Bismillah.

Dalam satu hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa ada 70 ribu manusia yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Sifat-sifat mereka sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

يدخل من أمتي الجنة سبعون ألفًا بغير حساب، هم الذين لا يسترقون، ولا يكتوون، ولا يتطيرون، وعلى ربهم يتوكلون

“Akan masuk surga 70 ribu orang dari umatku tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak menggunakan pengobatan kay dan tidak melakukan tathoyyur (sejenis peramalan dengan melihat burung), hanya kepada Allah mereka bertawakal”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini menjelaskan bahwa yang tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang berhak masuk surga tanpa hisab adalah orang-orang yang meminta ruqyah, bukan orang-orang yang meruqyah ataupun di ruqyah. Bahkan, jika seseorang memiliki hajat untuk meminta ruqyah maka ia masih berhak untuk mendapatkan keutamaan masuk surga tanpa hisab.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

لا يسترقون يعني: ما يطلبون من يرقيهم، ولا يكتوون، وليس معناه تحريم هذا، لا بأس بالاسترقاء ولا بأس بالكي عند الحاجة إليهما، ولكن من صفاتهم ترك ذلك والاستغناء بالأسباب الأخرى، لا يطلبون من يرقيهم، ما يقول: يا فلان ارقني، ولكن إذا دعت الحاجة لا بأس، لا يخرجه ذلك إذا دعت الحاجة عن السبعين، ولهذا أمر النبي ﷺ عائشة أن تسترقي في بعض مرضها.

Tidak meminta ruqyah maksudnya tidak meminta pada orang lain agar ada yang meruqyah mereka dan tidak melakukan pengobatan dengan pengobatan kay. Mereka mencukupkan diri dengan sebab kesembuhan yang lain dan tidak meminta ruqyah. Misalnya, seseorang berkata, “Wahai Fulan, ruqyahlah aku”. Hanya saja, jika ada hajat untuk meminta ruqyah, maka tidak mengapa untuk melakukannya dan hal itu tidak mengeluarkan pelakunya untuk mendapatkan keutamaan 70 ribu orang yang berhak masuk surga tanpa hisab. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyuruh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha”. (Ad-Durar ats-Tsariyyah Min al-Fatawa al-Baziyah: 92)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

ولم يأمر الله قط مخلوقا أن يسأل مخلوقا وإن كان قد أباح ذلك في بعض المواضع، لكنه لم يأمر به، بل الأفضل للعبد أن لا يسأل -قط- إلا الله، كما في الصحيحين في صفة الذين يدخلون الجنة بغير حساب “هم الذين لا يسترقون، ولا يكتوون، ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون” فجعل من صفاتهم أنهم لا يطلبون من غيرهم أن يرقيهم، ولم يقل: لا يرقون، وإن كان قد روي في بعض طرق مسلم فهو غلط؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم رقى نفسه وغيره، لكنه لم يسترق، فالمسترقي طالب للدعاء من غيره، بخلاف الراقي غيره فإنه داع.

“Allah tidak pernah memerintahkan makhluk untuk meminta pada makhluk lainnya, walaupun membolehkan hal itu pada beberapa keadaan, tapi itu tidak diperintahkan. Yang utama bagi seorang hamba adalah tidak meminta kecuali hanya kepada Allah saja. Sebagaimana disebutkan dalam dua kitab sahih (Bukhari dan Muslim) mengenai sifat orang-orang yang masuk surga tanpa hisab yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah dan orang-orang yang tidak melakukan pengobatan kay serta tidak melakukn tathoyyur. Mereka hanya bertawakal kepada Allah. Sifat mereka yaitu tidak meminta ruqyah kepada selain mereka, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mengatakan, “Tidak meruqyah” walaupun ada beberapa riwayat dari imam Muslim dengan menyebutkan kata “Tidak Meruqyah” hanya saja riwayat dengan tambahan kata “Tidak meruqyah” itu salah. Sebab Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam pernah meruqyah dirinya dan orang lain. Tapi beliau tidak pernah meminta ruqyah. Meminta ruqyah itu sama dengan meminta pada orang lain untuk mendoakannya. Adapun meruqyah orang lain maka dia yang berdoa”. (Iqtidhau ash-Shirath al-Mustaqim: 375)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

فإن قيل: فعائشة قد رقت رسول الله صلى الله عليه وسلم وجبريل قد رقاه

قيل : أحل، ولكن هو لم يسترق وهو صلى الله عليه وسلم لم يقل : لا يرقيهم راق وإنما قال لا يطلبون من أحد ان يرقيهم

“Jika dikatakan bahwa Aisyah dan Jibril pernah meruqyah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, maka katakan bahwa itu benar, tapi Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memintanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak mengatakan, “(sifat yang masuk surga itu) tidak diruqyah orang lain, akan tetapi beliau mengatakan bahwa mereka tidak meminta ruqyah”. (Hadiyul Arwah Ila Biladil Afrah: 1/269)

Dari sini dipahami bahwa maksud hadits tentang sifat-sifat mukmin yang masuk surga tanpa hisab adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah atau doa pada orang lain, kecuali ada hajat yang sangat mendesak untuk meminta ruqyah. Mereka lebih menguatkan tawakalnya kepada Allah Azza wajalla.

Mengenai hadits yang menyebutkan kata “melakukan ruqyah” maka tambahan itu salah sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di atas.

Sedangkan orang yang berobat dengan ruqyah maka Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata:

ومن رجح التداوي قال: إنه حال النبي صلى الله عليه وسلم الذي كان يداوم عليه وهو لا يفعل إلا الأفضل وحمل الحديث على الرقى المكروهة التي يخشى منها الشرك بدليل أنه قرنها بالكي والطيرة وكلاهما مكروه

“Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang terkena penyakit, apakah yang lebih utama baginya berobat atau tidak….. Para ulama yang merajihkan bahwa berobat lebih utama, karena demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, beliau senantiasa berobat tatkala sakit. Beliau tidaklah melakukan sesuatu kecuali yang paling utama. Para ulama memahami hadits ruqyah itu dengan jenis ruqyah yang makruh. Dalilnya adalah Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ruqyah itu bersama dengan pengobatan kay dan thayrah sedang keduanya makruh. (Jami’ul Ulum Wal Hikam: 489-490)

Wallahu a’lam

Oleh Ustad Muhammad Ode Wahyu

Berita sebelumyaFiqih Sunnah Wanita: Thaharah ( Mensucikan Diri )
Berita berikutnyaKEUTAMAAN ZIKIR: “Dua Kalimat Ringan”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here