalu mempertahankan kesetiaan mereka.

Mereka disana dengan kakek moyangnya yang Yahudi.
Abdullah bin Saba’ akunya.Orang ini sudah terlalu banyak menimbun kerendahan. Ia terlalu serasi dengan yang difirmankan Allah ‘azza wajalla ;

” Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (QS : An-Nisa : 145)

Anak- anak cucunya yang muncul di zaman moderen ini selalu mengaku pecinta ahlul bait tapi justru oleh sejarah dicatat sebagai pembunuh Husein bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma.Sungguh sangat mengherankan.

Mereka rupanya juga tak hendak dikalah oleh waktu. Sepanjang zaman mereka memupuk ketelitian untuk menikam kebenaran dari para pembawa sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menghasut manusia dengan elus-elus dusta begitupun mereka tak membiarkan waktu pergi tanpa ada mangsa.

Kini sepertinya mereka mulai keluar dari persembunyiannya perlahan tapi pasti mereka mulai menanggalkan topeng-topengnya karena mereka mengira mereka sudah memenangkan waktu.

Yah, mereka benar-benar juga beradu dengan waktu tapi dengan maksud yang lain yakni memadamkan cahaya iman yang telah dihampar disegala penjuru dunia ini dengan menutup segala wasilahnya.Siapa lagi wasilah tersebut jika bukan mereka para penegak sunnah.

Lalu engkau mulai mengerti maksudku sekarang ??

Jika saja kerendahan semacam itu bisa mereka pertahankan dalam kurun abad lalu kenapa kau tak mau beranjak dari kemalasanmu sebagai bukti bahwa kau tak sudi kalah pada mereka ?!

Sudah hilangkah urat malu?

Walau kita mungkin tidak akan sampai pada ketinggian Ilmu para Salaful Ummah itu tapi kita masih bisa menyinggahi majelis yang dimana kitab mereka dibacakan dan dikaji, kita masih bisa membaca buku-buku warisan mereka yang telah diterjemahkan oleh para ahli bahasa, kita masih selalu bisa memperbaharui semangat kita, kita masih punya kesempatan ! .

Dan begitu banyak rentetan hal yang selalu terbuka lebar untuk kita ikhtiarkan.Selalu kita harus memulainya dengan Ilmu.Al Qur’an dan As-Sunnah.

Jika tidak dari sekarang engkau memulainya maka bukan hanya waktu yang akan menindasmu mereka yang kusebut serendah-rendah manusia itu juga akan mengolok-olok kejahilanmu.Bahkan mereka sudah bersiap melenyapkan mu sia-sia.

Maka tuntutlah ilmu sejak hari ini, kencangkan ikat pinggangmu bersama Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ingatlah nama-nama harum pendahulu kita radhiallahu ‘anhum ajma’in yang selalu berlomba dengan detik membawa cahaya sunnah keseluruh alam.

Jangan membuat mereka kecewa atas kelakuan kita hari ini.

Saatnya kita beradu dengan waktu !

Nafisah M.Ikhwan
Dari Negeri Dua Nil
Khartoum , Sudan

Artikulli paraprakMUI: Ummat Tidak Mungkin Diurusi Oleh Satu Ormas Saja
Artikulli tjetërSMP IT Al Wahdah Bombana: Perpaduan IMTAQ dan IPTEK bukan sekedar wacana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini