🌸 Hadiah terbesar yang diberikan kepada orang lain adalah nasehat, sebab itu nasehat wajib dibungkus dengan bingkisan yang indah, berupa kata-kata baik, lemah lembut, bijaksana, dan untai senyum kepada orang yang diberikan nasehat.

🌸 Dakwah tak akan sempurna kecuali harus dibekali terlebih dahulu dengan akhlak mulia, sebab itu Allah ta’ala menyempurnakan akhlak para nabi terlebih dahulu sebelum mereka diutus untuk berdakwah, sebab rintangan pertama dan utama bagi para dai adalah akhlak mereka sendiri, buah dakwah mereka akan berkurang sesuai dengan kekurangan akhlak mereka sendiri.

🌸 Kebenaran sangatlah agung, namun ia bisa dianggap enteng oleh manusia jika yang menyampaikannya hanya memiliki mulut yang kasar. Sebaliknya kesesatan bisa dianggap benar bila disampaikan dengan lemah lembut. Sebab itu, penyebaran kesesatan yang dibungkus dengan tutur yang lembut, bisa mengalahkan kebenaran yang begitu jelas dan nyata, sebab kelemah lembutan pasti akan menghiasi ucapan walaupun itu suatu kebatilan, dalam hadis “Tidaklah kelemah lembutan itu ditempatkan pada sesuatu kecuali ia menghiasinya”.

🌸 Kekuatan hujjah dan keabsahan dalil tidaklah cukup untuk bisa membuat manusia tertarik dengan dakwah ini, akan tetapi harus ditambah dengan cara hikmah dan lemah lembut, sebab walaupun hujjah Nabi kita adalah Al-Quran yang begitu kuat, dan penopang beliau adalah Malaikat Jibril yang begitu hebat, namun Allah ta’ala tetap memperingati beliau: “Sekiranya kamu bersikap keras (bertutur kasar) lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS Aali ‘Imran: 159)

🌸 Jangan sedih bila kita sebagai dai dituduh untuk mencari popularitas, dan kepemimpinan, sebab ia merupakan tuduhan yang pernah disematkan pada para nabi, simaklah tuduhan Kaum Nuh kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam: “Orang ini hanyalah manusia serupa kamu juga, yang ingin hendak melebihkan dirinya di atas kamu”. (QS Al-Mu’minun: 24).

🌸 Para penyebar kebatilan biasanya lebih banyak melakukan pencelaan dan pemburukan citra kebenaran daripada memperindah kebatilan mereka, karena memperburuk citra kebenaran lebih mudah daripada memperindah kebatilan, akhirnya banyak manusia yang mengikuti kebatilan tersebut bukan atas dasar keyakinan, namun hanya ingin lari dari kebenaran (yang telah dirusak citranya).

🌸 Para perusak dakwah lebih giat dalam mencela dan memperburuk citra para dai, karena menjatuhkan para dai, lebih mudah dan lebih bermanfaat daripada menjatuhkan hujjah dan dalil mereka, dengan sebab ini manusiapun lari dari dakwah sang dai ini walaupun kebenaran telah nyata dihadapan mereka. Dalam ayat: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Kami untuk menyihir Kami dengan keterangan itu, Maka Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu” (QS Al-a’raaf: 132)

🌸 Ciri orang bodoh adalah suka mencela demi menyembunyikan kebodohannya, sedangkan orang berilmu sangat menjauhi sikap mencela karena itulah konsekuensi keilmuannya, Sebgaimana Ucapan Nabi Musa dalam Al-Quran: ” Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (QS Al-Baqarah: 67)

🌸 Dakwah para nabi tidaklah selamat dari adanya celaan dan cemoohan manusia, barangsiapa yang dakwahnya tidak dirintangi oleh adanya celaan walaupun sedikit, maka dalam dakwahnya atau dalam dirinya terdapat kekurangan dalam meniti Manhaj Nubuwwah: ” Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya”. (QS Al-Hijr: 11).

Artikulli paraprakINSISTS: Myanmar Anggap Orang Rohingya Penduduk Ilegal
Artikulli tjetërAntara Orang Shalih Dan Mushlih – Untaian Tweet Syaikh Abdul’Aziz Al-Tharifi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini